|

Kisah Inspiratif Tukang Sol Sepatu Kunci Rezeki Berkah Bersyukur dan Yakin pada Allah

Dalam hiruk pikuk kota, Mang Udin, seorang tukang sol sepatu, berjuang keras mencari nafkah, namun rezekinya selalu seret. Hingga suatu hari, pertemuannya dengan Bang Soleh, sesama tukang sol, mengubah segalanya. Bang Soleh mengajarkan bahwa rezeki tak hanya tentang kerja keras, tapi juga tentang kekuatan spiritual seperti syukur, tawakal, ikhlas, sabar, dan keyakinan teguh pada Allah. Kisah sederhana mereka ini menjadi pengingat penting tentang bagaimana mendekatkan diri pada Tuhan dapat membuka pintu-pintu rezeki yang tak terduga.

Kisah Inspiratif Tukang Sol Sepatu Kunci Rezeki Berkah Bersyukur dan Yakin pada Allah

Dalam riuhnya kehidupan perkotaan yang tak pernah tidur, di antara jutaan langkah kaki yang terburu-buru, hiduplah seorang pria bernama Mang Udin. Bukan sekadar nama, melainkan panggilan akrab yang menyiratkan kedekatan dan kehangatan. Mang Udin adalah seorang tukang sol, sebuah profesi yang kerap dianggap remeh namun memiliki arti yang sangat besar bagi kelangsungan hidup keluarganya. Setiap pagi buta, saat fajar belum sempurna menyingsing dan sebagian besar kota masih terlelap dalam mimpi, Mang Udin sudah melangkahkan kakinya meninggalkan rumah sederhana. Di sanalah, istri dan anak-anaknya menaruh harapan besar, menggantungkan impian akan sepiring nasi dan sedikit lauk pauk pada hasil jerih payahnya.

Pikulannya yang terasa berat, bukan hanya karena peralatan sol sepatunya, melainkan juga karena beban tanggung jawab yang dipanggulnya. Dengan suara yang kadang serak, ia terus menyusuri gang-gang sempit, jalanan ramai, hingga sudut-sudut kota yang lengang, berteriak menawarkan jasanya, “Sol… sol… sepatu! Perbaikan sepatu!” Namun, realitas seringkali jauh dari harapan. Hari itu, hingga tengah hari, hanya satu pasang sepatu yang berhasil diperbaikinya, itupun hanya perbaikan jahitan kecil yang tak seberapa upahnya. Kondisi ekonomi yang sulit memang bukan hal baru baginya, namun setiap hari adalah perjuangan baru yang tak pernah berhenti menguji ketabahannya.

Perutnya mulai keroncongan, namun ia tak menghiraukannya. Hanya air teh bekal dari rumah yang sedikit mengganjal lapar, tak cukup untuk membeli sepiring nasi hangat. Uang yang ada harus ia simpan, berharap ada rezeki lebih besar agar bisa membawa pulang kabar gembira dan senyum di wajah keluarganya. Prioritasnya adalah keluarga, bukan dirinya sendiri. Dalam keputusasaan yang mulai menyelimuti, sebuah pertemuan tak terduga mengubah alur ceritanya.

Di tengah lelahnya langkah dan suramnya harapan, Mang Udin berjumpa dengan seorang tukang sol lainnya. Pria itu, yang kemudian diketahui bernama Bang Soleh, memiliki wajah yang cerah dan senyum yang tak pernah pudar. “Pasti si Abang ini sudah dapat uang banyak, nih,” pikir Mang Udin, hatinya sedikit iri namun juga penasaran. Mereka berpapasan, saling menyapa, dan akhirnya berhenti untuk bercakap-cakap. Sebuah kisah inspiratif akan segera terungkap.

Pertemuan Dua Tukang Sol dan Pentingnya Bersyukur

“Bagaimana dengan hasil hari ini, Bang? Sepertinya laris, nih?” tanya Mang Udin, memulai percakapan dengan nada harap-harap cemas. Senyum Bang Soleh tak luntur. “Alhamdulillah, Mang Udin. Ada beberapa orang yang memperbaiki sepatu,” jawabnya, tenang.

“Saya baru satu, Bang, itu pun cuma benerin jahitan,” Mang Udin membalas, suaranya terdengar memelas, tak bisa menyembunyikan kekecewaan. Jawaban Bang Soleh berikutnya adalah pengingat pentingnya bersyukur. “Alhamdulillah, itu harus disyukuri.”

