Artikel Motivasi Islami

Masih Ada Yang Bermimpi Makan Daging


Halaman Depan
Artikel Motivasi
eBook Gratis
Produk
Kontak Kami
Buku Tamu


Ebook ekslusif berbahasa Indonesia untuk bisnis online Anda
   


Oleh Indra Dwi Noviyanto*




"Koko, sini, ngapain kamu berdiri disitu?" teriak seorang wanita tua kepada seorang anak kecil yang berumur sekitar 6 tahun.
"Iya, mbok. Sebentar lagi aja... Baunya sangat enak sekali nich" Jawab anak tersebut yang dipanggil Koko.
Mendengar jawaban tersebut, sang ibu akhirnya meletakkan buntalan bungkusan yang sejak tadi dipanggulnya ke trotoar.
Sambil sedikit menegakkan badan, ia menarik nafas panjang. Matanya yang cekung, kulitnya yang hitam terbakar matahari, rambut dan pakaiannya yang kotor karena debu membuat penampilan wanita tersebut menyedihkan. Dia akhirnya duduk disebuah emperan toko sambil melihat anaknya Koko yang masih berdiri di dekat tempat panggang pada sebuah rumah makan sate kambing.

Koko nampaknya sangat menikmati sekali kegiatannya. Berulang kali ia menghirup aroma pembakaran daging yang terbawa oleh angin, sambil memejamkan matanya. Membayangkan betapa nikmatnya sajian daging panggang sate yang akan disajikan. Tubuh yang kurus, kulit yang hitam penuh daki, dan rambut kemerahan terbakar matahari membuat penampilan Koko tidak jauh berbeda dengan wanita tua tersebut.

"Ini mas pesanannya." suara pelayan rumah makan tersebut membuyarkan pikiranku yang sejak dari tadi mengamati tingkah laku ibu-anak tersebut.
"O, iya mas, ini." sahutku sambil menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan.
"Sebentar, mas." jawab pelayan tersebut sambil sedikit berlari menuju kasir.
Sejenak kuperhatikan kembali ibu-anak tersebut. Nampaknya si Koko sudah tidak berada ditempatnya tadi. Kemana mereka? batinku.
"Kembaliannya mas." sapa pelayan tadi.
"Iya, terima kasih." sahutku kembali.

Ku berjalan sambil menenteng 30 tusuk sate kambing Cak Tirto yang sedap untuk makan malam aku, istri dan buah hatiku Andri. Deretan emperan toko yang agak gelap membuatku tidak begitu jelas melihat apa saja yang ada disekitarnya. Ketika ku melewati sebuah emperan toko yang agak terang dan bersih ku temui kembali sosok ibu dan anak tersebut. Terlihat mereka sedang menyiapkan alas untuk tidur mereka malam itu. Arah langkahku yang melewati tempatnya, membuat aku dapat mendengarkan kembali percakapan mereka.

"Mbok, rasanya daging kambing yang dipanggang itu kayak apa yach?" tanya anak tersebut sambil membongkar buntelan bungkusannya.
"Ya, enak dan gurih. Makanan orang-orang berduit Ko." Jawab wanita tua tersebut.
"Koko kapan yach bisa ngerasain daging kambing bakar? Sedikit aja... pengen tau bagaimana rasanya." tanya anak tersebut yang tidak membutuhkan jawaban.

Pertanyaan anak kecil yang bernama Koko tersebut seakan-akan telah membuat langkahku agak terasa berat. Tergambar di pikiran ku wajah Andri yang lucu, putih, dan sehat yang sangat suka sekali makan sate kambing Cak Tirto. Hampir setiap dua minggu, ia merengek untuk dibelikan. Bila tidak dituruti, maka ia akan melancarkan aksi tidak mau makan. Walaupun telah disediakan beberapa makanan kesukaan lainnya oleh istriku. Ya.. begitulah Andri, ia masih kecil dan aku sangat memaklumi hal tersebut.

Tetapi ini, seorang anak yang seusia dengan Andri, begitu sangat senang dan bersemangat sekali, walaupun hanya mencium asap pembakaran daging. Merasakannya hingga mungkin akan terbawa mimpi malam itu. Sate kambing yang hanya berharga seribu rupiah per tusuk pun ia belum pernah merasakanya. Kalaupun, ia memiliki uang sebesar itu, adakah orang yang akan melayaninya untuk menyediakan satu tusuk sate dengan penampilanya yang sangat menyedihkan?

"Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu ni'mat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan sembelihlah Qurban"
(QS Al Kautsar : 1-2)

Semoga Koko dapat merasakan nikmatnya sate kambing pada Idul Adha kali ini.



Indra Dwi Noviyanto adalah kontributor artikel tetap bagi web site dan Buletin Mingguan Motivasi Islami
www.motivasi-islami.com
Artikel Lainnya......




Copyright © 2003 Motivasi Islami, All rights reserved.