Bookmark di Yahoo Anda Agar Tidak Lupa. Klik Disini!
Powered by MaxBlogPress  

Seolah Tak Ada Ujung


Musibah baik yang datang kepada diri sendiri maupun yang datang kepada orang banyak seolah tidak ada ujung. Kadang seolah tidak ada jalan untuk keluar. Seolah memaksa kita untuk berputus asa. Seolah kita ditakdirkan untuk hidup dalam masalah selamanya. Betulkah? Mungkin betul, kita memang selalu ada dalam masalah, tetapi kenapa?

Yah, inilah bagian dari ujian yang diberikan Allah SWT kepada kita. Allah memang memberikan ujian kepada kita sebagai salah satu dari bentuk kasih sayang-Nya kepada kita. Ujian untuk menguatkan diri, untuk menghapus dosa kita, dan menguji kadar keimanan kita kepada-Nya. Ini adalah kehendak Allah yang tidak bisa kita tolak.

Hal yang terbaik yang harus kita pikirkan ialah bukan bagaimana agar terhindar dari ujian, tetapi bagaimana sikap kita dalam melalui ujian ini. Apakah kita menyikapinya dengan bersabar atau dengan berputus asa? Apakah kita mendulang pahala ditengah ujian atau mengumpulkan dosa? Ini yang harus kita pilih, sebab kita tidak bisa memilih agar tidak mendapatkan ujian.

Sahabat, dan juga diriku, bersabarlah. Lalui ujian dengan usaha yang keras, bersabar, dan memohon pertolongan Allah agar kita diberikan kekuatan dan kesanggupan dalam menjalani semua ujian yang diberikan kepada Allah sambil tetap menjaga keyakinan kita bahwa Allah tidak akan membebani kita diluar kemampuan kita. Seberat apa pun ujian kita, insya Allah kita bisa memikulnya.

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (QS. Al Baqarah :286)

Marilah, kita jadikan bulan Ramadhan yang sudah ada didepan mata sebagai sarana training untuk memperkuat diri kita dalam menghadapi dan menjalani semua ujian yang ada. Ramadhan juga merupakan sarana tarbiah terbaik yang diberikan kepada Allah agar kita menjadi orang yang unggul baik disisi Allah maupun di mata manusia. Dengan bulan Ramdhan, insya Allah kualitas umat Islam akan meningkat lagi. Amin.

Terima kasih telah membaca artikel kami. Semoga memberikan manfaat. Silahkan isi formulir dibawah ini untuk:
  • Komentar terhadap artikel ini
  • Pertanyaan seputar artikel ini
  • Usulan judul artikel untuk kami tulis diwaktu mendatang

Jika Anda mau meng-copy artikel ini untuk blog, website, ebook, atau mailing list Anda, kami persilahkan selama mencantumkan penulisnya dan link ke www.motivasi-islami.com (yang hidup/bisa diklik). Silahkan copy paste kode berikut dibawah artikel yang Anda posting:
<a href="http://www.motivasi-islami.com" target="_blank">Sumber: Motivasi Islami</a>

Jika Anda mau mengirimkan artikel ini silahkan klik:

Silahkan dibookmark (apa itu?):
Hikmah dari Iklan Kekuatan Itu Dari Allah

7 comments so far

  1. Hmeed Ar-Rasheed
    #1

    Subhanallah,… cocok bgt buat ane neh

  2. Rony Prasetya
    #2

    Iya neh, saya sering denger kalo kita kudu sabar..jika menemui musibah,utk meredam amarah teknik yg kusuka ya langsung wudhu..trus sholat sunnah, kalo gk nemu air ,ya baca2 buku kisah rasul…jadi adem deh.