Mendengar itu, Mang Udin sedikit kesal. “Mau disyukuri bagaimana, Bang? Nggak cukup buat beli beras juga!” baginya, rasa syukur terasa mewah di tengah desakan kebutuhan. Namun, Bang Soleh, dengan kebijaksanaannya, memberikan sudut pandang yang berbeda. “Justru dengan bersyukur, nikmat kita akan ditambah.” Ini adalah salah satu prinsip hidup islami yang sering terlupakan, bahwa syukur bukan hanya saat berlimpah, tetapi juga saat kekurangan.

“Emang begitu, Bang?” tanya Mang Udin, meskipun sebenarnya ia sudah tahu bahwa bersyukur adalah perintah agama, namun dalam praktiknya, saat kesulitan, ia seringkali lupa. Bang Soleh mengangguk. “Insya Allah. Mari kita ke Masjid dulu, sebentar lagi adzan Dzuhur,” ajaknya, sambil mengangkat pikulannya. Ajakan ini terasa sedikit canggung bagi Mang Udin, sebab ia tidak terbiasa “mampir” ke tempat shalat di sela-sela pekerjaannya. Bang Soleh yang melihat keraguan di wajah Mang Udin, menambahkan, “Ayolah, kita mohon kepada Allah supaya kita diberi rezeki yang barakah.” Sebuah tawaran tulus untuk mendekatkan diri kepada Sang Pemberi Rezeki.

Akhirnya, Mang Udin pun mengikuti Bang Soleh menuju sebuah masjid terdekat. Terlihat jelas bahwa Bang Soleh begitu hapal tata letak masjid itu, seolah ia adalah langganan tetapnya. Momen itu menjadi salah satu cerita kehidupan yang tak terduga bagi Mang Udin. Setelah shalat, Bang Soleh mengajak Mang Udin ke warung nasi untuk makan siang. Mang Udin kembali bingung, ia tak punya uang. Namun, Bang Soleh seolah mengerti kegundahan hatinya. “Ayolah, kita makan dulu. Saya yang traktir.” Sebuah gestur keutamaan berbagi yang begitu tulus.

Mereka pun makan di warung Tegal terdekat. Setelah makan, Mang Udin yang merasa tidak enak hati berkata, “Saya tidak enak, nih, Bang. Nanti uang untuk dapur Abang berkurang dipakai traktir saya.” Bang Soleh hanya tersenyum, senyum yang menunjukkan keyakinan kepada Allah yang begitu kuat. “Tenang saja, Allah akan menggantinya. Bahkan lebih besar dan barakah.”

“Abang yakin?” tanya Mang Udin, masih diliputi keraguan. “Insya Allah,” jawab Bang Soleh meyakinkan. Kata-kata Bang Soleh menancap di hati Mang Udin, memicu harapan baru. “Kalau begitu, saya mau shalat lagi, bersyukur, dan mau memberi kepada orang lain,” katanya penuh harap. “Insya Allah. Allah akan menolong kita,” kata Bang Soleh sambil bersalaman dan mengucapkan salam untuk berpisah. Kisah inspiratif ini mulai mengubah pandangan Mang Udin.

Ujian Kesabaran dan Pentingnya Tawakal, Ikhlas, dan Sabar

Keesokan harinya, takdir mempertemukan mereka kembali di tempat yang sama. Bang Soleh mendahului menyapa, “Apa kabar, Mang Udin?”

“Alhamdulillah, baik,” jawab Mang Udin. Namun, raut wajahnya tak bisa menyembunyikan kekecewaan. “Oh ya, saya sudah mengikuti saran Abang, tapi mengapa kok penghasilan saya malah turun? Hari ini, satu pun pekerjaan belum saya dapat,” katanya, setengah menyalahkan. Bang Soleh hanya tersenyum, seolah sudah menduga respons ini. Kemudian ia berkata, “Masih ada hal yang perlu Mang Udin lakukan untuk mendapat rezeki barakah.” Ini adalah inti dari rahasia rezeki barokah.

