• Depan
  • Tentang MI
  • Kata Mutiara
  • Kontak
  • Komentar Positif
  • Kirim Artikel

Kisah Dua Tukang Sol

Mang Udin, begitulah dia dipanggil, seorang penjual jasa perbaikan sepatu yang sering disebut tukang sol. Pagi buta sudah melangkahkan kakinya meninggalkan anak dan istrinya yang berharap, nanti sore hari mang Udin membawa uang untuk membeli nasi dan sedikit lauk pauk. Mang Udin terus menyusuri jalan sambil berteriak menawarkan jasanya. Sampai tengah hari, baru satu orang yang menggunakan jasanya. Itu pun hanya perbaikan kecil.

Perut mulai keroncongan. Hanya air teh bekal dari rumah yang mengganjal perutnya. Mau beli makan, uangnya tidak cukup. Hanya berharap dapat order besar sehingga bisa membawa uang ke rumah. Perutnya sendiri tidak dia hiraukan.

Di tengah keputusasaan, dia berjumpa dengan seorang tukan sol lainnya. Wajahnya cukup berseri. “Pasti, si Abang ini sudah dapat uang banyak nich.” pikir mang Udin. Mereka berpapasan dan saling menyapa. Akhirnya berhenti untuk bercakap-cakap.

“Bagaimana dengan hasil hari ini bang? Sepertinya laris nich?” kata mang Udin memulai percakapan.

“Alhamdulillah. Ada beberapa orang memperbaiki sepatu.” kata tukang sol yang kemudian diketahui namanya Bang Soleh.

“Saya baru satu bang, itu pun cuma benerin tahitan.” kata mang Udin memelas.

“Alhamdulillah, itu harus disyukuri.”

“Mau disyukuri gimana, nggak cukup buat beli beras juga.” kata mang Udin sedikit kesal.

“Justru dengan bersyukur, nikmat kita akan ditambah.” kata bang Soleh sambil tetap tersenyum.

“Emang begitu bang?” tanya mang Udin, yang sebenarnya dia sudah tahu harus banyak bersyukur.

“Insya Allah. Mari kita ke Masjid dulu, sebentar lagi adzan dzuhur.” kata bang Soleh sambil mengangkat pikulannya.

Mang udin sedikit kikuk, karena dia tidak pernah “mampir” ke tempat shalat.

“Ayolah, kita mohon kepada Allah supaya kita diberi rezeki yang barakah.”

Akhirnya, mang Udin mengikuti bang Soleh menuju sebuah masjid terdekat. Bang Soleh begitu hapal tata letak masjid, sepertinya sering ke masjid tersebut.

Setelah shalat, bang Soleh mengajak mang Udin ke warung nasi untuk makan siang. Tentu saja mang Udin bingung, sebab dia tidak punya uang. Bang Soleh mengerti,

“Ayolah, kita makan dulu. Saya yang traktir.”

Akhirnya mang Udin ikut makan di warung Tegal terdekat. Setelah makan, mang Udin berkata,

“Saya tidak enak nich. Nanti uang untuk dapur abang berkurang dipakai traktir saya.”

“Tenang saja, Allah akan menggantinya. Bahkan lebih besar dan barakah.” kata bang Soleh tetap tersenyum.

“Abang yakin?”

“Insya Allah.” jawab bang soleh meyakinkan.

“Kalau begitu, saya mau shalat lagi, bersyukur, dan mau memberi kepada orang lain.” kata mang Udin penuh harap.

“Insya Allah. Allah akan menolong kita.” Kata bang Soleh sambil bersalaman dan mengucapkan salam untuk berpisah.

Keesokan harinya, mereke bertemu di tempat yang sama. Bang Soleh mendahului menyapa.

“Apa kabar mang Udin?”

“Alhamdulillah, baik. Oh ya, saya sudah mengikuti saran Abang, tapi mengapa koq penghasilan saya malah turun? Hari ini, satu pun pekerjaan belum saya dapat.” kata mang Udin setengah menyalahkan.

Bang Soleh hanya tersenyum. Kemudian berkata,

“Masih ada hal yang perlu mang Udin lakukan untuk mendapat rezeki barakah.”

“Oh ya, apa itu?” tanya mang Udin penasaran.

“Tawakal, ikhlas, dan sabar.” kata bang Soleh sambil kemudian mengajak ke Masjid dan mentraktir makan siang lagi.

Keesokan harinya, mereka bertemu lagi, tetapi di tempat yang berbeda. Mang Udin yang berhari-hari ini sepi order berkata setengah menyalahkan lagi,

“Wah, saya makin parah. Kemarin nggak dapat order, sekarang juga belum. Apa saran abang tidak cocok untuk saya?”

“Bukan tidak, cocok. Mungkin keyakinan mang Udin belum kuat atas pertolongan Allah. Coba renungkan, sejauh mana mang Udin yakin bahwa Allah akan menolong kita?” jelas bang Soleh sambil tetap tersenyum.

Mang Udin cukup tersentak mendengar penjelasan tersebut. Dia mengakui bahwa hatinya sedikit ragu. Dia “hanya” coba-coba menjalankan apa yang dikatakan oleh bang Soleh.

“Bagaimana supaya yakin bang?” kata mang Udin sedikit pelan hampir terdengar.

Rupanya, bang Soleh sudah menebak, kemana arah pembicaraan.

“Saya mau bertanya, apakah kita janjian untuk bertemu hari ini, disini?” tanya bang Soleh.

“Tidak.”

“Tapi kenyataanya kita bertemu, bahkan 3 hari berturut. Mang Udin dapat rezeki bisa makan bersama saya. Jika bukan Allah yang mengatur, siapa lagi?” lanjut bang Soleh. Mang Udin terlihat berpikir dalam. Bang Soleh melanjutkan, “Mungkin, sudah banyak petunjuk dari Allah, hanya saja kita jarang atau kurang memperhatikan petunjuk tersebut. Kita tidak menyangka Allah akan menolong kita, karena kita sebenarnya tidak berharap. Kita tidak berharap, karena kita tidak yakin.”

Mang Udin manggut-manggut. Sepertinya mulai paham. Kemudian mulai tersenyum.

“OK dech, saya paham. Selama ini saya akui saya memang ragu. Sekarang saya yakin. Allah sebenarnya sudah membimbing saya, saya sendiri yang tidak melihat dan tidak mensyukurinya. Terima kasih abang.” kata mang Udin, matanya terlihat berkaca-kaca.

“Berterima kasihlah kepada Allah. Sebentar lagi dzuhur, kita ke Masjid yuk. Kita mohon ampun dan bersyukur kepada Allah.”

Mereka pun mengangkat pikulan dan mulai berjalan menuju masjid terdekat sambil diiringi rasa optimist bahwa hidup akan lebih baik.

Posted by Rahmat Mr. Power March 31, 2009 under Cerita Inspiratif and tagged Cerita Inspirasi, ikhlas, sabar, tawakal.
11 Comments
  1. sukijan
    March 31, 2009 at 7:58 pm | Permalink

    ceritanya ispriratif bang,maaf ini kisah nyata acara buka ya bank kl blh tau sumbernya dari mana?

  2. Nopriansyah
    March 31, 2009 at 8:49 pm | Permalink

    Assalamu’alaikum
    Keyakinan itu harus sering dilatih. Caranya ya harus banyak2 berusaha mengambil hikmah dalam setiap kejadian yang Kita alami, banyak berkorban. InsyaAllah Yakinnya jadi meningkat dan bahkan bisa menular

  3. admin
    March 31, 2009 at 8:59 pm | Permalink

    Ini kisah fiksi, tapi saya ambil dari relita. Cerita ini saya yang buat.

  4. ira
    April 2, 2009 at 9:09 am | Permalink

    jadi sedih,malu banget saya sama diri saya yang jarang banget menyadari nikmat allah
    makasih banget ceritanya

  5. irwan
    April 2, 2009 at 3:27 pm | Permalink

    Subhanallah walhamdulillah wa ala illah wa Allah hu Akbar..

  6. choirul_aj
    April 2, 2009 at 6:31 pm | Permalink

    semua nikmat yang telah Allah berikan memang harus kita syukuri

  7. Devi Yasmin
    April 7, 2009 at 12:06 am | Permalink

    Bagus sekali ceritanya pak, kadang kita tak mau menyandarkan diri kepada Allah…tak yakin Allah akan menolong…padahal kalau kita mencintai Allah , pasti kita rela menyandarkan diri kepadaNya…kadang-kadang cinta kita hanya di mulut, tidak di perbuatan…padahal Allah sangat mencintai kita….bahkan tanpa kita balas pun, Allah tetap mencintai kita

  8. Prastuty
    April 7, 2009 at 6:41 pm | Permalink

    Hal yang memang seharusnya kita yakini tapi terkadang kita sendiri yang meragukannya. Padahal sudah jelas dalam salah satu ayat yang menyatakan semakin kita bersyukur maka semakin ditambah nikmatnya oleh Allah. Semoga hati ini senantiasa bersabar dan mensyukuri nikmat yang Allah berikan. Amin.

  9. Prastuty
    April 7, 2009 at 6:44 pm | Permalink

    Insya Allah dengan syukur dan tetap berdoa pada malam setelah shalat tahajud doa dan harapan kita akan terkabulkan. Yakinlah Allah berkehendak sesuai dengan prasangka hambanya. Allahu Akbar.

  10. damalisd
    May 20, 2009 at 8:44 am | Permalink

    Terkadang seorang motivator pun butuh motivator lain untuk memberi motivasi… “sy ibarat mang udin yang butuh kehadiran bang sholeh untuk mentraktir”… adakah bang sholeh itu…??? yang benar-benar ikhlas melakukan sesuatu kebajikan dengan hati yang benar-benar tulus dan bersih..??..saatnya anda membantuku bang sholeh…

  11. Zul Asri
    July 15, 2009 at 7:54 pm | Permalink

    Luar biasa ceritanya, ,ini bsa membuka kecerdasan spritual seseorang,,,sya sempat terharu dan malu kpda diri sya sendiri..terima kasih motivasinya,,,sya haus akan motivasi sperti ini…

Leave a Comment

Your email is never shared. Required fields are marked *

*
*

Spam Protection by WP-SpamFree

  • Newsletter Motivasi Islami

    Dapatkan Belasan eBook Gratis dan Update Artikel Terbaru Motivasi Islami
    Name
    eMail
  • Motivasi-IslamiDotCom on Facebook
  • Inspirasi Harian

    • Sumber Pahala dan Berkah
      January 30, 2010 | 5:05 am

      Bersodaqoh pahalanya sepuluh, memberi hutang (tanpa bunga) pahalanya delapan belas, menghubungkan diri dengan kawan-kawan pahalanya dua puluh dan silaturrahmi (dengan keluarga) pahalanya dua puluh empat. (HR. Al Hakim)

    • Archive for Inspirasi Harian »
  • Posting Terbaru

    • Bersabarlah Dalam Memahami
    • Saat Mimpi Sulit Terwujud
    • Memaafkan Diri Sendiri
    • Berpikir Sebelum Bertindak
    • Menyambut Lowongan Kerja
  • Komentar Terbaru

    • fadly muin on Kekuatan Pikiran Bawah Sadar
    • Rosye Elly Tanjung on Bisakah Memakan Sepeda?
    • aan dulhadi on Kata Mutiara
    • unna dharma on Dua Kalimat yang Mengubah Hidup
    • Al'BoC'12 on Kata Mutiara 1
  • Paling Ngetop

    • Dua Kalimat yang Mengubah Hidup
    • Sumber Pahala dan Berkah
    • Motivasi Diri: Kekuatan Cinta
    • Syukur Mengubah Hidup Anda
    • Berdo’a Untuk Keteguhan Hati
  • Ngetop Hari Ini

    • Sumber Pahala dan Berkah
    • Dua Kalimat yang Mengubah Hidup
    • Bersabarlah Dalam Memahami
    • Motivasi Diri: Kekuatan Cinta
    • Syukur Mengubah Hidup Anda
  • Add Saya

  • RSS Rahmat ST is… Mr. Power

    • Fokuslah dan Bersabar dalam Bisnis
    • Jangan Menjual eBook Sampah
    • Cara yang Benar Promosi di Facebook
    • Mau iPod Nano 5G @ Rp 1,7 juta Gratis?
    • Kenapa eBook dan Buku Masih Laku?
  • Meta

    • Register
    • Log in
    • Entries RSS
    • Comments RSS
    • WordPress.org
Copyright © 2010 CraniumThemes.com · All Rights Reserved
Powered by Wordpress. Design by CraniumThemes.com
Copy Protected by Computer Tech Tips's Prevent Wordpress Copy & CopyProtect Blogs.