Makna Kembali ke Fitrah: Lebih dari Sekadar Bebas Dosa, Ini Kunci Akidah Lurus

Ungkapan ‘kembali ke fitrah’ selalu mengiringi perayaan Idul Fitri. Namun, apakah maknanya hanya sebatas bebas dari dosa saja? Mari kita selami lebih dalam hakikat ‘kembali ke fitrah’ yang sesungguhnya. Artikel ini akan mengungkap esensi fundamental yang jauh melampaui sekadar pembersihan dosa, menuntun Anda memahami pondasi akidah lurus untuk kehidupan dunia dan akhirat yang berkah.

Makna Kembali ke Fitrah: Lebih dari Sekadar Bebas Dosa, Ini Kunci Akidah Lurus

Setiap menjelang perayaan Idul Fitri, umat Muslim di seluruh dunia begitu akrab dengan ungkapan yang penuh makna: “kembali ke fitrah”. Sebuah frasa yang terdengar begitu indah dan menenangkan, seringkali diucapkan sebagai pelengkap salam dan ucapan selamat. Namun, apakah kita benar-benar telah menggali kedalaman makna yang terkandung dalam kalimat ini? Apakah ini sekadar ungkapan penghias yang rutin terdengar di hari raya, ataukah ia menyimpan esensi yang jauh lebih fundamental bagi kehidupan manusia di dunia dan akhirat?

Artikel ini akan mengupas tuntas tentang makna kembali ke fitrah yang sesungguhnya. Kami akan membahas mengapa pemahaman yang komprehensif tentang arti kembali ke fitrah ini adalah kunci keberhasilan. Ibarat mencari harta karun, kita tidak akan pernah mendapatkan apa pun yang tidak kita ketahui atau pahami. Anda mungkin berada di tengah tambang emas, tetapi jika Anda tidak tahu mana yang emas dan mana yang batu, Anda akan pulang dengan tangan kosong. Demikian pula, jika kita tidak memahami hakikat kembali ke fitrah, kita tidak akan bisa meraih manfaat dan esensinya. Oleh karena itu, penting sekali bagi kita untuk memahami makna ini, agar kita bisa benar-benar kembali ke fitrah manusia yang sejati.

Memahami Makna Sejati Kembali Ke Fitrah: Lebih dari Sekadar Bebas Dosa

Ketika mendengar frasa “kembali ke fitrah”, banyak dari kita spontan membayangkan kondisi bayi yang baru dilahirkan. Memang, perumpamaan ini memiliki kebenaran yang mendalam, dan itulah mengapa ungkapan ini begitu lekat dengan suasana Idul Fitri setelah sebulan penuh berpuasa. Salah satu aspek yang sering ditekankan adalah bebas dari dosa, seolah-olah kita terlahir kembali bersih dari segala kesalahan masa lalu.

Tidak diragukan lagi, pemahaman bahwa kembali ke fitrah berarti bebas dari dosa adalah bagian dari kebenaran. Bulan Ramadhan memang merupakan madrasah spiritual dan bulan pengampunan yang agung. Dengan berpuasa, mendirikan shalat malam (tarawih), dan memperbanyak amal kebaikan dengan penuh keimanan, umat Muslim diharapkan dosa-dosanya diampuni oleh Allah SWT. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan pengharapan (pahala), maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim). Demikian pula dengan shalat malam, “Barang siapa yang shalat malam di bulan Ramadhan (tarawih) dengan penuh keimanan dan pengharapan (pahala), maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim). Aspek pembersihan dosa ini memang sangat relevan dengan semangat Idul Fitri yang disebut pula sebagai hari kemenangan setelah sebulan penuh berjuang menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah. Namun, pandangan ini, meskipun benar, seringkali belum lengkap.

Untuk memahami makna fitrah sesungguhnya, kita perlu menggali lebih dalam, melampaui sekadar status bebas dari dosa. Fitrah tidak hanya berkaitan dengan catatan amal, tetapi juga dengan esensi fundamental keberadaan manusia, khususnya dalam hal keyakinan dan orientasi spiritualnya.