“Oh ya, apa itu?” tanya Mang Udin penasaran. “Tawakal, ikhlas, dan sabar,” jawab Bang Soleh, sambil kemudian mengajak Mang Udin ke Masjid dan mentraktir makan siang lagi. Ini adalah teladan hidup yang nyata dari Bang Soleh, mengajarkan dengan tindakan, bukan hanya kata-kata. Konsep tawakal, ikhlas, dan sabar ini adalah tiga pilar utama dalam prinsip hidup Islami untuk menghadapi segala cobaan dan mencari rezeki. Tawakal berarti berserah diri sepenuhnya kepada Allah setelah melakukan ikhtiar maksimal. Ikhlas adalah melakukan segala sesuatu semata-mata karena Allah, tanpa mengharap pujian atau balasan dari manusia. Dan sabar adalah kemampuan untuk bertahan dalam ketaatan, menjauhi maksiat, dan menghadapi musibah dengan tabah. Ketiga hal ini saling berkaitan dan membentuk fondasi spiritual yang kuat bagi seorang mukmin.

Keesokan harinya, mereka bertemu lagi, kali ini di tempat yang berbeda. Mang Udin, yang berhari-hari ini masih sepi order, berkata setengah menyalahkan lagi, “Wah, saya makin parah, Bang. Kemarin nggak dapat order, sekarang juga belum. Apa saran Abang tidak cocok untuk saya?” Nada putus asa mulai terdengarnya, menunjukkan bahwa jangan putus asa adalah pelajaran yang sulit ia terima saat ini.

“Bukan tidak cocok, Mang Udin. Mungkin keyakinan Mang Udin belum kuat atas pertolongan Allah,” jelas Bang Soleh, tetap dengan senyumnya yang menenangkan. “Coba renungkan, sejauh mana Mang Udin yakin bahwa Allah akan menolong kita?” Pertanyaan ini menghantam Mang Udin tepat di ulu hati. Ia cukup tersentak mendengar penjelasan tersebut. Diam-diam, ia mengakui bahwa hatinya sedikit ragu. Ia “hanya” coba-coba menjalankan apa yang dikatakan oleh Bang Soleh, tanpa disertai keyakinan penuh. Ini adalah salah satu poin penting dalam motivasi hidup islami, bahwa keyakinan adalah fondasi utama.

Keyakinan Kepada Allah dan Petunjuk Tersembunyi

“Bagaimana supaya yakin, Bang?” tanya Mang Udin sedikit pelan, hampir tidak terdengar, menunjukkan betapa dalam ia memikirkan pertanyaan itu. Rupanya, Bang Soleh sudah menebak kemana arah pembicaraan ini. Ini adalah bagian penting dari hikmah kehidupan yang harus dipahami.

“Saya mau bertanya, apakah kita janjian untuk bertemu hari ini, di sini?” tanya Bang Soleh.

“Tidak,” jawab Mang Udin.

“Tapi kenyataannya kita bertemu, bahkan tiga hari berturut-turut. Mang Udin dapat rezeki bisa makan bersama saya. Jika bukan Allah yang mengatur, siapa lagi?” lanjut Bang Soleh. Mang Udin terlihat berpikir dalam, merenungkan setiap kata. Bang Soleh melanjutkan, “Mungkin, sudah banyak petunjuk dari Allah, hanya saja kita jarang atau kurang memperhatikan petunjuk tersebut. Kita tidak menyangka Allah akan menolong kita, karena kita sebenarnya tidak berharap. Kita tidak berharap, karena kita tidak yakin.” Ini adalah sebuah motivasi spiritual yang mendalam, menekankan peran doa dan rezeki yang tak terduga.

Mang Udin manggut-manggut. Sepertinya ia mulai paham, sebuah pencerahan mulai menyelimuti hatinya. Perlahan, senyum mulai mengembang di wajahnya. Ini adalah cerita motivasi yang nyata.

“Oke deh, Bang, saya paham. Selama ini saya akui saya memang ragu. Sekarang saya yakin. Allah sebenarnya sudah membimbing saya, saya sendiri yang tidak melihat dan tidak mensyukurinya. Terima kasih, Abang,” kata Mang Udin, matanya terlihat berkaca-kaca, menandakan penyesalan dan kelegaan yang mendalam. Kata-kata Bang Soleh telah membuka matanya akan teladan hidup yang sederhana namun penuh makna.

“Berterima kasihlah kepada Allah, Mang Udin. Sebentar lagi Dzuhur, kita ke Masjid yuk. Kita mohon ampun dan bersyukur kepada Allah,” ajak Bang Soleh. Sebuah pertolongan Allah seringkali datang melalui perantara orang lain, atau melalui pencerahan yang datang dari dialog. Ini adalah kisah penuh hikmah tentang bagaimana sebuah pertemuan sederhana dapat mengubah hidup seseorang.