  3. Ace Karwan
    #3

    Pak Rahmat, terima kasih atas pencerahannya,
    Dear rekans, menambahkan sedikit apa yang telah dikupas pak Rahmat di Al Qaqarah 286, bahwa apa yang dibebankan Allah kpd manusia sudah dlm porsi yang pas dan itupun untuk kemampuan manusia dlm rangka berbuat kebajikan, dan Allah tak pernah menzalimi manusia sedikitpun, karena manusia sendirilah yang menzalimi dirinya, spt dikutip dalam surat Yunus 44.
    Jadi berkaitan dengan musibah yang datang menimpa, terkadang kita berucap, “Ya.. Allah betapa sangat berat musibah yang Engkau bebankan kepada kami… dstnya “, dengan ucapan itu, sebetulnya secara langsung kita telah menyalahkan Allah atas bencana dan kekacauan yang terjadi, tanpa sempat berfikir bahwa sebenarnya musibah itu merupakan proses sebab akibat dari hasil rekayasa tangan kita sendiri, spt yang telah terbambarkan dalam kedua ayat diatas. Jadi mungkin sebetulnya musibah itu bukan suatu bentuk cobaan tapi merupakan balasan atas DOSA yang telah kita lakukan, sedangkan cobaan adalah suatu permasalahan yang harus kita hadapi sebagai proses ujian terhadap iman dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT.
    Wassalam.

  4. tedi ruswandi
    #4

    kalo musibah mungkin sudah digaris ama yang diatas, permasalahan nya sikap kita dalam menghadapi musibah

  5. teguh
    #5

    entahlah…..apapun takdir itu
    yang penting SEMANGAT !!!

  6. budi
    #6

    ass. pa rahmat,,,,
    sya cma mau blang trima kasih pd pak rahmat yg tlah banyak memberikan penyegaran pa kami..
    smoga Allah slalu melindung kita semua ,,,aamin.

  7. Abdul
    #7

    Ada satu ayat yang perlu di garis bawahi, bahwa bersamaan dengan kesulitan di situ ada kelapangan. berikut adalah paparan sekilas. Sempit dan lapang adalah dua kata yang bisa diterapkan pada berbagai hal, berbagai sisi dan berbagai sifat. Misal dari sisi waktu, sisi harta, dll. Untuk memudahkan pembahasan, maka akan coba dibahas satu sisi yaitu harta/materi/uang.

    Sebenarnya apakah kelapangan harta (kaya raya) adalah hal yang baik? Bahkan ini menjadi tujuan sebagian besar orang, masing-masing mengidamkannya. Banyak orang lebih peduli untuk memikirkan hal ini. Polling agar cepat terlaksana diberi iming-iming hadiah. Pekerjaan yang dipilih banyak yang meninjau sisi ini sebagai factor pertimbangan yang besar. Bahkan keberhasilan seseorang banyak yang memandang dari sisi ini saja.

    Kalau hidup dan kehidupan ini hanya diciptakan untuk tujuan ini, maka jawabannya adalah positif. Tentunya hidup dan kehidupan tidak hanya untuk ini saja. Kalau kita hanya memandang ini sebagai tujuan penciptaan, maka tentunya sang Pencipta tidaklah bisa dikatakan ADIL. Penciptaan hanya untuk kesia-siaan, dst. Silahkan dipersepsi sendiri tujuan hidup dan kehidupan sebenarnya.

    Yang akan saya bahas saat ini adalah masalah kelapangan harta itu apakah positif? Tentu hasilnya relatif. Berikut adalah beberapa relatifitas kelapangan yang bisa dipertimbangkan dalam menggapai tujuan kelapangan harta.

    KEULETAN
    Seseorang dengan kesempitan harta, bahkan dalam kondisi kekurangan harus dan dipaksa oleh keadaan untuk tetap bertahan di dalam usahanya. Puluhan tahun mengemudi becak, puluhan tahun berjualan, dst. Dst. Karena tidak ada sandaran lain untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup, maka dia harus dan dipaksa untuk melaksanakan tersebut. Lama-kelamaan sifat keterpaksaan tersebut menjadi sifat kebiasaan dan akhirnya menjadi karakter (bergantung masing-masing orang). Tapi secara keadaan hal ini akan memaksa seseorang untuk tetap bertahan, dan tetap ulet. Mungkin ada sebagian yang tidak berhasil (bunuh diri), tetapi secara umum keadaan dan lingkungan mereka akan membuat mereka lebih ulet dibanding lingkungan mereka dalam kondisi kelapangan.

