|

Hikmah Dibalik Baju Perang Rasulullah

Mungkin sahabat semua ada yang pernah membaca tentang kisah Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam menggadaikan baju perang beliau. Namun bukan tentang itu yang dibahas disini. Namun hikmah dari memakaikan baju perang tersebut.

Saya belum menemukan sumber atau rujukan dari mana beliau mendapatkan baju perang. Namun yang jelas, berdasarkan hadist dibawah ini, saat perang Uhud beliau menggunakannya.

Ibnu Abu Umar menuturkan kepada kami dari Sofyan bin Uyainah, dari Yazid bin Khushaifah, dari as-Sa’ib bin Yazid, ia berkata,

Sesungguhnya Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam ketika perang Uhud mengenakan dua baju besi. Sungguh beliau memakai keduanya secara rangkap.” (HR. at-Tirmidzi, Abu Daud dan Ibnu Majah).

Bahkan menggunakan dua rangkap.

Apa hikmahnya?

Saya merenungkan beberapa hikmah. Tentu ini hasil perenungan saya. Jika benar itu datang dari Allah, jika salah itu adalah kekhilafan saya sendiri.

Hikmah Dibalik Baju Perang Rasulullah
Perpaduan teknologi mesin dan informasi untuk kemudahan transportasi.

Sebuah Ikhtiar Maksimal

Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam adalah manusia mulia yang paling disayang Allah. Do’a beliau pasti dikabulkan. Para malaikat bisa saja diperintahkan Allah untuk melindungi beliau.

Namun beliau tetap menggunakan baju perang. Untuk apa? Ya tentu sebagai ikhtiar untuk melindungi diri. Sebuah ikhtiar maksimal. Meski beliau tetap terluka saat perang Uhud, bisa jadi mendapatkan luka lebih parah jika tidak menggunakan baju perang.

Ini sebuah hikmah tentang arti kewajiban untuk ikhtiar. Kurang yakin apa beliau? Manusia paling tawakal, paling shabar, paling disayang Allah, namun tetap ikhtiar untuk melindungi diri.

Dan tentu, baju perang itu bukanlah sekedar baju, tetapi dibuat dari besi dengan tujuan melindungi diri saat berperang.

Dan telah Kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi untuk kamu, guna memelihara kamu dalam peperanganmu; Maka hendaklah kamu bersyukur (kepada Allah).” (QS. Al-‘Anbya’ [21] : 80)

Memanfaatkan Teknologi Untuk Kebaikan dan Kemenangan

Tentu saja bukan hanya baju perang yang dimiliki Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam. Beliau juga memiliki pedang, busur panah, tombak, dan peralatan perang lainnya.

Jika dilihat dari kacamata saat ini, mungkin itu adalah peralatan jadul, kuno, dan sederhana. Namun di masanya, itu adalah teknologi yang ada dan sangat bermanfaat. Jadi Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam menggunakan teknologi yang ada saat itu.

Selain menggunakan peralatan perang pribadi, Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam juga memanfaatkan teknologi arsitektur saat perang Khandaq.

Dalam buku Manajemen Strategi Peperangan Rasulullah SAW (2007) karya Yuana Ryan, disebutkan bahwa pasukan Muslim melakukan musyawarah sebelum Perang Khandaq untuk menentukan strategi. Akhirnya disepakati mereka menggali parit sesuai yang diusulkan Salman Al Farisi untuk menghadapi kekuatan besar musuh.

Strategi yang dijalankan pasukan Muslim itu terbukti efektif. Pada 31 Maret 627 M pasukan sekutu pimpinan Abu Sufyan tiba di Madinah dan langsung terkejut ketika melihat parit yang mengelilingi kota tersebut. Pasukan Abu Sufyan yang mengandalkan kavaleri (prajurit berkuda) tidak bisa berbuat banyak menghadapi parit buatan pasukan Muslim.

Tentu di zaman Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam, teknologinya belum semaju saat ini. Teknologi perang masih sederhana. Teknologi arsitektur masih sederhana. Teknologi pengobatan masih sederhana.

Namun, beliau dengan para sahabat tidak gaptek bahkan bisa memanfaatkan teknologi untuk kebaikan dan kemenangan umat Islam.

Bukankah ini mengandung hikmah bahwa seorang Muslim itu tidak boleh gaptek? Justru harus bisa memanfaatkannya untuk kebaikan dan kemenangan umat Islam. Termasuk di dalamnya teknologi informasi yang di dalamnya teknologi internet.

Bahkan, beberapa abad setelah meninggalnya Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam, kemajuan ilmu dan teknologi di tangan para ilmuan Muslim berkembang pesat.

