Halaman Depan
Artikel Motivasi
eBook Gratis
Produk
Kontak Kami
Buku Tamu
Ebook ekslusif berbahasa Indonesia untuk bisnis online Anda
|
|
|
Oleh Rahmat*
Lamunanku terganggu saat angkot yang kutumpangi memasuki jalan yang rusak, begitu
banyak lubang, kubangan air di sana sini. Badan terasa di goncang, kadang kepala
terantuk ke kaca mobil, ditambah suspensi angkot yang sudah tidak nyaman melengkapi
penderitaan saat itu. Perasaan kesal muncul ditambah gerutu yang sepontan keluar
dari mulut saya, meskipun tidak keras,
"Sudah berbulan-bulan tidak diperbaiki pula, apa tidur nich pemda? Atau pura-pura tidak tahu?"
Meskipun suara saya kecil, tetapi cukup untuk membuat senyum orang yang tepat ada
di depanku. Tetapi entah apa arti senyum itu, entah setuju, entah tidak setuju,
atau dia orang pemda?
Itulah manusia (setidaknya saya) sering perasaan kecewa akan muncul saat kita
mengalami kesulitan atau ketidaknyamanan, protes dan mengeluh, namun saya lupa,
pada saat saya melewati jalan mulus saya lupa untuk berterima kasih atau bersyukur
karena mendapatkan jalan yang baik, yang nyaman. Padahal jalan yang baik jauh
lebih panjang dari jalan yang jelek tadi.
Peristiwa tadi hanya salah satu contoh, orang akan sadar bahwa dia mendapat
kenikmatan setelah kenikmatan tersebut hilang. Saat kenikmatan itu ada seakan-akan
kita tidak mendapatkan apa-apa. Chu-ex saja, jangankan shalat syukur, mengucapkan
Alhamdulillah saja kita sering lupa.
Kita baru sadar nikmatnya sehat setelah kita sakit, kita baru sadar nikmat uang
gaji meskipun sedikit saat kita kehilangan gaji tersebut, kita baru sadar
nikmatnya memakai sendal saat sendal kita hilang dicuri orang dan kita berjalan
dengan kaki telanjang dan masih sangat banyak bahkan tidak terhitung nikmat yang
selalu kita terima, setiap hari, setiap jam, bahkan setiap saat, cuma sayang
kebanyakan orang sering lupa, banyak yang hanya bersyukur saat kembalinya nikmat
yang hilang atau mendapat nikmat yang jarang datang, kita sering lupa mensyukuri
nikmat yang kita rasakan setiap saat.
Saat kita mendapatkan hadiah kita mengucapkan Alhamdilillah, tetapi seberapa
seringkah Anda mensyukuri tiap nafas Anda?
Saya harap Saya dan Anda bukan termasuk orang yang demikian.
Rahmat adalah kontributor artikel tetap bagi web site dan Buletin Mingguan Motivasi Islami
www.motivasi-islami.com
Artikel Lainnya......
|
|