    KESABARAN
    Kondisi akan memaksa mereka bersabar. Mereka akan dipaksa sabar untuk menahan lapar (karena tidak ada yang lain). Mereka dipaksa untuk jalan kaki, karena tidak punya kendaraan, naik sepeda motor kena hujan panas, dst. Mereka akan terpaksa bersabar untuk berantri ria pada kemacetan jalan, tak mampu membayar jasa pengawalan. Kalau kesabaran sudah menjadi karakter (meski dipaksa oleh keadaan) maka tentunya keadaan telah membuat mereka yang dalam kondisi sempit lebih lapang kesabarannya dari mereka yang dalam kondisi lapang secara harta.

    MERDEKA
    Uang lima ribu hanya cukup untuk beli makanan di pinggir jalan. Kesempitan memaksa mereka harus membiasakan dimanapun untuk melakukan transaksi. Mereka dipaksa berbelanja di pasar tradisional, membeli di emperan toko, di pedagang kaki lima. Dst. Jika suatu ketika mereka agak lapang, mereka sudah terbiasa untuk membeli di pinggir jalan, jongkok menunggu pesanan selesai, dll. Mereka tak ambil pusing harus beli dimana, pesan dimana transaksi di mana. Merdeka mau ngapain saja. Tak ambil pusing atas PANDANGAN ORANG tentang gengsi, prestise, tidak level, dst. Sekali lagi lingkungan telah mengajarkan dan memaksa mereka menjadi seorang yang merdeka.

    KEAMANAN
    Kesempitan harta juga membuat perasaan dan pikiran lebih lapang. Mereka tidak dipusingkan untuk memikirkan pengamanan harta mereka, tidak dipusingkan dengan was-was akan timbul bencana, kebakaran, kemalingan, dirampok, dst. Tidak pusing harus mengurus asuransi, membayar premi, mencurigai orang lewat akan mengganggu dia, dst. Dia tidak akan pusing untuk membangun pagar tinggi, membeli brankas, menyewa security, membayar upeti pada preman, dan segala hal untuk meningkatkan rasa keamanan mereka. Lingkungan dan kondisi mereka adalah lebih aman dibanding mereka yang berada dalam kelapangan harta.

    PASRAH/TAWAKKAL/TAKWA
    Karena tidak ada hal yang dapat dijadikan sandaran lagi, maka memaksa mereka bersandar pada Yang Maha Kuasa. Mereka tidak bisa menyewa bodyguard untuk mengawal perjalanan, mereka tidak bisa mempekerjakan security untuk mengawasi harta satu-satunya. Mereka tak mampu membayar premi. Akhirnya memaksa mereka harus membayar premi kepada Yang Maha Kuasa saja. Kondisi mereka memaksa lebih ber “takwa”

    PENGHARGAAN ORANG
    Mereka tidak terbiasa dan tidak bisa (dipaksa keadaan) untuk membayar orang untuk melakukan pekerjaan mereka. Mereka tidak memiliki pembantu (karena mungkin mereka adalah seorang pembantu). Mereka tidak membayar body guard, membayar security, membayar manajer, membayar direktur, membayar karyawan dan membayar segalanya. Jadi mereka tidak akan memandang orang yang datang kepadanya sebagai butuh atas pekerjaan, butuh bayaran, butuh hutang, dst. Mereka akan memandang orang tersebut sebagai person mandiri yang patut dihormati. Mereka tidak akan memandang uang mereka mampu membeli segala sesuatu (karena tidak punya uang). Jadi kondisi lingkungan mereka tidak akan memaksa mereka memandang orang lain dengan rendah, sebagai pembantu, pesuruh, pekerja, penjaga, manajer, dst.

