![]() |
||
| Artikel | ||
![]() ![]() ![]() ![]() |
Palestina Oleh Rahmat* Kita adalah saksi bagaimana pergolakan yang terjadi di Palestina. Berbagai peristiwa terjadi di sana, tentu saja antara Palestina dengan Israel yang dibantu oleh Amerika. Di sini saya tidak akan membahas siapa yang benar atau siapa yang salah. Namun kita akan mengambil hikmah dari apa yang terjadi di sana. Siapa yang tidak tahu bagaimana pergerakan Hamas di sana, apa lagi penduduk Palestina sendiri. Sekian tahun Hamas melakukan pergerakan melawan Israel dengan caranya sendiri. Sementara sebagian kelompok berjuang dengan cara damai atau diplomasi. Pemilihan Umum akhirnya diselenggarakan di Palestina. Suatu kejutan ternyata Partai Hamas mendapatkan suara terbanyak. Apa artinya? Berarti masyarakat yang mendukung perjuangan cara Hamas cukup banyak. Terlepas apakah yang dilakukan oleh Hamas itu benar atau tidak, tetapi kenyataanya seperti itu. Tentu saja Israel dan sekutunya kebakaran jenggot. Entah takut entah apa, meskipun di media mereka mengatakan tidak suka Hamas karena tidak suka kekerasan. Sekali lagi terlepas apa alasan mereka, tetapi seperti itulah keadaanya. Yang perlu kita cermati adalah, saat ini Amerika menekan pemerintahan Hamas dengan cara tidak memberi bantuan ekonomi ke Palaestina, mungkin juga menekan negara lain agar tidak memberikan bantuan ekonomi kepada Palestina yang di pimpin Hamas. Berita terakhir yang saya baca, Palestina sudah tidak sanggup membayar gaji pegawai pemerintahannya. Saya ingatkan, bahwa saya tidak sedang membahas siapa yang benar siapa yang salah. Saya yakin Anda sudah punya penilaian. Namun yang saya sedihkan, Palestina yang mayoritas umat Islam ini bisa ditekan dengan ekonomi. Seandainya jika mereka termasuk negara yang kaya, yang tidak perlu tergantung kepada negara lain, maka tekanan ekonomi bukanlah suatu masalah bagi mereka. Disinilah bisa kita lihat bagaimana pentingnya kekuatan ekonomi. Kita tidak bisa terlepas dari satu aspek ini. Ekonomi sangat penting. Sementara masih banyak dari umat Islam yang beranggapan berbeda, mereka menganggap hanya perlu memperhatikan masalah akhirat saja, tidak usah menyibukkan diri dengan urusan dunia (ekonomi). Saya rasa, akan lebih bijaksana jika kita memiliki prinsip sukses dunia akhirat. Di dunia kita kuat, tidak meninggalkan anak keturunan kita dalam kemiskinan, keterjajahan, bahkan dipenjara oleh mereka yang lebih kuat ekonominya. Bukankah hal ini juga ikut serta menegakkan Islam di muka bumi? Sementara kita tetap mengejar akhirat, tidak menjadikan uang sebagai tuhan kita, namun hanya sebagai sarana untuk menuju akhirat. Mudah-mudahan membawa hikmah bagi kita semua. *Rahmat adalah pengusaha, pembicara, trainer, dan pemilik serta penulis utama Buletin Mingguan Motivasi Islami. |
|