Mereka pun mengangkat pikulan dan mulai berjalan menuju masjid terdekat, kali ini dengan langkah yang lebih ringan, diiringi rasa optimis bahwa hidup akan menjadi lebih baik. Mang Udin bukan lagi tukang sol yang sama dengan hari-hari sebelumnya. Hatinya kini dipenuhi keyakinan kepada Allah yang lebih kuat, ikhlas dalam menjalani takdir, sabar dalam menghadapi cobaan, dan tawakal penuh terhadap setiap ketentuan-Nya. Ia telah belajar dari kisah ini, sebuah prinsip hidup islami yang mengajarkan bahwa rezeki bukan hanya tentang seberapa banyak yang didapat, tetapi seberapa besar keberkahan yang menyertainya.

Mang Udin kini memahami bahwa pentingnya bersyukur adalah kunci pembuka pintu rezeki, doa dan rezeki adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan, dan bahwa jangan putus asa adalah perintah yang harus senantiasa dipegang teguh. Perjalanan seorang tukang sol sepatu ini adalah cerita motivasi yang mengajarkan bahwa dalam setiap kesulitan, selalu ada pelajaran berharga, dan setiap ujian adalah kesempatan untuk memperkuat keyakinan kepada Allah. Semoga kita semua dapat mengambil hikmah kehidupan dari kisah kehidupan Mang Udin ini.

FAQ Kisah Dua Tukang Sol

Apa pesan moral dari Kisah Dua Tukang Sol?

Pesan moral utama dari kisah ini adalah pentingnya bersyukur, tawakal, ikhlas, dan sabar dalam menghadapi segala kondisi hidup, terutama dalam mencari rezeki. Kisah ini mengajarkan bahwa rezeki tidak hanya diukur dari jumlah materi yang didapatkan, tetapi juga dari keberkahan dan cara mendapatkannya. Lebih dari itu, kisah ini menekankan pentingnya keyakinan yang kuat kepada Allah sebagai Sang Pemberi Rezeki, serta kemampuan untuk melihat dan mensyukuri setiap petunjuk dan pertolongan-Nya, bahkan dalam hal-hal kecil sekalipun. Jangan putus asa adalah kunci utama dalam perjalanan spiritual dan hidup.

Bagaimana cara mendapatkan rezeki yang berkah menurut Bang Soleh?

Menurut Bang Soleh, ada beberapa langkah untuk mendapatkan rezeki yang berkah. Pertama adalah senantiasa bersyukur atas nikmat sekecil apapun, karena dengan bersyukur, Allah akan menambah nikmat-Nya. Kedua adalah menunaikan shalat dan memohon kepada Allah agar diberi rezeki yang barakah, menunjukkan ketaatan dan ketergantungan kepada-Nya. Ketiga adalah memiliki sikap tawakal (berserah diri sepenuhnya setelah berikhtiar), ikhlas (melakukan segala sesuatu semata-mata karena Allah), dan sabar (tabah menghadapi ujian dan cobaan). Terakhir, dan yang paling fundamental, adalah memiliki keyakinan yang kuat bahwa Allah akan senantiasa menolong dan mengatur rezeki hamba-Nya, serta mampu melihat petunjuk-Nya dalam setiap peristiwa.

Mengapa Mang Udin awalnya kesulitan mendapat rezeki?

Mang Udin awalnya kesulitan mendapat rezeki bukan karena ia tidak bekerja keras, melainkan karena ia belum sepenuhnya menerapkan prinsip-prinsip spiritual yang diajarkan Bang Soleh. Kesusahan rezekinya dipicu oleh kurangnya rasa syukur atas apa yang sudah didapat, adanya kekesalan dan putus asa ketika menghadapi kenyataan pahit, serta kurangnya keyakinan kepada Allah. Ia juga mengakui bahwa ia hanya “coba-coba” menjalankan saran Bang Soleh tanpa disertai keyakinan yang kuat, sehingga hal itu mempengaruhi penerimaan dan pandangannya terhadap rezeki.

Apa pentingnya bersyukur, tawakal, ikhlas, dan sabar dalam hidup?

Bersyukur, tawakal, ikhlas, dan sabar adalah pilar-pilar penting dalam menjalani hidup, khususnya dalam perspektif Islam. Bersyukur membuka pintu keberkahan dan meningkatkan rasa puas serta kebahagiaan. Tawakal menumbuhkan ketenangan jiwa karena yakin bahwa segala urusan telah diatur oleh Allah, sehingga mengurangi kecemasan. Ikhlas memurnikan niat dan menjadikan setiap amal bernilai ibadah di sisi Allah, serta menjauhkan dari rasa kecewa karena mengharap balasan dari manusia. Sabar menjadikan seseorang tabah menghadapi cobaan, mengubah kesulitan menjadi peluang untuk tumbuh, dan memperkuat hubungan dengan Sang Pencipta. Keempat prinsip ini secara kolektif membentuk fondasi bagi prinsip hidup Islami yang harmonis dan penuh makna.

Bagaimana keyakinan kepada Allah mempengaruhi rezeki seseorang?

Keyakinan kepada Allah memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap rezeki seseorang. Ketika seseorang memiliki keyakinan yang kuat bahwa Allah adalah Ar-Razzak (Maha Pemberi Rezeki), ia akan senantiasa berikhtiar dengan optimal, namun tidak akan putus asa jika hasilnya tidak sesuai harapan karena ia percaya bahwa Allah memiliki rencana yang lebih baik. Keyakinan ini juga memupuk sikap tawakal, menjauhkan dari rasa khawatir berlebihan, dan mendorong untuk selalu bersyukur. Dengan keyakinan yang kokoh, seseorang akan lebih peka melihat “petunjuk dari Allah” dalam setiap kejadian, termasuk dalam rezeki yang datang dari arah tak terduga. Kepercayaan penuh ini mengubah cara pandang terhadap rezeki, dari sekadar angka materi menjadi sebuah manifestasi kasih sayang dan pengaturan Ilahi yang penuh berkah. Keyakinanlah yang menjadi motor penggerak untuk terus berbuat baik, berbagi, dan memohon, karena tahu bahwa Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan hamba-Nya yang beriman.


90 Comments

  1. Assalamu’alaikum
    Keyakinan itu harus sering dilatih. Caranya ya harus banyak2 berusaha mengambil hikmah dalam setiap kejadian yang Kita alami, banyak berkorban. InsyaAllah Yakinnya jadi meningkat dan bahkan bisa menular

    1. Hal yang memang seharusnya kita yakini tapi terkadang kita sendiri yang meragukannya. Padahal sudah jelas dalam salah satu ayat yang menyatakan semakin kita bersyukur maka semakin ditambah nikmatnya oleh Allah. Semoga hati ini senantiasa bersabar dan mensyukuri nikmat yang Allah berikan. Amin.

  2. jadi sedih,malu banget saya sama diri saya yang jarang banget menyadari nikmat allah
    makasih banget ceritanya

  3. Bagus sekali ceritanya pak, kadang kita tak mau menyandarkan diri kepada Allah…tak yakin Allah akan menolong…padahal kalau kita mencintai Allah , pasti kita rela menyandarkan diri kepadaNya…kadang-kadang cinta kita hanya di mulut, tidak di perbuatan…padahal Allah sangat mencintai kita….bahkan tanpa kita balas pun, Allah tetap mencintai kita

  4. Insya Allah dengan syukur dan tetap berdoa pada malam setelah shalat tahajud doa dan harapan kita akan terkabulkan. Yakinlah Allah berkehendak sesuai dengan prasangka hambanya. Allahu Akbar.

  5. Terkadang seorang motivator pun butuh motivator lain untuk memberi motivasi… “sy ibarat mang udin yang butuh kehadiran bang sholeh untuk mentraktir”… adakah bang sholeh itu…??? yang benar-benar ikhlas melakukan sesuatu kebajikan dengan hati yang benar-benar tulus dan bersih..??..saatnya anda membantuku bang sholeh…

  6. Luar biasa ceritanya, ,ini bsa membuka kecerdasan spritual seseorang,,,sya sempat terharu dan malu kpda diri sya sendiri..terima kasih motivasinya,,,sya haus akan motivasi sperti ini…

  7. ehm..kisahna bikin aya ingat ma kejadian dulu ma tukang sol jg,,..tukang sol yg buat aya semangat untuk lanjutin kuliah…beliau saja bisa mnyekolahkan kedua ankna sampai tinggi, knp aq tidak, meski untuk biaya harus berfikir panjang namun Beliau sudah memberikan Cahaya keyakinan terhadap pertolongan Allah! klo diceritain pasti panjang hehehe…

  8. ehm..kisahna bikin aya ingat ma kejadian dulu ma tukang sol jg,,..tukang sol yg buat aya semangat untuk lanjutin kuliah…beliau saja bisa mnyekolahkan kedua ankna sampai tinggi, knp aq tidak, meski untuk biaya harus berfikir panjang namun Beliau sudah memberikan Cahaya keyakinan terhadap pertolongan Allah! klo diceritain pasti panjang hehehe…

  9. Tidak semua yg qt anggap baik itu benar, begitupula tdk semua yang benar itu bagus, begitupun yang bagus itu tidak selalu benar.

  10. Tidak semua yg qt anggap baik itu benar, begitupula tdk semua yang benar itu bagus, begitupun yang bagus itu tidak selalu benar.

  11. subhanallah, jadi inget tukang sol yg ngasih semangat buat kuliah diriku….(buat bpk tukang sol yg telah memberiku pencerahan ” terima kasih ya pak..(4-5 tahun yg lalu))

  12. subhanallah, jadi inget tukang sol yg ngasih semangat buat kuliah diriku….(buat bpk tukang sol yg telah memberiku pencerahan ” terima kasih ya pak..(4-5 tahun yg lalu))

  13. menarik, isnpiratif…
    motivasi jauh lebih mudah dicerna dlm bentuk cerita, sprti cara anda ini..
    kami tunggu kisah2 memotivasi lainx…
    salam…

  14. Assalamu’alikum wr.wb
    Mas/mba tulisanya saya copy ya?, saya kirim ke teman2 saya. Terima kasih sebelumnya

  15. alhamdullilah.. q mendapatkan masukan n ilmu yg bermanfaat tuk q.
    Moga allah tetap n selalu menimpahkan rahmat, taufik serta hidayahnya kepada kita semua. Amin……………………………………………………………………..
    Makacieh ya bang yg dah kirim n menerbitkan jua membuat cerita ni.
    GOOD LUCK.

  16. mantap….inspiratif banget..
    mhon izin tuk di copy ya,…bt ngasih inspirasi bgi teman2…
    thanks.

  17. subhanallah ceritanya sungguh menyentuh hati, saya ijin pakai cerita ini untuk tugas sekolah ya pak sumber selalu akan saya tampilkan

    sebelumnya terima kasih

  18. Subhanallah …ustadz saya izin share jg ke facebook ya.^_^
    Allhamdullah saya ketemu link url ini..bermanfaat bgt..jazakallah ust.

  19. Subhanalloh…
    Alloh sudah mengatur… Pada saat saya mengalami hal yang serupa, saya klik sebuah link di FB dan hasilnya mengarah ke Artikel ini…
    Saya baca dan hati saya tersentuh pak… Alhamdulillah…

  20. Karunia Allah swt sering tidak kita sadari kehadirannya, padahal selalu mengiringi kita dalam tiap tarikan napas..maafkanlah kami Ya Allah.. syukron pak ustad

  21. salam alaykom

    Subhanallah
    kisah ini jawaban atas kegelisahan saya,,,semoga Allah semakin menguatkan keyakinan kita dan menuntun kita untuk selalu berbaik sangka pada ketetapanNya
    mohon ijin untuk copy paste,,,,alamat tetap saya tampilkan..,semoga bermanfaat terima kasih

  22. aslmkm_izin copy ya pak… crita ini mengingatkan sy pd almarhum kakek yg berprofesi sbg tukang sol (^_^,) sika sedih kalo ingat… subhanallah perjuanganny dlm menyekolahkan anak2nya…

  23. Assalam ‘alaikum..
    Afwan pak
    Kalau boleh saya ijin meng-copy, saya print untuk saya ceritakan kepada anak2 didik saya di TPQ deket rumah. Wilayah kami di desa. KEmampuan ekonomi anak2 juga masih menengah ke bawah. Jadi untuk beli buku selain pelajaran masih berat.
    Padahal minat mereka dalam membaca sangat baik, juga untuk mendengarkan cerita.
    Hanya saja, saya tidak banyak ide untuk dongeng kalau tidak mengambil dari buku, siroh2 nabawi dsb.
    Jika diperbolehkan, jazakumullah….
    Nama penulis (antum) saya cantumkan juga, jadi tidak jiplak.

  24. Subhanalloh, sangat menginspirasi. Memang sering kali kita terutama saya lupa akan nikmat Yang telah Alloh berikan lantas tidak ada kesadaran untuk mensyukurinya.

    Terimakasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *