Saya Bersyukur dan Ingin Lebih

Dapatkan 2 eBook senilai Rp 99.000.

Masukan email Anda, klik Daftar untuk mendapatkan update artikel dan ebook Gratis Rahasia Sukses dari Zona Sukses.

Email:

“Sudahlah, syukuri saja yang ada!”

Kalimat ini sering dialamatkan kepada mereka yang memiliki ambisi sangat besar. Bahkan kepada orang yang hanya ingin meningkatkan taraf hidup pun sering mendapat “nasihat” seperti ini. Kalimat ini seolah sudah bijak tetapi masih menyimpan pertanyaan besar, betulkan makna bersyukur itu menerima apa yang sudah ada tanpa berharap lebih banyak nikmat lagi?

Jika definisi tersebut benar, maka tidak akan ada perintah untuk berikhtiar kepada manusia. Buat apa berikhtiar jika kita sudah cukup dengan nikmat yang sudah ada? Perintah bersyukur adalah perintah mengakui dan berterima kasih atas semua nikmat Allah. Tanpa kecuali, termasuk nikmat yang tidak kita usahakan maupun nikmat yang kita usahakan. Jadi tidak ada korelasi bahwa kita cukup mensyukuri nikmat yang sudah ada saja.

Yang kedua, pada QS Ibrahim ayat 7 sudah jelas disebutkan bahwa kita diperintah bersyukur dan Allah akan menambah nikmat kita. Yang ketiga, kita juga diperintahkan oleh Allah dan dicontohkan oleh para Nabi untuk berdo’a meminta tambahan nikmat kepada Allah. Dimanakah penjelasan yang menyuruh kita tidak berharap untuk mendapatkan lebih banyak nikmat lagi?

Hal ini sudah menjadi keyakinan sehingga menjadi suatu mindset keliru pada sebagian umat Islam. Mereka menjadi memiliki suatu batasan tanpa disadari dalam pikirannya bahwa mereka sebenarnya tidak berhak mendapatkan nikmat yang lebih banyak. Saat mereka berharap nikmat yang lebih banyak baik nikmat materi maupun maknawi, mereka takut menjadi orang yang tidak bersyukur.

Yang benar adalah kita tetap berhak mendapatkan nikmat yang lebih banyak lagi dibanding nikmat yang sudah kita miliki sambil mensyukuri nikmat yang sudah ada. Yang tidak boleh adalah kita berusaha mencari nikmat karena kita mengingkari nikmat yang sudah ada. Mulai sekarang mari kita ubah mindset kita menjadi orang yang beryukur sambil mengharap nikmat lebih banyak lagi. Tetaplah berdoa dan berusaha untuk nikmat yang lebih banyak dan tetaplah bersyukur atas apa yang sudah kita terima. Kedua hal ini bisa kita lakukan secara bersamaan, bahkan harus.

Masuki Zona Sukses

Solusi bagi Anda yang ingin berubah, namun masih terasa sulit.

Anda tidak akan pernah sukses, jika masih berada di Zona Nyaman. Dapatkan ebook Memasuki Zona Sukses dan Tinggalkan Zona Nyaman, Plus update artikel Motivasi Islami. Masukan email Anda, Klik Daftar.

Email:

There are 2 Comments.

  1. Ary
    9:37 am September 12, 2008

    Saya setuju dengan penjelasan diatas, cuma selama ini setan sering membisikkan kita untuk berusaha lebih dengan tidak bisa membedakan antara mencari nikmat lebih dengan rakus…
    dan sayangnya… kebanyakan dari kita mengiyakan ajakan setan, semoga kita bukan golongan itu…. Amin…

  2. ace
    4:34 am September 26, 2008

    Bersyukur, terkadang hanya menjadi lips service atas karunia yang kita dapatkan dengan mengucapkan Allhamdulillahi rabbil alamin. Hal tsb bukannya salah, hanya saja setiap ucapan pasti mempunyai makna dan tujuan yang harus kita lakukan sehingga membutuhkan niat dan keberanian untuk secara konsisten mewujudkan dalam prilaku. Dan hal itu tentunya seiring dengan keimanan dan ketaqwaan yang kita yakini.

    Banyak perangkap yang datang pada kita jika rasa syukur itu hanya tertuang dalam kalimat saja, NATO ! No Action Talk Only.
    Misalnya ada khabar saudara kita terkena musibah, dan sementara kita hanya berucap, “Allhamdulillahi… kita disini aman-aman saja “, sementara mereka yang terkena musibah tetap dalam kesengsaraan dan kepedihan, dan pertolongan dari sang pengucap Alhamdulillah hanya harapan yang tak berujung.

    At least, dalam berkeyakinan, paling tidak ada dua hal yang tidak bisa kita pisahkan, yaitu menjalankan Syariat dan juga Hakekatnya.
    Menjalankan ibadah atas tatacara yang telah ditentukannya dan menjalankan ibadah atas prilaku sosial hingga bisa mencapai tujuan yang juga telah ditetapkannya, dan tentunya diantara kedua itu mempunyai keterkaitan makna yang juga tidak terpisahkan.

    Bagaimana rasa syukur itu dapat menjadi kesatuan dalam ucap dan terwujud dalam prilaku, rasanya patut kita coba untuk bisa membumikan salah satu surat yang cukup singkat ini (Al Kautsar):
    108:1 “Sesungguhnya Kami tlh memberikan kpdamu nikmat yg banyak”
    Jadi pada dasarnya, kenikmatan yang telah disediakan Allah amat banyak, maka wajiblah kita untuk menyadari keberadaan nikmat tersebut agar bisa di syukuri. Tentu banyak hal yang sudah tersedia dialam semesta ini tanpa kita harus memintanya,
    hanya saja mungkin kita belum menemukan cara terbaik untuk menikmatinya, yaitu mensyukuri karunia itu , lalu bagaimanakah wujud syukur itu agar dapat merasakan nikmat Allah tsb ???

    108:2 “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah “.
    Maka wujud syukur itu adalah Shalat dan berkurban.
    Secara syariat wajibnya ada 5 waktu, hingga mencapai hakekatnya mampu menjadi manusia yang dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar, yaitu dengan melakukan kebaikan-kebaikan dimana rasa kasih sayang kita dapat melintasi batas Ego dan ketamakan diri sehingga rasa kasih sayang itu dapat menebar kepada saudara-saudara kita yang mengharapkannya.
    Dan Berkorbanlah, mungkin pada suatu saat kebaikan saja belum cukup, sehingga perlu pengorbanan yang bisa saja melampui batas-batas normative, namun disanalah nikmat terbesar dari Allah yang patut kita rasakan.

    108:3 “Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus”
    Dan hindarilah rasa ketidakinginan untuk Shalat dan berkorban, baik syariat maupun hakekatnya, karena hal itu dapat memutuskan nikmat Allah yang begitu banyak. Orang-orang yang terputus atas nikmat Allah, maka tidak adalagi kenikmatan hakiki, rasa tidak puas yang tak pernah habis, mengeluh dan complain akan selalu menjadi hiasan bibirnya. Jadi untuk merasakan nikmat Allah yang hakiki perlu suatu proses, dimana nikmat yang ada harus kita utilisasi dan costomize agar bisa menciptakan nikmat-nikmat yang lain. Begitulah life cycle nikmat, perlu kasih sayang dan creativitas agar tidak terputus.

    Semoga apapun yang kita lakukan, tidak akan pernah terputus dari rahmatNYA agar terus mengalir nikmatnya, dan semoga saja tulisan ini bisa melengkapi apa yang telah diutarakan oleh pak Rahmat.

Leave a Reply

*

WordPress Anti-Spam by WP-SpamShield