7:18, March 3 2008 by Rahmat Mr. Power
Seringkali dalam menghadapi suatu masalah, kita merasa mentok dalam menyelesaikan masalah tersebut. Begitu juga saat kita ingin membuat rencana dalam mencapai tujuan, sering kali kita mentok dengan cara-cara atau ide-ide yang harus kita lakukan. Akhirnya karena kebingungan ini, seringkali menurunkan motivasi kita dan akhirnya membuat kita menyerah. (more…)
3:34, May 18 2007 by Rahmat Mr. Power
Sungguh indah cerita Tsabit dan Sebuah Apel, banyak hikmah yang bisa kita petik dari cerita ini. Akan sangat bermanfaat jika kita bisa mengambil hikmah tersebut dan menerapkan dalam kehidupan kita sehari-hari.
Hal yang pertama adalah kejujuran. Saat ini kejujuran begitu sulit ditemui. Kejujuran sudah menjadi barang langka, jangankan untuk mengembalikan atau menghalalkan sepotong apel, uang triliunan rupiah dibawa kabur sambil tidak ada niat untuk mengembalikannya. Atau untuk hal-hal “kecil” seperti menggunakan aset kantor untuk keperluan pribadi, sudahkah kita menghalankannya?
Yang kedua ialah keshalihahan seorang muslimah sejati. Ini juga sudah langkah. Saat ini kita begitu sulitnya menemukan seorang muslimah yang “buta, bisu, tuli, dan lumpuh” dari hal-hal yang diharamkan oleh Allah. Mungkin ada, tetapi begitu sulit menemukannya. Mungkin, bagi seorang laki-laki yang menginginkan muslimah seperti ini, setidaknya harus memiliki kejujuran yang dimiliki oleh Tsabit.
Dan yang ketiga ialah dampak dari sebuah transaksi dengan Allah. Tsabit setelah memakan setengah buah apel, terus mencari pemiliknya meskipun harus menempuh perjalanan sehari semalam. Suatu dampak akibat bertransaksi dengan Allah. Kemudian dia sanggup untuk menikahi anak pemilik kebun meskipun dikatakan bahwa putrinya tersebut buta, tuli, bisu, dan lumpuh.
Transaksi dengan Allah akan memberikan motivasi luar biasa kepada kita jika kita menyadari manfaatnya dari transaksi tersebut. yang jelas jika kita bertransaksi dengan Allah, kita tidak akan pernah rugi seperti dijelaskan dalam Al Quran,
Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi,(QS. Al Fathir:29)
Sudahkah kita melakukan transaksi dengan Allah? Sudah, bahkan sering diulang-ulang agar kita terus ingat, yaitu saat kita mengucapkan 2 kalimah syahadat. Jika kita memahami makna dua kalimah syahadat tersebut, kita akan tahu bahwa 2 kalimah tersebut adalah sebuah transaksi kehidupan kita dengan Allah yang sangat besar, melebihi transaksi kita di depan pengehulu, karena ini merupakan transaksi seluruh kehidupan kita.
Namun sayang, saya melihat banyak diantara umat Islam yang belum memahami makna sebenarnya dan lengkap dari 2 kalimah sahabat, mungkin baru sampai artinya saja, bahkan mungkin ada juga yang belum tahu artinya, dan yang paling parah, masih banyak yang membacanya saja masih salah. Mungkin inilah yang membuat motivasi bangsa ini begitu lemah, jangankan untuk berkontribusi kepada umat sebagai rahmatan lil’alamin, bahkan untuk diri sendirinya saja masih kurang.
5:03, April 30 2007 by Rahmat Mr. Power
Kita bisa belajar kepada Nabi Musa a.s. tentang arti kepercayaan diri sebenarnya. Coba simak ayat berikut,
Pergilah kepada Fir’aun; sesungguhnya ia telah melampaui batas. Berkata Musa: “Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku, (QS. Thaahaa:24-28)
Saat Nabi Musa AS ditugaskan oleh Allah untuk menghadap Fir’aun yang sangat berkuasa saat itu, nabi Musa AS memanjatkan do’a agar dia mampu menjalankan tugas dengan baik. Kemudian Nabi Musa AS berangkat menemui Fir’aun untuk menyampaikan risalah dakwahnya. (more…)
13:21, April 8 2007 by Rahmat Mr. Power
Allah menciptakan manusia dengan segala keterbatasan dan kelemahannya disamping kelebihan dan kekuatannya. Kita harus memahami keterbatasan dan kelemahan ini agar kita menyadari akan kelemahan kita dan mampu mengatasi kelemahannya tersebut dan menjadikanya kemuliaan.
Sebagai makkhluk, manusia lemah, manusia diciptakan dengan keterbatasan fisik dan akal. Fisik manusia tidak akan mampu menggerakan alam semesta ini dengan tenaganya, bahkan juga akal manusia dengan berbagai hasil teknologinya. Manusia sangat lemah dihadapan Allah sehingga diperlukan untuk meminta bantuan dan lindungan dari Allah SWT.
“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (QS.4:28)
Kelemahan manusia lainnya ialah bodoh. Seperti apa yang difirmankan Allah,
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh,” (QS.33:72)
Memikul amanat itu memerlukan ilmu dan pengamalan yang konsisten sehingga tidak mengkhianati amanat tersebut. Apabila manusia berilmu dan mampu mengamalkannya dengan istiqamah maka terlepas dari kezaliman dan kebodohan.
Oleh karena keterbatasan-keterbatasan tersebut, manusia meskipun memiliki berbagai kemuliaan, masih memerlukan Allah. Sungguh aneh jika ada manusia yang merasa bahwa ada urusan yang tidak memerlukan Allah, dengan kata lain tidak sejalan dengan apa yang digariskan oleh Allah. Padahal manusia itu lemah dan bodoh.
Sebagai makhluk lemah dan bodoh, sudah sewajarnya jika kita selalu meminta pentunjuk kepada Allah dan menjalankan semua petunjuk yang telah ada, yang telah tercantum dalam Al Quran dan dicontohkan oleh Rasul-Nya. Sungguh sombong manusia yang tidak memerlukan petunjuk-Nya atau mereka-rekanya sesuai dengan pikirannya sendiri.