Cerita Sukses, Sukses

Saya Ingin Anak Saya Sekolah Tinggi – Kisah Nyata Tentang Kekuatan Harapan

March 15, 2018

Haruskah memupus cita-cita tinggi disaat kondisi tidak memungkinkan? Bahkan orang-orang untuk menerima nasib, tidak usah memaksakan. Katanya itu semua hanyalah mimpi yang tidak mungkin.

Namun berbeda dengan bapak yang satu ini. Tidak menyerah dengan keadaan. Memadukan kekuatan keyakinan akan pertolongan Allah ditambah dengan kerja keras pantang menyerah, akhirnya mencapai impiannya.

Memutus lingkaran kemiskinan dalam kehidupannya. Saya terinspirasi dari kisah nyata ini, mungkin Anda juga.

Kisah Nyata Tentang Kekuatan Harapan

Tersebutlah seorang ayah yang memiliki 4 orang anak yang memiliki profesi sebagai kuli bangunan. Sehari-hari pekerjaan tidak jauh dari tembok basah yang kotor ditengah terik matahari. Namun itulah yang dijalani sebab belum ada cara lain untuk menafkahi istri dan keempat anaknya.

Niatnya tentu ingin mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, tetapi bagaimana bisa dengan pendidikan yang hanya sekolah dasar hanya bisa untuk pekerjaan kasar.

Suatu waktu ada pekerjaan membangun sebuah rumah yang dekat dengan SMA. Tentu saja anak-anak sekolah sering kali terlihat saat masuk kelas, keluar kelas, atau kegiatan di luar kelas seperti bermain bola basket. Sang Ayah sering mengamati anak-anak sekolah tersebut sehingga munculah pertanyaan di dalam hatinya, “apakah anak-anaku bisa sekolah seperti mereka?”

Pertanyaan tersebut terus diingat. Setiap langkahnya selalu diiringi oleh pertanyaan tersebut, bisakah anak-anaku sekolah tinggi? Bisakah mereka sekolah lebih tinggi dariku? Bisakah mereka memiliki kehidupan yang lebih baik dariku? Saking mendalamnya, dalam setiap perbincangan pun sering kali cita-cita mulia ini tercetus ke dalam mulutnya.

Seperti biasa, komentar positif dan negatif muncul. Ada yang mendukung ada juga yang pesimis. Bukannya mendukung malah mematahkan motivasi sang ayah.

“Jangan memaksakan diri, terima aja apa adanya”.
“Kenapa harus susah payah? Dengan pendidikan seperti ini pun kita masih bisa hidup?” kata salah seorang saudaranya yang sama-sama seorang kuli bangunan dan juga berpendidikan lebih rendah.

Namun sang Ayah memiliki tekad yang kuat. Biarlah banyak orang yang mengatakan sesuatu tidak mungkin, sebab yang menentukan ialah Allah. Jika Allah menghendaki, maka segala sesuatu akan terjadi, tidak ada yang tidak mungkin. “Laa haula wa la quwwata illa billah” inilah kalimat yang selalu menjadi pegangan dalam upayanya meraih cita-citanya.

Waktu pun dilalui dengan kerja keras, tidak pernah menyerah, dan berserah diri kepada Allah saat menemui kesulitan. Alhamdulillah karirnya di dunia bangunan ada peningkatan. Mungkin, naiknya karir ini akibat memiliki motivasi yang sangat tinggi sehingga bekerja dengan penuh dedikasi. Dari mulai seorang helper, kemudian menjadi tukang (ahli), dan akhirnya menjadi seorang mandor dan pemborong. Saat itu anak terbesar sudah menginjak bangku SMA.

Namun Allah menghendaki hal yang lain, manajemen tempatnya bekerjanya mengalami rotasi kepemimpinan. Pemimpin yang baru mengeluarkan berbagai kebijakan yang sangat menekan bawahannya sehingga akhirnya sang Ayah mengundurkan diri. Beralih membangun sebuah bisnis yang tidak bertahan lama sebab ditipu oleh mitra kerjanya. Kehidupan pun kembali sulit, padahal saat itu anak-anaknya sudah menginjak bangku kuliah.

Namun sulitnya hidup tetap dijalani dengan tetap bekerja keras dan banyak berdoa. Tahajudnya rajin sekali. Waktu malam sering kali dihabiskan oleh berdzikir dan berdoa. Waktu siang, tetap bekerja keras ditengah tenaga yang mulai berkurang serta kesehatan yang mulai terganggu.

Namun semuanya dijalani dengan teguh dan tetap memegang kalimat “Laa haula wa la quwwata illa billah”. Semuanya tidak sia-sia. Cita-citanya tercapai. Semua anaknya mencapai pendidikan yang lebih tinggi. Bahkan tiga dari empat anaknya mengenyam bangku kuliah.

Meski sang ayah saat kini sudah tiada, tetapi meninggalkan sebuah warisan yang tidak akan pernah habis bagi anak-anaknya. Bukan harta, sebab hartanya habis untuk menyekolahkan anak-anaknya tetapi sebuah pelajaran akan keteguhan dalam meraih cita-cita.

***

Jangan pernah menyerah! Tetap memiliki harapan yang tinggi, tetap memiliki keyakinan yang tinggi. In syaa Allah, selama kita tidak menyerah, apa yang kita inginkan bisa terwujud.

Kuncinya gabungkan antara harapan, keyakinan, dan kerja keras pantang menyerah untuk mewujudkan impian Anda. Jangan kubur impian Anda meski banyak suara-suara yang mengatakan untuk berhenti.

Follow Me

Rahmat Mr. Power

Author at Zona Sukses
Penulis atau Author berbagai produk Pengembangan Diri: Berpikir Positif, Percaya Diri, Kreativitas, Produktivitas, Motivasi, dan Bisnis selengkapnya http://www.zonasukses.club/
Follow Me

11 Comments

  • Reply echo prasetyo September 8, 2007 at 10:11 am

    ceritanya bagus tuk mampu meningkatkan rasa percaya diri akan kebesaran ALLAH

  • Reply midah December 8, 2007 at 4:20 am

    Hidup memang penuh perjuangan…..Aral yang terus merintang akan senantiasa datang. Yang terpenting bagi kita adalah tetap berusaha dan tawakal kepada Allah. Tidak akan ada sesuatupun yang sia-sia….Tetap semangat dan pantang menyerah!!!!!!!

  • Reply canty May 19, 2008 at 5:28 am

    bagus banget….,wa sampai terharu mbacanaya.memang Qt haruz sadari inilah kehidupan yang sebenaranya..memang begitu berat namun kalo Qt jalani semua karena Allah, terasa begitu ringn.Cobaan yang begitu berat pun lo kita selalu dekat sama Allah begitu mudah untuk kita jalaninya.Inilah kehidupan yang sebenarnya…. penuh makna dan berwarna,jangan pernah sia²kan hari ini,hidup itu buakan kemaren dan bukan pula nanti setapi SEKARANG.
    Selalu ingat kepada Allah SWT dan selalu yakin akan kekuatan Allah……pasti segala urusan Qt akan diberi kemudahan.
    Amin…..

  • Reply drajat June 10, 2008 at 4:35 am

    Ibu ku seorang PNS dengan 4 anak. Cukup lumayan untuk masyarakat di daerahku (Kebumen).
    Hingga beliau pensiun, kami tidak memiliki rumah,mobil, atau tanah?

    Karena dia single parent.
    Semua hartanya untuk pendidikan anak2 nya.Semua sudah lulus kul, Alhamdulillah.

    Sekarang giliran kami mengabdi kepada Ibu.

  • Reply syifa` June 11, 2008 at 1:18 pm

    “tetapi sebuah pelajaran akan keteguhan dalam meraih cita-cita.

    Jangan pernah menyerah!”

    kaliamat yang sangat menggugah. begitu inspiratif, dalam dan kaya makna.
    begitulah seharusnya mentalitas yang harus dimiliki oleh setiap orang, terutama para pemuda karena diatas pundaknyalah segala tonggak kepemimpinan akan ditegakkan.

    saya kagum , benar-benar kagum terhadap tokoh yang berada dalam kisah diatas. ayah tersebut tidak pernah menyerah selagi beliau masih bisa berusaha untuk menggapai harapan dan cita-citanya. beliau tidak mendahului takdir Alloh dengan bersikap pesimis, rendah diri, patah semangat ataupun malas-malasan. namun beliau percaya bahwa Alloh akan senantiasa membantu hanba-hambaNya yang terus berjuang tanpa mengenal rasa lelah.
    Bagaimana dengan kita wahai saudaraku.?

  • Reply ace June 17, 2008 at 12:48 am

    Dijaman sekarang, saya punya persepsi sendiri mengenai sekolah hingga kuliah untuk ke empat anak-anakku yang masih kecil-kecil.
    Begini, faktanya untuk nilai Rp. 100 juta-an rasanya sudah nilai lumrah untuk masuk ke suatu perguruan tinggi di Indonesia, apalagi bicara universitas swastanya dan apalagi jika bicara sekolah di luar negri. Belum lagi biaya-biaya bulanan dan biaya administrative lainnya.

    Rata-rata gaji fresh graduate saat ini sekitar 4 juta-an, dan rasanya tidak worthed dengan biaya dan perjalan panjang yang dilampaui. Untuk itu saya coba berfikir untuk membangun suatu industri atau suatu bisnis yang sedini mungkin anak-anak saya akan terlibat disana. Saya ingin anak-anak saya sukses di bisnis dari pada saya harus memikirkan study mereka hingga perguruan tinggi. Dengan asumsi berhasil dalam bisnisnya, pada saatnya nanti, biar mereka sendiri yang memikirkan dan memutuskan untuk melangkah kedunia pendidikan profesinal. Dari konsep ini paling tidak mereka sudah punya parameter sendiri terhadap bidang profesional yang harus diraih. Dengan kata lain, saya focus pada bidang bisnis untuk hidup dan masa depan mereka dan mereka menentukan sendiri mengenai masa depan pendidikannya.

    Saya sadari hal ini memang merupakan pola yang terbalik dari pemikiran normative di masyarakat, dimana orang tua benar-benar memikirkan proses pendidikan anak setinggi-tingginya, sedangkan proses bisnis merupakan urusan mereka setelah selesai kuliah.

    Alasan yang mendasari hal ini tidak lain karena sejak dari TK-SD dst…, kita sudah amat terbebani oleh mahalnya biaya sekolah !!! Dan lulus menjadi sarjanapun bukan tolok ukur akan mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang memuaskan, bahkan banyak yang tidak mendapat kesempatan untuk bekerja, dan pemerintahpun tak bisa berbuat banyak untuk hal-hal seperti ini.

    Namun jika kita kembali pada concept kehidupan yang utuh dan hakiki, untuk saya pribadi area dzahir sebetulnya hanya menempati prioritas ke 2, sedangkan prioritas pertamanya adalah masalah bathin. Dimana pembentukan bathin yang berIMAN dan berTAQWA merupakan hakikat yang mutlak, sedangkan perjalanan dzahir seperti yang kita bicara diatas hanya sebagai syariat yang merupakan petunjuk dari proses hakikat yang telah kita lakukan.

    Methodology itu pernah beberapa kali saya lalui, dan salah satunya yang baru saja saya alami ketika sakit Prostat yang lumayan parah, namun dari awal saya sudah bertekad untuk menerima dengan ikhlas penyakit ini dan akan melaluinya tanpa keluh kesah. Kenyataanya memang cukup berat, dalam sakit yang amat sakit terjadilah peperangan antara keyakinan dan keraguan, dalam proses ini saya mengandalkan satu ayat ” hanya engkaulah tempat aku bergantung “, dan alhamdulillah, semuanya terlampui. Setelah 5 hari, prostat itu sembuh tanpa proses medis.
    Dua minggu kemudian saya terkena Thypes, dan saya memprosesnya dengan cara yang sama dengan satu doa, ” jika saya membutuhkan obat, maka Engkau akan memberikannya “, dan obat itu saya dapatkan dari pemberian kakak saya, saya minum sebagai syariat tentunya.

    Dalam berbisnis juga saya menggunakan methodolody Hakikat dan Syariat tersebut, dan fakta di setengah perjalan ini juga sudah membuktikan buah suatu keberhasilan. Dalam kurun waktu belum genap satu tahun, modal yang saya gunakan, saat ini keuntungan diatas kertas sudah bisa mencapai 100 %. Itulah karunia dan jalanNYA…

    Beleave it or Not ?
    Please beleave it, kerena Al Qur’an mengandung 100 % kepastian jika kita menggunakannya dengan benar.

  • Reply dede June 11, 2009 at 6:39 pm

    jazakallah ustadz…

  • Reply margiyanto April 4, 2010 at 1:03 pm

    pak mohon ijin menggunakan artikelnya untuk dipublish offline

    terima kasih

  • Reply siswan November 24, 2010 at 10:57 am

    saya sebagai seorang anak kayaknya mengalami cerita tersebut atas perjuangan orang tua terhadap anak-anaknya

  • Reply bahasa arab January 15, 2011 at 2:59 pm

    terharu setelah membaca artikel ini..
    SEMANGAT…SEMANGAT..
    mari kita SEMANGAT dalam meraih cita2 kita..
    moga Allah memudahkan kita dalam meraih cita2 kita..

  • Leave a Reply

    WordPress Anti-Spam by WP-SpamShield

    X

    Download eBook Gratis


    Nama Depan :
    Alamat Email :