Halaman Depan
Artikel Motivasi
eBook Gratis
Produk
Kontak Kami
Buku Tamu
Ebook ekslusif berbahasa Indonesia untuk bisnis online Anda
|
|
|
Oleh Rahmat*
Waktu itu, saya masih sebagai siswa sebuah SMU negeri di Bandung. Seperti biasa
jika ada PR, Ibu Guru Kimia selalu membahasnya sebelum memulai pelajaran baru.
"Bagaimana apakah ada kesulitan dalam mengerjakan PR?"
Sang juara kelas menjawab, "Tidak bu kecuali soal nomor tiga, salah soal."
Teman-teman sekelas yang lain hanya diam saja. Si Ibu mengerutkan dahinya, "Ah masa?
Apa iya salah soal? Ada yang bisa nggak?"
Karena kebetulan saya bisa, saya angkat tangan. Spontan si Juara kelas tadi tertawa
sambil berkata, "tidak mungkin, soalnya salah koq..."
Si Ibu guru tidak menghiraukannya, dia meminta buku PR saya. Setelah dia melihat
hasil pekerjaan saya, beliau berkata,"Yah, betul kamu, soalnya tidak salah."
Rasa malu terlihat di wajah bintang kelas tersebut, dengan senyum-senyum malu
dia meminjam buku PR saya.
Cerita ini juga sejalan dengan cerita pada saat Nabi Nuh AS membuat bahtera,
banyak orang yang menertawakannya bahkan dianggap gila karena membuat perahu
besar pada saat kemarau. Mungkin Anda tahu cerita lengkapnya, bagaimana nasib
orang- orang yang menertawakan tersebut?
Begitu juga, saat seseorang pebisnis yang mengeluarkan ide akan menjual air putih
dalam kemasan. Banyak yang menertwakan dengan alasan :
- Disetiap rumah hampir selalu tersedia air putih
- Air dalam kemasan harganya cukup mahal (bahkan lebih mahal dari bensin, waktu itu)
Sekarang Anda lihat bagaimana maraknya pasar air dalam kemasan. Orang yang
menertawakan tadi pasti lupa, bahwa dengan air kemasan, yang dijual ialah "kepraktisian".
Masih banyak cerita seperti ini, dimana orang dengan mudahnya menertwakan orang
lain tanpa meneliti terlebih dahulu. Jika kita lebih teliti bahwa menertwakan
orang lain adalah suatu hal yang sangat jelek, meskipun orang yang kita tertawakan
itu memang salah.
- Dengan menertawakan orang lain, menunjukan kesombongan kita. Dengan yakinnya kita
benar atau tidak akan mengalami kesalahan tersebut.
- Berburuk sangka, kita belum tahu benar apa di balik perlakuan orang lain.
- Tetapi banyak orang yang dengan cepat menghakimi dan langsung menertawakannya.
Menyakiti orang lain.
Coba kita renungi bagaimana menurut agama kita tentang ketiga hal di atas?
Oleh karena itu, jangan tertawakan orang lain. Mengambil hikmah adalah hal yang
jauh lebih mulia dan akan memberikan manfaat bagi kita.
Sikap orang selalu menertwakan pendapat/tindakan orang lain jelas-jelas orang
yang tidak akan maju karena dia hanya mengandalkan kekuatan dia sendiri. Sementara
tidak ada orang yang super, yang bisa menguasai segala hal.
Tetapi jika Anda seorang yang pandai mengambil hikmah atau pelajaran dari orang lain,
akan sangat menunjang kemajuan Anda. Banyak pelajaran yang bisa Anda terapkan untuk
kehidupan Anda, sehingga bukan hanya kekuatan Anda yang digunakan, secara tidak
langsung Anda menggunakan kekuatan orang lain juga.
Rahmat adalah kontributor artikel tetap bagi web site dan Buletin Mingguan Motivasi Islami
www.motivasi-islami.com
Artikel Lainnya......
|
|