Akidah Lurus sebagai Inti Fitrah Manusia

Jika kita melihat lebih jauh pada makna “seperti bayi yang baru dilahirkan”, ia tidak hanya berarti bebas dari dosa, tetapi juga terkait erat dengan kondisi spiritual dan akidah yang murni. Inilah inti dari fitrah dalam Islam.

Hadits Tentang Fitrah dan Kelahiran

Mari kita simak sebuah hadits yang sangat fundamental dalam menjelaskan konsep fitrah:

Tidaklah setiap anak yang lahir kecuali dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orangtuanyalah yang akan menjadikannya sebagai Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Seperti hewan melahirkan anaknya yang sempurna, apakah kalian melihat darinya buntung (pada telinga)?

Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Imam Malik dalam Al-Muwaththa (no. 507); Al-Imam Ahmad dalam Musnad-nya (no. 8739); Al-Imam Al-Bukhari dalam Kitabul Janaiz (no. 1358, 1359, 1385), Kitabut Tafsir (no. 4775), Kitabul Qadar (no. 6599); Al-Imam Muslim dalam Kitabul Qadar (no. 2658). Sumber-sumber hadits yang terkemuka ini menegaskan keabsahan dan keotentikan riwayat tersebut, menjadikannya pijakan utama dalam memahami fitrah. Anda dapat merujuk pada koleksi hadits online di Sunnah.com untuk verifikasi lebih lanjut.

Jika kita mencermati secara seksama hadits tentang fitrah di atas, makna fitrah bukan hanya sekadar berkaitan dengan catatan dosa. Kalimat “maka kedua orangtuanyalah yang akan menjadikannya sebagai Yahudi, Nasrani, atau Majusi” menunjukkan adanya perubahan mendasar pada akidah dari kondisi asal (fitrah). Dan akidah asal atau fitrah yang dimaksud, tentu saja, adalah akidah Islam yang lurus, yang dikenal sebagai tauhid, yaitu mengesakan Allah SWT dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun. Setiap bayi dilahirkan dengan pengenalan alamiah terhadap keesaan Allah, sebuah kecenderungan murni untuk menyembah Sang Pencipta. Namun, lingkungan, khususnya didikan orang tua, bisa mengubah orientasi akidah ini menjadi kepercayaan lain seperti Nasrani, Yahudi, atau Majusi.

Jadi, ketika kita bicara tentang kembali seperti bayi, artinya adalah kembali memiliki akidah yang lurus, akidah tauhid yang murni, sebagaimana janji primordial manusia kepada Allah SWT. Ini adalah fondasi dari seluruh bangunan keimanan dan amalan seorang Muslim.

Ayat Al-Quran Tentang Fitrah

Konsep fitrah yang berpusat pada akidah yang lurus ini juga ditegaskan secara gamblang dalam Al-Quran, kitab suci umat Islam yang menjadi petunjuk hidup. Dua ayat Al-Quran tentang fitrah berikut ini memberikan pencerahan yang lebih mendalam:

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS. Ar-Rum:30)

Ayat ini secara eksplisit mengaitkan fitrah dengan “agama Allah” dan “agama yang lurus.” Ini menunjukkan bahwa Islam, dengan segala ajarannya, adalah agama yang selaras dengan cetak biru primordial manusia, dengan insting terdalamnya. Frasa “Tidak ada perubahan pada fitrah Allah” menegaskan bahwa esensi fitrah ini bersifat abadi dan universal. Meskipun manusia bisa menyimpang, fitrah itu sendiri tidak berubah, ia tetap ada sebagai standar kebenaran. Anda dapat melihat terjemahan dan tafsir lebih lanjut di situs resmi seperti Qur’an Kemenag RI.

