Mendapatkan Apa yang Diinginkan

Petatnyaan

  1. Bagaimana cara yang pasti agar kita mendapat apa yang kita inginkan?
  2. Mengapa saya sering mendapat apa yang tidak saya inginkan..padahal saya sudah berusaha? Terus berdoa ? apakah doa saya tidak dikabulkan? (Biasanya pertanyaan seperti ini banyak yang menjawab “Allah mengetahui apa yang terbaik bagi kita ” jadiÃÆ’‚ dikabulkan dalam bentuk lain atau “mungkin itu menurut Allah baik bagimu” dua jawaban itu terus terang saja tidak memuaskan saya .Yang jadi pertanyaan saya lagi adalah “bagaimana agar sesuatu yang saya inginkan itu Baik menurut Allah sehingga do’a saya dikabulkan?)
  3. Bagaimana agar sesuatu yang saya inginkan itu Baik menurut Allah sehingga do’a saya dikabulkan?
  4. Apa yang disebut mengikhlaskan keinginan itu? seringkali setiap saya mengikhlaskan keinginan atau bersyukur kehidupan saya kualitasnya Menurun! (terima kasih atas artikel bapak tentang syukur barusan yang membuat saya menjadi lebih “ngeh” tentang arti syukur)
  5. Bagaimana memerkuat keyakinan kita tentang sesuatu agar kita menjalankannya penuh Totalitas?
  6. Bagaimana cara melakukan sesutu dengan senang Hati?


Jawaban

No 1 dan 2 jawabannya sama, yaitu keyakinan. Berdo’a adalah bagian dari upaya mendapatkan apa yang kita inginkan. Jika kita belum mendapatkan apa yang kita inginkan karena kita belum yakin bahwa kita akan mendapatkannya. Yang jadi masalah ialah kita tidak tahu bahwa kita merasa tidak yakin. Keyakinan bisa ditunjukan perasaan dan tindakan Anda.

Pancangkan keinginan dan berdo’alah dengan penuh keyakinan (saya sudah membahas di artikel lain). Jika Anda yakin bahwa Anda akan mendapatkan apa yang Anda inginkan, maka Anda harusnya sudah bahagia dan tanpa khawatir sejak saat ini juga. Jika Anda masih belum bahagia dan masih ada tanda kekhawatiran, maka Anda belum yakin.

Dan, adalah hak Allah untuk mengganti keinginan kita dengan hal lain. Disini pula apa yang disebut mengikhlaskan keinginan. Keinginan yang terbaik untuk kita adalah suatu keinginan yang tentu saj diridlai Allah. Mengikhlaskan keinginan adalah kita memiliki keinginan karena dan hanya untuk Allah. Jika memang keinginan kita karena dan untuk Allah, jadi kita serahkan saja kepada Allah bagaimana Allah akan memberikan keinginan kita kepada kita.

Namun, menurut sebuah hadits, Allah akan memberikan sesuai dengan niat kita. Jika kita berniat ingin balasan dari Allah, maka kita akan mendapatkan. Jika kita ingin harta atau wanita, maka kita akan mendapatkannya. Jadi penyebab kedua mengapa kita tidak mendapatkan keinginan, karena kita tidak meniatkannya.

Saat kita bersyukur, mengikhlaskan keinginan (tawakal) kemudian kehidupan kita malah turun, saya yakin ada dua kemungkinan.

Yang pertama, bisa jadi syukur dan tawakal kita tidak benar-benar kita lakukan. Kita tidak benar-benar bersyukur dan bertawakal kepada Allah. Perbaikilah syukur kita dan tawakal kita. Sungguh akan panjang jika saya bahas secara detil, namun ciri utama saat Anda sudah melakukan syukur dan tawakal dengan benar ialah hati Anda menjadi bahagia dan tenang. Namun bukan berarti harus diam, Anda akan mendapatkan ide-ide atau gagasan yang bisa jadi petunjuk dari Allah, maka lakukanlah. Dalam kondisi syukur dan tawakal yang penuh, Anda akan melakukannya dengan senang hati.

Bagaimana membina keyakinan? Saya tidak bisa menjawabnya disini. Mengapa? Karena jawabannya sangat panjang lebar, saya sudah menjawabnya di ebook saya Beautiful Mind: Berpikir Positif Islami. Adalah tidak mungkin saya menulis ulang isi ebook di satu artikel ini. Terserah Anda, apakah Anda akan mengatakan saya hanya berjualan, tetapi memang pada ebook itulah solusinya. Keputusan ada ditangan Anda.