Manfaatkan Teknologi yang Ada

Saya belum menemukan rujukan yang jelas, dari mana peralatan perang didapatkan kaum Muslimin saat zaman Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam. Dari berbagai riwayat, kita mengetahui adanya yang disebut rampasan perang. Mungkin sebagiannya adalah alat perang tersebut.

Mungkin sebagian ada juga yang dibuat sendiri. Tentu setelah memahami teknologi pembuatan senjata. Minimal teknologi pengolahan logam seperti besi dan tembaga. Sekali lagi, tidak gaptek.

Mungkin sebagian hasil rampasan perang. Bisa jadi yang membuatnya adalah kaum kafirin yang memerangi Umat Islam. Namun tidak masalah dari mana datangnya, tetapi saat sudah ada di tangan kita, manfaatkanlah untuk kebaikan dan kemenangan umat Islam.

Saat ini, memang teknologi dikuasi oleh negeri-negeri non Muslim. Ini harusnya menjadi cambuk bagi kita untuk kembali menguasai iptek seperti zaman keemasan dulu.

Namun, sambil kita berjuang untuk menguasai iptek, kita bisa memanfaatkan teknologi yang ada. Kemudian kita manfaatkan untuk kebaikan dan kemenangan umat Islam.

Sebagai contoh yang bersentuhan dengan kita sehari-hari. Misalnya kita belajar untuk memanfaatkan teknologi internet untuk dakwah, memotivasi umat, untuk membangun perekonomian umat melalui bisnis, dan sebagainya.

Kemampuan Teknologi Adalah Nikmat Allah

Kembali ke ayat Al Quran tadi:

Dan telah Kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi untuk kamu, guna memelihara kamu dalam peperanganmu; Maka hendaklah kamu bersyukur (kepada Allah).” (QS. Al-‘Anbya’ [21] : 80)

Kita diperintahkan bersyukur atas pengajaran dari Allah kepada nabi Daud as kemampuan membuat baju besi. Artinya kemampuan teknologi itu adalah sebuah nikmat. Yang patut kita syukuri.

Dan untuk meraih nikmat itu sudah sangat terbuka. Yang diperlukan adalah kita lebih memperhatikan alam dan lingkungan kemudian menggunakan akal kita.

Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi” (QS. Yunus [10]:101)

“Mereka tidaklah menjadi petunjuk bagi mereka (kaum musyrikin) berapa banyaknya Kami binasakan umat-umat sebelum mereka, padahal mereka berjalan (di bekas-bekas) tempat tinggal umat-umat itu? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal” (QS. Thaha [20]:128)

Penutup

Kadang kita mendengar ada yang mengatakan bahwa di akhirat tidak akan ditanya teknologi, matematika, fisika, kimia, dan sebagainya. Memang betul. Namun kita akan ditanya pelaksanaan dakwah kita atau kontribusi kita bagi Islam.

Dan salah satunya adalah pemanfaatkan teknologi untuk kebaikan dan kemenangan umat Islam. Kita mempelajari teknologi bukan tujuan. Seperti makan, bukan sebuah tujuan. Namun sebagai cara, ikhtiar, atau washilah untuk menjalankan salah satu perintah Allah, yaitu menjadi manusia yang terbaik yang bermanfaat bagi sebanyak mungkin orang.

Juga untuk berdakwah yang salah satunya memanfaatkan teknologi. Juga untuk membantu perekonomian umat. Semuanya adalah bagian dari dakwah.

Lalu kenapa harus memberikan perhatian besar terhadap teknologi? Karena teknologi mempengaruhi berbagai aspek kehidupan manusia. Jika kita ketinggalan di bidang teknologi (minimal dalam pemanfaatannya), maka ini bisa menjadi salah satu penyebab kekakalahan.

Idealnya, seorang Muslim itu harus menjadi pionir dalam teknologi. Yang terus menghasilkan teknologi yang bermanfaat bagi kemajuan umat dan manusia pada umumnya. Sambil berusaha, minimal kita tidak gaptek, tidak ketinggalan zaman, dan mampu memanfaatkan teknologi untuk kemajuan umat.


Kunjungi Juga:

Mau Umroh? Meski Anda Tidak Punya Uang dan Belum Siap?

2 Comments

    1. Perang Nabi SAW tentu untuk kemenangan dakwah Islam. Ada banyak perang yang terjadi, setiap perang kondisinya berbeda. Mungkin ada yang negosiasi, mungkin tidak. Silahkan baca Sirah Nabi untuk selengkapnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WordPress Anti Spam by WP-SpamShield