Bookmark di Yahoo Anda Agar Tidak Lupa. Klik Disini!
Powered by MaxBlogPress  

Citra Diri Anak Bebek


Waktu saya masih kecil, kakek dan nenek saya suka memelihara ayam kampung. Kadang-kadang saya membantu nenek memberi makan ayam-ayam peliharaan nenek. Memelihara ayam kampung berbeda dengan ayam negeri. Ayam kampung pada siang hari sengaja dilepas untuk mencari makan sendiri, sebagai makanan tambahan.

Suatu saat salah satu ayam betina sedang bertelur. Nenek menyediakan sarang untuk tempat bertelur, sebab jika tidak disediakan sarang, ayam tersebut bisa bertelur di mana saja. Kebetulan nenek ingin menetaskan telur-telur tersebut. Sambil menetaskan telur ayam, nenek juga ingin menetaskan telur bebek. Telur bebek tersebut “dititipkan” di sarang ayam tadi. Telur ayam dan telur bebek akhirnya sama-sama dierami oleh ayam sampai menetas.

Waktu itu saya sempat terpukau, biasanya ayam dan bebek bermusuhan, tetapi kali ini tidak. Ayam tersebut memelihara dengan baik anak-anaknya termasuk anak bebek tersebut. Anak bebek tersebut mendapat perlakukan yang sama, dicarikan makan dan dilindunginya. Begitu juga dengan anak-anak bebek, mereka bertingkah laku seperti ayam. Mencari makan seperti ayam dan menganggap induk ayam tersebut ibunya.

Keadaan ini berlangsung sampai “disapih”, yaitu istilah proses pemisahan anak-anak ayam dan ibunya. Penyapihan dilakukan pada usia anak ayam tertentu dimana anak ayam tersebut sudah bisa mandiri. Anak-anak bebek yang sudah menjelang dewasa disatukan lagi dengan komunitas bebek lainnya.

Setelah anak-anak bebek tersebut bergabung dengan komunitas bebek lainnya, mungkin mereka sadar kalau mereka itu bebek sehingga tingkah laku mereka pun menjadi tingkah laku bebek pada umumnya.

Anak bebek akan bertingkah seperti ayam saat menganggap dirinya ayam. Sebaliknya anak bebek bertingkah laku sebagai mana bebek lainnya saat dia sadar kalau dia itu bebek. Fenomena ini juga berlaku pada manusia, dia akan bertingkah sesuai dengan anggapan pada dirinya sendiri.

Terima kasih telah membaca artikel kami. Semoga memberikan manfaat. Silahkan isi formulir dibawah ini untuk:
  • Komentar terhadap artikel ini
  • Pertanyaan seputar artikel ini
  • Usulan judul artikel untuk kami tulis diwaktu mendatang

Jika Anda mau meng-copy artikel ini untuk blog, website, ebook, atau mailing list Anda, kami persilahkan selama mencantumkan penulisnya dan link ke www.motivasi-islami.com (yang hidup/bisa diklik). Silahkan copy paste kode berikut dibawah artikel yang Anda posting:
<a href="http://www.motivasi-islami.com" target="_blank">Sumber: Motivasi Islami</a>

Jika Anda mau mengirimkan artikel ini silahkan klik:

Silahkan dibookmark (apa itu?):
Badai Pasti Berlalu Membatasi Diri

2 comments so far

  1. Eddy Munasry
    #1

    Betul sekali apa yang terjadi pada kita adalah cerminan dari anggapan dan pola pikir kita sendiri, meminjam istilah Jennie S.Bev (mindset) apa yang kita tanamkan pada otak kita, apakah mindset positif atau negatif.
    Jika kita selalu mengisi otak kita dengan hal-hal yang negatif maka jadilah kita sorang pecundang.

  2. gpsmap 60csx
    #2

    Setuju bang eddy…

Leave a Reply





XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>