| |

Bersyukur Bukan Berarti Pasrah: Mengubah Ucapan Menjadi Tindakan

Kalimat “Sudahlah, syukuri saja yang ada!” sering kali terdengar bagi mereka yang memiliki ambisi besar atau ingin meningkatkan taraf hidup. Bersyukur bukan berarti pasrah. Namun, apakah bersyukur sebenarnya berarti hanya menerima apa yang sudah ada tanpa berharap lebih banyak nikmat lagi?

Dalam pandangan agama dan spiritualitas, perintah bersyukur sejatinya adalah lebih dari sekadar menerima, melainkan juga mengakui dan berterima kasih atas semua nikmat Allah, baik yang telah hadir maupun yang masih akan datang.

Bersyukur Bukan Berarti Pasrah: Mengubah Ucapan Menjadi Tindakan

1. Perintah Bersyukur dalam Ajaran Agama

Allah secara tegas mengingatkan tentang pentingnya bersyukur dalam berbagai ajaran agama. QS Ibrahim ayat 7 dalam Al-Quran menjelaskan tentang perintah bersyukur dan janji bahwa Allah akan menambah nikmat-Nya kepada hamba-Nya yang bersyukur. Ini mengindikasikan bahwa bersyukur bukanlah sekadar tindakan pasif, melainkan merupakan gerbang untuk menerima lebih banyak nikmat Ini artinya bersyukur bukan berarti pasrah.

2. Doa para Nabi dan Permintaan Tambahan Nikmat

Para Nabi dalam sejarah juga telah mencontohkan bagaimana berdoa untuk meminta tambahan nikmat kepada Allah. Ini menunjukkan bahwa manusia dianjurkan untuk berusaha mendapatkan nikmat lebih banyak dengan tetap mengakui dan bersyukur atas nikmat yang sudah ada. Sebagai umat Islam, kita seharusnya tidak terjebak dalam pemahaman keliru bahwa kita tidak berhak untuk mendapatkan lebih banyak nikmat.

3. Mensyukuri Nikmat yang Sudah Ada sambil Meningkatkan Ambisi

Bersyukur bukan berarti pasrah. Kita berhak mendapatkan nikmat lebih banyak sekaligus tetap mensyukuri nikmat yang sudah ada. Penting untuk mengubah mindset kita menjadi orang yang bersyukur sambil tetap memelihara semangat untuk meraih nikmat lebih banyak lagi. Ini adalah wujud konkret dari menghargai nikmat yang telah diberikan.

4. Dari Ucapan Menjadi Prilaku yang Konsisten

Namun, bersyukur bukan hanya sekadar mengucapkan rasa terima kasih. Merupakan keyakinan yang keliru jika hanya bersyukur dengan kata-kata tanpa diiringi tindakan. Maksud sejati bersyukur adalah mengubah ucapan menjadi prilaku yang konsisten sesuai dengan ajaran syariat dan hakekatnya. Ini berarti menjalankan perbuatan yang menggambarkan rasa syukur kita kepada Allah.

5. Shalat, Berkurban, dan Ibadah Sebagai Wujud Bersyukur

Salah satu bentuk nyata dari bersyukur adalah melalui shalat dan berkurban. Ibadah ini bukan hanya sebagai kewajiban, tetapi juga sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah. Selain itu, menjalankan ibadah dan berinteraksi dengan sesama manusia dengan penuh kasih sayang dan rasa tanggung jawab juga merupakan wujud konkret dari bersyukur.

6. Keterkaitan Syariat dan Hakekat dalam Bersyukur

Keterkaitan antara menjalankan ajaran syariat agama dan memahami hakekat dari perintah bersyukur adalah kunci dalam merasakan nikmat Allah. Melalui pemahaman dan tindakan yang konsisten, kita dapat lebih mendalam merasakan nikmat-Nya dan mendapatkan keberkahan.

7. Mengalirkan Nikmat Allah Melalui Tindakan Kreatif

Kehadiran nikmat Allah memerlukan penggunaan dan kreativitas agar nikmat tersebut terus mengalir dalam hidup kita. Dengan memanfaatkan nikmat-Nya untuk hal yang bermanfaat dan mendukung, kita dapat memperluas dampak positif dari nikmat tersebut. Jelas bahwa bersyukur bukan berarti pasrah.

8. Meraih Keberkahan melalui Niat dan Perubahan Tindakan

Meraih keberkahan dan sukses dalam hidup tidak hanya berbicara tentang menerima lebih banyak nikmat, tetapi juga tentang memiliki niat baik dan melakukan perubahan tindakan. Dengan niat yang tulus dan tindakan yang sesuai dengan nilai-nilai agama, kita dapat meraih kebahagiaan yang mendalam.

9. Menghindari Ketidakpuasan dengan Menghargai Nikmat Allah

Bersyukur juga membantu kita menghindari rasa ketidakpuasan terhadap ibadah dan pengorbanan yang telah kita lakukan. Dengan terus menjaga hubungan baik dengan Allah melalui rasa syukur, kita dapat memastikan agar nikmat-Nya terus mengalir dalam hidup kita.

10. Menjaga Hubungan Baik dengan Allah Melalui Bersyukur

Hakekat nikmat Allah memerlukan pemahaman dan tindakan yang konsisten. Dengan tetap bersyukur dan menjaga hubungan baik dengan Allah, kita dapat merasakan kedekatan spiritual yang mendalam dan mengalami dampak positif dalam kehidupan sehari-hari.

Kesimpulan Bersyukur Bukan Berarti Pasrah

Bersyukur bukanlah tindakan pasif atau sekadar menerima apa yang telah ada. Bersyukur merupakan bentuk pengakuan, penghargaan, dan tindakan konsisten yang menggambarkan hubungan kita dengan Allah. Dengan menjalankan perintah bersyukur secara lebih mendalam dan melalui tindakan yang sesuai dengan ajaran agama, kita dapat merasakan kebahagiaan yang lebih besar serta mengalami nikmat-Nya dalam segala aspek kehidupan.

FAQs Mengenai Arti Sejati Bersyukur

1. Apakah bersyukur hanya sebatas mengucapkan rasa terima kasih? Tidak, bersyukur melibatkan pengakuan dan tindakan konsisten yang menggambarkan rasa syukur kita kepada Allah.

2. Bagaimana menghindari rasa ketidakpuasan terhadap ibadah yang telah dilakukan? Dengan terus menjaga hubungan baik dengan Allah melalui rasa syukur, kita dapat menghindari rasa ketidakpuasan.

3. Apa hubungan antara menjalankan ajaran syariat agama dan hakekat dari bersyukur? Keterkaitan ini penting dalam merasakan nikmat Allah secara lebih mendalam dan mengalami keberkahan dalam hidup.

4. Mengapa mengubah ucapan menjadi prilaku yang konsisten penting? Karena itulah wujud konkret dari bersyukur yang menggambarkan rasa terima kasih kita kepada Allah.

5. Bagaimana cara meraih keberkahan melalui niat dan perubahan tindakan? Dengan memiliki niat baik dan melakukan perubahan tindakan sesuai dengan nilai-nilai agama, kita dapat meraih kebahagiaan yang lebih dalam.

Lebih jauh tentang bersyukur dan bagaimana pengaruhnya terhadap sukses, di bahas di eBook Beautiful Mind Power.


Kunjungi Juga:

Mau Umroh? Meski Anda Tidak Punya Uang dan Belum Siap?

2 Comments

  1. Saya setuju dengan penjelasan diatas, cuma selama ini setan sering membisikkan kita untuk berusaha lebih dengan tidak bisa membedakan antara mencari nikmat lebih dengan rakus…
    dan sayangnya… kebanyakan dari kita mengiyakan ajakan setan, semoga kita bukan golongan itu…. Amin…

  2. Bersyukur, terkadang hanya menjadi lips service atas karunia yang kita dapatkan dengan mengucapkan Allhamdulillahi rabbil alamin. Hal tsb bukannya salah, hanya saja setiap ucapan pasti mempunyai makna dan tujuan yang harus kita lakukan sehingga membutuhkan niat dan keberanian untuk secara konsisten mewujudkan dalam prilaku. Dan hal itu tentunya seiring dengan keimanan dan ketaqwaan yang kita yakini.

    Banyak perangkap yang datang pada kita jika rasa syukur itu hanya tertuang dalam kalimat saja, NATO ! No Action Talk Only.
    Misalnya ada khabar saudara kita terkena musibah, dan sementara kita hanya berucap, “Allhamdulillahi… kita disini aman-aman saja “, sementara mereka yang terkena musibah tetap dalam kesengsaraan dan kepedihan, dan pertolongan dari sang pengucap Alhamdulillah hanya harapan yang tak berujung.

    At least, dalam berkeyakinan, paling tidak ada dua hal yang tidak bisa kita pisahkan, yaitu menjalankan Syariat dan juga Hakekatnya.
    Menjalankan ibadah atas tatacara yang telah ditentukannya dan menjalankan ibadah atas prilaku sosial hingga bisa mencapai tujuan yang juga telah ditetapkannya, dan tentunya diantara kedua itu mempunyai keterkaitan makna yang juga tidak terpisahkan.

    Bagaimana rasa syukur itu dapat menjadi kesatuan dalam ucap dan terwujud dalam prilaku, rasanya patut kita coba untuk bisa membumikan salah satu surat yang cukup singkat ini (Al Kautsar):
    108:1 “Sesungguhnya Kami tlh memberikan kpdamu nikmat yg banyak”
    Jadi pada dasarnya, kenikmatan yang telah disediakan Allah amat banyak, maka wajiblah kita untuk menyadari keberadaan nikmat tersebut agar bisa di syukuri. Tentu banyak hal yang sudah tersedia dialam semesta ini tanpa kita harus memintanya,
    hanya saja mungkin kita belum menemukan cara terbaik untuk menikmatinya, yaitu mensyukuri karunia itu , lalu bagaimanakah wujud syukur itu agar dapat merasakan nikmat Allah tsb ???

    108:2 “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah “.
    Maka wujud syukur itu adalah Shalat dan berkurban.
    Secara syariat wajibnya ada 5 waktu, hingga mencapai hakekatnya mampu menjadi manusia yang dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar, yaitu dengan melakukan kebaikan-kebaikan dimana rasa kasih sayang kita dapat melintasi batas Ego dan ketamakan diri sehingga rasa kasih sayang itu dapat menebar kepada saudara-saudara kita yang mengharapkannya.
    Dan Berkorbanlah, mungkin pada suatu saat kebaikan saja belum cukup, sehingga perlu pengorbanan yang bisa saja melampui batas-batas normative, namun disanalah nikmat terbesar dari Allah yang patut kita rasakan.

    108:3 “Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus”
    Dan hindarilah rasa ketidakinginan untuk Shalat dan berkorban, baik syariat maupun hakekatnya, karena hal itu dapat memutuskan nikmat Allah yang begitu banyak. Orang-orang yang terputus atas nikmat Allah, maka tidak adalagi kenikmatan hakiki, rasa tidak puas yang tak pernah habis, mengeluh dan complain akan selalu menjadi hiasan bibirnya. Jadi untuk merasakan nikmat Allah yang hakiki perlu suatu proses, dimana nikmat yang ada harus kita utilisasi dan costomize agar bisa menciptakan nikmat-nikmat yang lain. Begitulah life cycle nikmat, perlu kasih sayang dan creativitas agar tidak terputus.

    Semoga apapun yang kita lakukan, tidak akan pernah terputus dari rahmatNYA agar terus mengalir nikmatnya, dan semoga saja tulisan ini bisa melengkapi apa yang telah diutarakan oleh pak Rahmat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WordPress Anti Spam by WP-SpamShield