    WAKTU
    Waktu adalah hal lain yang mungkin lebih dimiliki atau dihargai oleh orang yang sempit secara harta. Untuk memenuhi kebutuhannya, dia harus mengatur waktu sedemikian rupa, dia harus mengatur waktu untuk nyambi sana-sini. Dia harus bangun pagi untuk mengejar kereta pagi yang lebih murah. Dia harus memanage sedemikian hingga waktu dia tidak terbuang sia-sia, kalau tidak perutnya tidak akan terisi. Disisi lain ketika dia sudah sedikit lapang harta, maka penghargaan akan waktu akan jauh lebih tinggi. Kalau sebelumnya dia tidak punya waktu luang untuk keluarga karena kebutuhan akan harta, begitu harta tercukupi, maka waktu tersebut akan dimanfaatkan sedemikian rupa. Karena waktu tidak akan pernah berjalan mundur. Dia tidak akan terbiasa bangun siang dan santai santai. Bahkan sering orang yang lapang harta bingung dengan waktunya, mau diapain. Akhirnya hanya hura-hura, melakukan pekerjaan sia-sia. Menantang adrenalin, menantang maut, dst…. Mau kerja sudah punya target kerja, mau apa lagi….. akhirnya melakukan hal aneh-aneh.

    PIKIRAN TERASAH – KREATIF
    Harus selalu mengasah pikiran agar usaha dia tidak tutup. Saingan makin banyak, tenaga kerja juga banyak yang nganggur. Kebutuhan harus terpenuhi. Usaha ini belum cukup, maka dia harus berpikir lagi untuk mendapat usaha yang lain. Memikir sambilan ini, memikir peningkatan karier, memikir ide-ide brilian agar tidak terdepak dari perusahan, dst. Lingkungan sekali lagi memaksa mereka berpikir keras. Contoh sederhana Jepang vs Indonesia vs China, dst…

    KUAT-SEHAT
    Untuk makan dia tidak bisa pilih-pilih. Tinggal tidak bisa pilih-pilih. Baju tidak bisa pilih, pekerjaan harus dengan ulet. Tukang becak dipaksa mengayuh tiap hari becaknya kena panas hujan, dst. Akhirnya lingkungan memaksa tubuhnya beradaptasi. Alias lingkungan memaksa dia lebih sehat. Tidak tergantung pada vitamin, suplemen obat-obatan, dll. Yang ada hanya nasi putih, beras jatah, tempe tahu, dll….. Antibody pun punya daya tangkal yang hebat, dia tidak akan tergantung dari antibody buatan.. Alias alami dari diri sendiri…..

    MERAKYAT
    Orang yang dalam kesempitan dipaksa selalu bergaul dengan lingkungan/masyarakat. Mereka tinggal dilingkungan padat, suatu ketika mereka harus hutang sana-sini. Menyapa sana-sini (walau terkadang terpaksa) agar tidak digunjing tetangga (misalnya). Dst…. Lingkungan memaksa mereka bersatu dengan rakyat kebanyakan (karena kebanyakan rakyat dalam kondisi yang kesempitan – kecuali…..). Jadi mereka terbiasa dengan penderitaan mereka, terbiasa dengan keluhan mereka, terbiasa merasakan apa yang dirasakan, tak akan semena-menalah mereka, dst.. dst… Lingkungan mereka dapat mengajarkan menjadi wakil rakyat yang sesungguhnya.

    DST…

    Tentunya banyak metode pendidikan yang membantu untuk membentuk karakter building tersebut. Tetapi diatas adalah metode pendidikan dari lingkungan yang mungkin diterima. Dan banyak juga pengecualian disamping yang diatas, tetapi lingkungan harus dan memaksa mereka menjalani pendidikan tersebut.

    Kalau kehidupan hanya ditujukan untuk pencapaian kelapangan harta, maka…… (sesuai dengan pencerapan dan kepercayaan anda). Dalam kepercayaan saya, kita akan dibangkitkan sesuai dengan karakter kita. Jadi sesungguhnya kita telah dibantu untuk membangun karakter yang lebih kuat dari lingkungan yang ada, dst.

    Jadi didalam KESEMPITAN BANYAK KELAPANGAN LAIN YANG ANDA PEROLEH
    INNA MA’AL USHRI YUSRO.
    Jadi kalimatnya adalah ma’a (bersama) bukan ba’da (setelah). jadi sebenarnya bersama kesulitan ada kemudahan. bukan setelah kesulitan ada kemudahan.

    dst.

Leave a Reply





XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>