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)“, (QS. Al-A’raf:172)

Ayat ini merujuk pada peristiwa Alastu (perjanjian primordial) yang terjadi sebelum kelahiran manusia di dunia. Jauh sebelum kita terlahir ke alam dunia, roh kita telah bersaksi dan mengakui keesaan Allah sebagai Tuhan. Inilah fondasi tauhid, pengakuan bahwa hanya Allah satu-satunya Dzat yang berhak disembah. Pengakuan ini adalah bagian tak terpisahkan dari fitrah manusia. Oleh karena itu, saat lahir, manusia secara alamiah memiliki akidah yang lurus, sebuah kecenderungan bawaan untuk mengesakan dan menyembah Allah SWT. Meskipun akidah ini bisa berubah karena faktor orang tua, lingkungan, atau godaan setan, esensi fitrah itu tetap ada sebagai fondasi. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa makna fitrah itu adalah hanif (lurus), yaitu kecenderungan yang murni kepada kebenaran dan keesaan Allah.

Kapasitas Alamiah Manusia: Mampu Menilai Mana Yang Baik dan Buruk

Selain aspek akidah, fitrah manusia juga mencakup kemampuan dasar untuk membedakan antara yang baik dan yang buruk, antara kebenaran (haq) dan kebatilan (bathil). Kapasitas ini melekat pada setiap individu, terlepas dari latar belakang agama atau budayanya. Inilah yang menjelaskan mengapa nilai-nilai moral universal seperti kejujuran, keadilan, atau belas kasih seringkali dapat diterima dan dipraktikkan oleh orang-orang dari berbagai keyakinan, termasuk mereka yang mungkin tidak beriman secara formal.

Namun, bagi mereka yang tidak menjaga fitrahnya atau yang fitrahnya telah fitrah yang tertutupi, kemampuan ini bisa menjadi pudar atau terdistorsi. Sisa-sisa dari fitrah tersebut mungkin masih ada, tetapi sudah terkontaminasi dan rusak oleh pengaruh lingkungan, pemikiran yang sesat, atau hawa nafsu yang tidak terkendali. Akibatnya, mereka mungkin kesulitan untuk membuat penilaian moral yang objektif atau bahkan menganggap kebatilan sebagai kebenaran.

Oleh karena itu, orang yang benar-benar kembali ke fitrah adalah mereka yang berhasil memulihkan dan memperkuat kembali kemampuan alaminya untuk menilai baik dan buruk. Bukan berarti setelah kembali ke fitrah lantas dibolehkan untuk berbuat dosa lagi, seperti ghibah (menggunjing), fitnah, berbohong, atau berbuat kezaliman lainnya. Pemikiran seperti itu justru menunjukkan ketidakpahaman mendalam terhadap konsep fitrah itu sendiri. Jika demikian, kita justru harus serius mempertanyakan, sudahkah kita benar-benar kembali ke fitrah?

Orang yang telah kembali ke fitrah akan menunjukkan perilaku yang lebih baik dan bermartabat, karena ia tidak hanya mengetahui mana yang baik dan buruk, tetapi juga memiliki dorongan kuat untuk memilih yang baik. Dorongan ini bersumber dari akidah yang lurus yang telah kembali murni, serta hati nurani yang telah dibersihkan. Kembali ke fitrah adalah tentang peningkatan kualitas diri secara holistik, bukan lisensi untuk kembali pada kebiasaan buruk. Ini adalah tentang menjadi pribadi yang lebih bijaksana, lebih adil, dan lebih bertanggung jawab, sejalan dengan tujuan penciptaan manusia.

Fitrah yang Tertutupi: Ancaman dan Tantangan Bagi Kehidupan Spiritual

Meskipun setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah, realitasnya tidak semua orang tumbuh dengan akidah yang lurus. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits, orang tua dan lingkungan memiliki peran yang sangat signifikan dalam membentuk keyakinan dan pandangan hidup seorang anak. Seorang anak yang lahir dari keluarga non-Muslim, misalnya, secara alami akan dididik dan dibesarkan dalam keyakinan orang tuanya, sehingga fitrah manusia asalnya bisa menjadi fitrah yang tertutupi atau terdistorsi.

Istilah “fitrah yang tertutupi” ini mengindikasikan bahwa esensi kemurnian dan kecenderungan alami kepada kebenaran itu tidak hilang sepenuhnya, melainkan hanya terselubung atau terhalang oleh berbagai faktor eksternal dan internal. Ketika fitrah seseorang sudah tertutupi, ia akan kesulitan untuk membedakan mana yang haq dan bathil, mana yang benar dan salah, atau bahkan mana yang bermanfaat dan merugikan bagi dirinya di dunia maupun akhirat. Pikiran dan hatinya mungkin menjadi keruh, dan pandangannya terhadap kebenaran menjadi kabur.

Oleh karena itu, kesadaran akan potensi fitrah yang tertutupi ini menuntut kita untuk selalu waspada dan aktif dalam menjaga fitrah kita dan fitrah anak kita agar tidak terselubung, sehingga tidak lupa dari esensi penciptaan mereka. Di era informasi yang serba cepat ini, kita terus-menerus terpapar oleh berbagai pemahaman, ideologi, dan gaya hidup yang mungkin tidak sesuai dengan akidah yang lurus. Bahkan bagi mereka yang lahir dan tumbuh dalam keluarga Muslim, akidah dan fitrah mereka bisa saja terkotori oleh hal-hal dari lingkungan sekitar, media massa, atau bahkan pergaulan yang salah. Pentingnya fitrah yang terjaga ini adalah agar kita selalu memiliki kompas moral dan spiritual yang akurat, membimbing kita pada jalan yang benar dalam setiap aspek kehidupan.

Menjaga Fitrah: Jalan Keberlangsungan Kesucian

Bulan Ramadhan, dengan segala ibadah dan latihannya, memang merupakan momen yang sangat efektif untuk kembali ke fitrah. Namun, perlu diingat bahwa kembali ke fitrah di hari Idul Fitri bukanlah tujuan akhir, melainkan sebuah titik awal yang baru. Kemenangan sejati adalah kemampuan kita untuk menjaga fitrah ini secara berkelanjutan, agar tetap berada dalam kondisi suci dan lurus sepanjang sisa hidup kita. Orang tua, lingkungan, dan informasi yang kita konsumsi dapat dengan mudah mengubah atau menutupi fitrah kita. Lalu, bagaimana cara menjaga fitrah kita tetap murni?

Fitrah kita cenderung berubah atau tertutupi akibat doktrin yang salah dari orang tua (bagi sebagian orang), informasi yang tidak benar, atau pengaruh buruk dari lingkungan luar. Untuk itu, kita perlu secara proaktif menjaga kefitrahan ini dengan memasukkan informasi yang benar, inspirasi positif, dan ilmu yang sahih ke dalam pikiran dan hati kita. Ini adalah pertempuran berkelanjutan melawan doktrin dan informasi yang merusak fitrah kita. Dan, sumber kebenaran tertinggi dan paling murni itu tiada lain adalah Al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW.

  1. Al-Quran sebagai Pelindung dan Penuntun Fitrah

    Al-Quran adalah firman Allah SWT, Dzat Yang Maha Pencipta, Yang Maha Mengetahui segala sesuatu tentang makhluk-Nya, termasuk fitrah manusia. Siapa lagi yang lebih mengetahui kita selain Allah Yang Maha Mengetahui? Oleh karena itu, ajarannya pasti akan selalu sesuai dengan fitrah kita, menguatkannya, dan membersihkannya dari segala noda. Cara menjaga fitrah kita adalah dengan mempelajari Al-Quran, merenungkan ayat-ayatnya, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Selama pikiran dan hati kita dipandu oleh ajaran Al-Quran, selama itu pula fitrah kita akan terjaga. Membaca Al-Quran dengan tadabbur (perenungan) akan membuka wawasan kita tentang kebenaran, keadilan, dan hikmah, yang semuanya sejalan dengan akidah yang lurus.

  2. Memperkuat Akidah Lurus dan Tauhid

    Karena inti dari fitrah adalah akidah yang lurus, maka langkah utama dalam menjaga fitrah adalah terus memperkuat pemahaman dan keyakinan akan tauhid. Ini melibatkan pembelajaran mendalam tentang sifat-sifat Allah, keesaan-Nya, serta menjauhi segala bentuk syirik (menyekutukan Allah). Mengikuti kajian-kajian keagamaan yang bersumber pada Al-Quran dan Sunnah, serta bergaul dengan orang-orang yang memiliki akidah kuat, akan membantu menjaga keyakinan kita tetap kokoh.

  3. Urgensi Berpikir Kritis dan Reflektif

    Di tengah banjir informasi, kemampuan untuk berpikir kritis sangat esensial dalam menjaga fitrah. Fitrah yang murni memungkinkan kita untuk menilai mana informasi yang benar dan mana yang palsu, mana yang bermanfaat dan mana yang merusak. Mengembangkan urgensi berpikir secara mendalam akan membantu kita menyaring pengaruh eksternal yang dapat menutupi fitrah. Jangan mudah menerima segala sesuatu tanpa memverifikasinya dengan Al-Quran dan Sunnah, serta akal sehat yang selaras dengan syariat.

  4. Menjaga Diri dari Godaan dan Pengaruh Negatif

    Lingkungan dan godaan hawa nafsu adalah ujian terbesar bagi fitrah manusia. Untuk menjaga fitrah tetap suci, kita harus secara aktif mengatasi rasa malas akibat setan dan menahan diri dari perilaku atau pemikiran yang bertentangan dengan ajaran Islam. Ini termasuk memilih pergaulan yang baik, menjauhi maksiat, dan mengisi waktu dengan aktivitas positif yang mendekatkan diri kepada Allah. Perjuangan melawan hawa nafsu dan godaan setan adalah bagian tak terpisahkan dari pentingnya fitrah yang terjaga.

  5. Konsistensi dalam Ibadah dan Amal Shalih

    Ibadah rutin seperti shalat lima waktu, puasa sunnah, zakat, dan sedekah berfungsi sebagai pembersih dan penguat fitrah. Melalui ibadah, kita terus terhubung dengan Allah, memperbarui komitmen kita terhadap akidah yang lurus, dan membersihkan diri dari dosa-dosa kecil. Bahkan, shaum sebagai pembuktian keimanan di bulan Ramadhan adalah salah satu contoh bagaimana ibadah mampu membentuk karakter dan menjaga kemurnian fitrah.

  6. Doa dan Tawakal kepada Allah

    Akhirnya, cara menjaga fitrah yang paling mendasar adalah dengan senantiasa memohon pertolongan kepada Allah SWT. Manusia adalah makhluk lemah yang membutuhkan bimbingan dan perlindungan dari Sang Pencipta. Berdoa agar hati kita tetap teguh di atas kebenaran, agar fitrah kita tidak goyah, dan agar kita selalu diberikan kekuatan untuk beramal shalih adalah bentuk tawakal yang esensial. Allah adalah penjaga fitrah yang paling utama, dan hanya dengan izin-Nya kita dapat bertahan di atas jalan yang lurus.

Singkatnya, menjaga fitrah adalah sebuah perjalanan seumur hidup yang membutuhkan kesadaran, usaha yang konsisten, dan ketergantungan penuh kepada Allah SWT. Ini adalah investasi jangka panjang untuk kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat.

Kesimpulan: Sebuah Perjalanan Kembali dan Pemeliharaan

Makna kembali ke fitrah adalah lebih dari sekadar pembersihan dosa. Ia adalah perjalanan spiritual yang mendalam untuk kembali kepada akidah yang lurus, kepada tauhid yang murni, kepada pengakuan keesaan Allah yang telah kita janjikan di alam arwah, dan kepada kemampuan alamiah untuk membedakan antara kebaikan dan keburukan. Ini adalah hakikat kembali ke fitrah, menjadi pribadi yang hanif, lurus dalam orientasi spiritual dan moralnya.

Setelah kita berhasil meraih momen kembali ke fitrah, khususnya setelah menempuh pelatihan spiritual di bulan Ramadhan, langkah selanjutnya yang krusial adalah menjaga fitrah ini agar tidak kembali tertutupi atau terdistorsi. Cara menjaga fitrah yang paling efektif adalah dengan menjadikan Al-Quran dan Sunnah sebagai pedoman hidup utama, senantiasa membacanya, merenungkan maknanya, dan mengamalkannya dalam setiap aspek kehidupan. Selain itu, memperkuat akidah, urgensi berpikir secara kritis, menjauhi pengaruh negatif, serta konsisten dalam ibadah dan amal shalih, adalah pilar-pilar penting dalam mempertahankan kemurnian fitrah.

Pentingnya fitrah yang terjaga adalah agar kita dapat menjalani hidup ini dengan penuh keberkahan, memiliki ketenangan jiwa, dan meraih kebahagiaan sejati di dunia maupun akhirat. Idul Fitri dan fitrah adalah pengingat bahwa tujuan hidup kita adalah senantiasa kembali kepada asal penciptaan yang murni, dan terus memeliharanya dengan sungguh-sungguh.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Apa makna kembali ke fitrah yang sesungguhnya?

Makna kembali ke fitrah yang sesungguhnya adalah kembali kepada akidah yang lurus (tauhid), yaitu pengakuan dan pengesaan terhadap Allah SWT sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah. Ini juga berarti kembali kepada kondisi hati dan pikiran yang murni, bebas dari dosa, dan mampu membedakan antara kebenaran (haq) dan kebatilan (bathil), sebagaimana manusia dilahirkan.

Apakah kembali ke fitrah berarti seperti bayi yang baru lahir?

Ya, kembali ke fitrah berarti seperti bayi yang baru lahir, namun pemahaman ini perlu dilengkapi. Seperti bayi yang baru lahir yang bebas dari dosa, kembali ke fitrah juga mencakup pembersihan dosa-dosa. Namun, yang lebih penting, ini merujuk pada kondisi bayi yang dilahirkan dengan akidah yang lurus dan tauhid yang murni, sebelum dipengaruhi oleh lingkungan atau ajaran orang tua yang mungkin menyimpang.

Mengapa fitrah manusia bisa berubah atau tertutupi?

Fitrah manusia bisa berubah atau tertutupi karena berbagai faktor eksternal. Faktor utama adalah didikan orang tua dan lingkungan sosial. Sebagaimana hadits Rasulullah SAW, orang tualah yang dapat menjadikan seorang anak beragama Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Selain itu, paparan informasi yang salah, gaya hidup hedonis, hawa nafsu, dan godaan setan juga dapat mengotori serta menutupi kemurnian fitrah.

Bagaimana cara menjaga fitrah kita setelah Ramadhan?

Cara menjaga fitrah setelah Ramadhan adalah dengan konsisten membaca, mempelajari, dan mengamalkan ajaran Al-Quran dan Sunnah. Ini juga melibatkan penguatan akidah yang lurus, menjaga diri dari pengaruh negatif, berpikir secara kritis, serta istiqamah dalam ibadah dan amal shalih. Memilih lingkungan yang positif dan senantiasa berdoa kepada Allah juga sangat penting dalam menjaga fitrah.

Apa kaitannya fitrah dengan akidah Islam?

Kaitannya sangat erat dan fundamental. Fitrah dalam Islam pada dasarnya adalah akidah yang lurus itu sendiri, yaitu tauhid atau keyakinan akan keesaan Allah SWT. Al-Quran (QS. Ar-Rum:30) menjelaskan bahwa fitrah Allah adalah agama yang lurus, yaitu Islam. Sebelum lahir, setiap jiwa telah bersaksi dan mengakui Allah sebagai Tuhan (QS. Al-A’raf:172). Oleh karena itu, kembali ke fitrah berarti kembali kepada akidah Islam yang murni, yang merupakan inti dari keberadaan spiritual manusia.


2 Comments

  1. slam adalah ajaran fitrah yang mana Nabi Muhammad s.a.w. diutus untuk menjelaskan ajaran kebenaran-Nya dan memperlihatkan tuntutan-Nya, serta mengembalikan manusia kepada jalan yang lurus setelah manusia dikuasai oleh pujuk rayu syaitan. Fitrah bermaksud naluri asal manusia yang diciptakan Allah yang bersih dari semua bentuk pencemaran. Dalam erti kata lain, Islam agama yang bersifat semula jadi yang mana ia meliputi keinginan dan keperluan hbidup manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *