| | |

Hikmah Mengendalikan Emosi Dalam Meraih Sukses


Apa hikmah mengendalikan emosi? Apa kaitannya mengendalikan emosi dengan meraih sukses?

Sangat erat, bahkan bisa dikatakan kemampuan mengendalikan emosi salah satu kunci sukses. Jika kita tidak bisa mengendalikan emosi, sukses sulit diraih.

Yang dimaksud emosi bukan marah saja. Marah hanyalah salah satu dari bentuk emosi. Selain marah masih banyak bentuk emosi lainnya. Ada 6 emosi utama, yaitu cinta, gembira, marah, terkejut, sedih, dan takut. Masing-masing emosi utama ini terbagi ke emosi sekunder dan tertier yang cukup banyak. Selengkapnya bisa dibaca disini.

Kita tidak sedang membicarakan bagaimana cara menekan atau menghilangkan emosi. Yang diperlukan adalah mengendalikannya. Marah adalah salah satu emosi yang sering dibahas oleh Rasulullah SAW. Pernah beliau mengajarkan kita untuk menahan marah, meski beliau juga pernah marah pada tempatnya.

Artinya emosi itu bukan untuk dihilangkan, tetapi dikendalikan agar memberikan manfaat terbaik bagi kita. Misalnya takut. Jika kita memperturutkan ketakutan, kita tidak akan sukses. Tetapi, takut sangat penting untuk menjaga keselamatan kita.

hikmah mengendalikan emosi

Kekuatan Adalah Modal Untuk Meraih Sukses

Untuk meraih sukses, kita perlu bertindak. Bukan hanya bertindak, tetapi berjuang, bekerja keras, ulet, dan tekun. Ini akan membutuhkan kekuatan mental, selain kekuatan fisik. Dan orang yang mampu menahan diri (mengendalikan diri) di kala sedang marah (emosi) mereka adalah orang yang kuat.

“Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi Saw. telah bersabda: Orang yang kuat itu bukanlah karena jago gulat, tetapi orang kuat ialah orang yang dapat menahan dirinya di kala sedang marah.” (HR Bukhari dan Muslim).

Malas dan Suka Menunda-nunda

Banyak yang mengatakakan bahwa malas atau menunda-nunda salah satu penyebab gagalnya sukses. Malas atau suka menunda-nunda adalah perilaku yang disebabkan oleh kondisi emosi. Artinya orang yang malas dan/atau suka menunda-nunda salah satu akibat dari ketidak mampuan mengendalikan emosi.

Salah satu penyebab munculnya malas dan menunda-nunda adalah ada perasaan yang tidak nyaman. Misalnya gara-gara depresi (bagian dari emosi kesedihan) dan keraguan (bagian dari emosi ketakutan).

Saat kita tidak mengendalikan depresi dan keraguan, maka kita mungkin akan malas dan/atau menunda-nunda. Disaat kita malas dan/atau menunda-nunda, maka sukses akan sulit diraih.

Mengapa emosi negatif seperti kesedihan akan mendorong kita menjadi malas atau menunda-nunda? Karena kecendrungan kita ingin sesuatu yang mengobati emosi kesedihan atau justru larut dalam kesedihan.

Orang yang ingin mengobati kesedihan akan memilih hal-hal menyenangkan, seperti main media sosial atau nonton. Orang yang larut dalam emosinya, fokus pikirannya tidak ada yang lain kecuali emosi yang sedang dia alami.

Memang tidak mudah untuk bisa mengendalikan emosi negatif seperti kesedihan, ketakutan, dan kemarahan. Maka wajar, jika Rasulullah SAW menyebutnya sebagai orang kuat.

Mau menjadi orang kuat? Harus mau, sebab Allah lebih mencintai Mukmin yang kuat.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , beliau berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allâh Azza wa Jalla daripada Mukmin yang lemah; dan pada keduanya ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allâh (dalam segala urusanmu) serta janganlah sekali-kali engkau merasa lemah. Apabila engkau tertimpa musibah, janganlah engkau berkata, Seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini dan begitu, tetapi katakanlah, Ini telah ditakdirkan Allâh, dan Allâh berbuat apa saja yang Dia kehendaki, karena ucapan seandainya akan membuka (pintu) perbuatan syaitan. Hadits ini shahîh. Diriwayatkan oleh Muslim (no. 2664);

Hikmah mengendalikan emosi yang pertama adalah Anda tidak akan malas dan menunda lagi.

Kerja Keras dan Tangguh

Sebaliknya, jika Anda memiliki emosi positif, maka dampaknya Anda akan menjadi pekerja keras dan tangguh. Emosi cinta, optimisme, antusias, dan lainnya akan menjadikan Anda pekerja keras dan tangguh. Anda tidak akan mudah menyerah.

Dan ini yang dibutuhkan untuk meraih sukses. Salah satu modal sukses adalah kerja keras. Kerja keras akan bisa Anda lakukan jika emosi Anda mendukung. Anda pun akan tangguh, tidak mudah menyerah, dan terus bertindak sampai berhasil.

Disini jelas bahwa hikmah mengendalikan emosi berikutnya membuat Anda menjadi pekerja keras dan tangguh.

Hubungan Emosi dan Perilaku

Pikiran dan tindakan akan dipengaruhi oleh perilaku. Contoh gampangnya bagaimana cara bicara orang yang sedang marah. Sering kali orang yang sedang marah mengambil keputusan yang salah dan disesali seumur hidup.

Jika setelah marah, kemudian marahnya reda, bisa jadi pikiran kembali ke kondisi sebelum marah. Namun jika tertahan, maka akan menjadi apa yang disebut suasana hati atau mood. Ini adalah perasaan yang terkait dari emosi, meski kejadiannya terjadi berhari-hari yang lalu.

Jika suasa hati itu terus berlanjut bahkan melekat pada diri kita, selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, maka itu akan menjadi sifat atau karakter kita. Perilaku kita akan dipengaruhi oleh emosi kita. Dan perilaku akan menentukan hasil-hasil yang kita raih dalam kehidupan kita.

Jelas bukan? Emosi akan menentukan perilaku dan perilaku akan menentukan sukses Anda. Itu akan terjadi jika emosi masih tertahan dalam diri kita.

Dari sini, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa jika ada perilaku-perilaku kita yang kurang bagus, itu karena masih ada emosi negatif dalam diri kita. Mungkin kita tidak marah-marah selalu, tetapi kemarahan itu ada di dalam pikiran bawah sadar kita. Sementara pikiran bawah sadar akan menentukan perilaku otomatis kita sehari-hari.

Jika di masa lalu kita penuh dengan emosi negatif, jika tidak dilepaskan, maka emosi itu akan berpengaruh pada perilaku kita. Sebagian orang ada yang menjadi jahat dan kejam. Ada sebagian yang tetap baik, tetapi memiliki sikap-sikap negatif yang merusak sukses.

Inilah hikmah mengendalikan emosi yang terbesar. Ujungnya adalah keberhasilan Anda.

Hikmah Mengendalikan Emosi

Dari penjelasan diatas, kita bisa bisa mengambil kesimpulan tentang hikmah mengendalikan emosi:

  • Anda menjadi orang yang rajin dan tidak suka menunda-nunda
  • Anda akan menjadi pekerja keras dan tangguh
  • Anda akan memiliki prilaku baik dan karakter orang sukses

Dari sini sudah jelas, pentingnya mengendalikan emosi. Pertanyaan, bagaimana cara mengendalikan emosi? Mari kita bahas.

3 Langkah Mengendalikan Emosi

Banyak orang yang membahas bagaimana cara mengendalikan emosi dalam diri kita. Sayangnya, kebanyakan pembahasan hanya berfokus pada cara meredam emosi. Memang betul, meredam emosi adalah satu langkah untuk mengendalikan emosi. Dan itu langkah ketiga.

Lalu apa langkah pertama dan keduanya?

Banyak orang yang sudah bisa dengan mudah menahan dan meredam emosinya. Tetapi belum bisa mengubah perilakunya. Kenapa? Karena masih banyak mindset yang salah dan emosi dari masa lalu.

Langkah Pertama Benahi Mindset Anda

Sering kali, kita sering marah karena mindset yang salah. Karena mindset yang salah, kita mudah terpancing marah. Sebagai contoh mindset yang salah: “marah itu baik”.

Orang yang memiliki mindset “marah itu baik”, maka dia tidak akan merasa bersalah dengan marah. Mungkin dalam bentuk lain seperti ngomel atau mengkritik pedas. Dia akan terus melakukannya, sehingga hidupnya akan terus marah-marah.

Atau contoh lain, “saya kecewa kalau gagal”. Ini mindset yang salah. Akibatnya dia akan selalu kecewa saat gagal. Dan dia akan terus kecewa karena kegagalan masa lalu, sebab dia menganggap kecewa itu wajar. Wajar atau tidak wajar, ditentukan oleh mindset Anda sendiri.

Saya tidak mengatakan kedua mindset itu salah. Hanya perlu diperbaiki sehingga membuat kita tidak emosional, baik itu marah atau kecewa. Coba perbaiki dengan mindset yang lebih bijak.

“Marah itu baik jika dilakukan pada saat dan tempat yang tepat, tapi tidak segala yang salah harus dimarahi. Akan lebih baik jika kita bisa membetulkan atau mengkoreksi sesuatu dengan cara tidak marah. Marah itu tidak harus.”

Kadang, marah juga disebabkan mindset lain yang melatar belakanginya, yaitu kita selalu ingin mengubah sesuatu dengan cepat. Misalnya anak melakukan kesalahan, kita langsung memarahinya. Kita marah karena ingin mengubahnya dengan cepat. Besok melakukan kesalahan, marah lagi.

Padahal ada mindset yang lebih bijak, bahwa mengubah seseorang itu perlu proses. Apalagi mengubah anak. Sebaliknya marah justru memberi efek negatif kepada anak. Bahwa ada cara yang lebih baik mengubah anak. Tidak harus dengan cara marah.

Kecewa karena gagal? Saya punya mindset yang berbeda, “Bukan kegagalan yang membuat saya kecewa, tetapi sikap yang salah, yang membuat kita kecewa. Kegagalan adalah bagian dari proses dan hal yang wajar.”

Ini hanya dua contoh perubahan mindset yang benar-benar terbukti oleh saya sendiri. Tentu masih banyak mindset lainnya yang bisa kita benahi. Misalnya mindset tentang kesulitan yang kita hadapi. Bagaimana mindset yang benar?

Dan mindset itu bukan hanya diketahui, tetapi harus kita terima dan menjadi bagian hidup kita. Harus kita tanamkan ke pikiran bawah sadar, agar menjadi kompas perilaku kita secara otomatis.

Cara membenahi mindset kita dibahas lebih luas disini.

Langkah Kedua: Bersihkan Emosi Negatif Masa Lalu

Seperti dibahas di atas, bahwa emosi negatif yang masih terjebak dalam diri kita, itu akan membentuk karakter kita. Oleh karena itu, kita perlu membersihkan emosi negatif di masa lalu, agar kita kembali segar, tanpa adanya emosi negatif.

Saya sebenarnya sudah membahas secara terpisah, teknik-teknik untuk membersihkan emosi masa lalu, yaitu:

Lakukan teknik-teknik ini, in syaa Allah emosi negatif akan bersih. Itu adalah teknik-teknik pembersihan diri dari emosi negatif.

Langkah Ketiga: Kendalikan Emosi dan Reaksinya

Nah, sekarang masuk ke langkah ketiga yaitu berkaitan dengan mengendalikan emosi dan mengendalikan reaksinya. Tujuan mengendalikan emosi disini adalah:

  • Emosi segera berhenti dan tidak membesar
  • Ganti segera dengan emosi positif

Jika Anda marah, agar tidak membesar marah Anda. Jika Anda kecewa agar tidak membesar kecewa Anda. Jika Anda ragu agar tidak membesar keraguan Anda. Dan sebagainya.

Hentikan Emosi Anda

Langkah pertama mengendalikan emosi adalah dengan segera menghentikannya. Rasulullah SAW sudah mengajarkan kepada kita caranya.

Dari berbagai hadist, berikut cara yang dianjurkan Rasulullah SAW untuk mengatasi marah (sumber):

  1. Membaca ta’awudz, karena marah bisa menjadi dorongan dari syaithan.
  2. Diamlah. Tahan marah Anda.
  3. Ambil posisi yang lebih rendah, jika saat berdiri, duduklah. Jika saat duduk, berbaringlah.
  4. Ingat-ingat balasan orang yang bisa mengendalikan amarah.
  5. Segera Berwudhu atau Mandi.

Ini pun sama untuk emosi lainnya. Misalnya takut, maka Anda harus segera menghentikan ketakutan tersebut jangan sampai membesar. Takut jika dipikirkan akan semakin membuat kita takut. Justru, saat kita takut, lanjutkan bertindak. Takut tidak akan membesar.

Saat kita malas, lanjutkan bertindak agar emosi dibalik malas tidak membesar. Dan caranya sama, dengan bergerak. Misalnya disaat kita mau bangun shalat shubuh, kemudian muncul malas bangun, maka segera duduk, kemudian berdiri. Jika Anda terus berbaring, malas akan semakin kuat.

Secara umum, salah satu cara menghentikan emosi adalah dengan mengubah fisiologi. Perubahan posisi tubuh. Juga perubahan gerak tubuh.

Atau perubahan dari perkataan kita. Cobalah disaat emosi negatif muncul, baca saja berbagai kalimat thayyibah. Anda bisa beristighfar, ta’awudz, shalawat, dan sebagainya.

Contoh yang sering dilakukan adalah saat marah istighfar. Sayangnya banyak salah kafrah, menjadikan istighfar menjadi ungkapan kemarahan. Misalnya dengan mengatakan istighfar dengan nada tinggi. Ini jelas salah.

Coba cara yang lebih baik. Disaat marah, katakan istighfar dengan lembut, letakan tangan di jantung Anda, dan katakan dalam hati, “ampuni saya ya Allah”. Jika sedang berdiri, duduklah. Jika sedang duduk berbaringlah.

Ganti Dengan Emosi Positif

Jika tadi kita menggunakan fisik, sekarang kita menggunakan pikiran. Misalnya jika marah, setelah marah Anda dihentikan secara fisiologi (duduk misalnya), maka segera pikiran sadar Anda mengambil alih.

Pikiran sadar Anda bisa segera mengambil alih emosi dan memerintahkan kepada diri kita dengan emosi positif. Misalnya saat marah, langsung katakan pada diri sendiri, “Saya adalah orang yang shabar.”

Contoh lain, misalnya malas. Katakan kepada diri sendiri, “Meski saya malas, saya tetap bertindak.” Jika takut, “Meski saya takut, saya tetap mencoba.”

Kenapa tidak langsung mengatakan “Saya berani”, alih-alih mengatakan “Meski saya takut, saya tetap mencoba.”

Mengatakan “Saya berani” itu adalah afirmasi yang kuat, tetapi kita belum siap. Jadi tidak ada salahnya kita menerima dulu (sementara). Nanti kita perkuat dengan afirmasi yang 100% positif.

Latihlah

Jika selama ini Anda masih emosional, kemudian berharap langsung berubah, itu harapan yang sulit. Akan butuh latihan dan waktu sampai kita bisa mengendalikan emosi.

Saya sendiri butuh waktu, tidak langsung bisa mengendalikan emosi saya. Tapi terbukti itu bisa berhasil.

Bagaimana cara melatihnya?

Saya sarankan latihlah dulu dalam benak Anda. Serius. Misalnya ada kejadian yang sering membuat Anda marah. Anda ingat-ingat, kapan Anda suka marah dan kalau terjadi kejadian apa. Dimulai dari yang sering terjadi.

Misalnya, saat Anda sedang kerja di rumah, kemudian anak Anda menggangu. Anda biasa marah. Sekarang buat film yang menggambarkan Anda sedang bekerja kemudian anak Anda mengganggu. Bedanya, dalam benak Anda skenariokan Anda tidak marah dan meresponnya dengan baik.

Misalnya dengan mengatakan, “Sayang, ayah sedang bekerja. Nanti kita main bersama.” sambil tersenyum penuh kasih sayang.

Cobalah berulang-ulang. Ini sangat efektif. Jika satu kondisi berhasil, coba beralih ke kondisi lainnya. Misalnya, disaat Anda takut mau presentasi. Lakukan teknik yang sama untuk berlatih presentasi dengan percaya diri di benak Anda.

Sekali lagi, latihan tidak cukup sekali-kali. Lakukan berulang. Jika masih belum berhasil, artinya latihannya masih kurang.

Kesimpulan

Hikmah mengendalikan emosi bukan hanya Anda akan menjadi orang baik, tetapi juga menjadi orang sukses. Dan kabar baiknya, mengendalikan emosi itu bisa dipelajari. Yang jelas bukan hanya bisa meredam emosi yang datang, tetapi juga membersihkan emosi-emosi di masa lalu.

Ada 3 langkah dalam mengendalikan emosi:

  • Preventif: mencegah emosi negatif dengan membenahi mindset.
  • Korektif: membersih emosi negatif di masa lalu.
  • Antisipatif: dengan cara mampu meredam emosi negatif yang datang.

Demikianlah hikmah mengendalikan emosi dan bagaimana langkah-langkah cara kita mengendalikan emosi tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WordPress Anti Spam by WP-SpamShield