Memberi, Bukan Menerima – Salah Kaprah Dari Anjuran Memberi

zona sukses

Suatu saat saya sedang naik bis kota. Tiba-tiba ada seorang laki-laki naik bis tersebut. Saya kira penumpang. Tiba-tiba dia berbicara di depan penumpang dengan lancarnya. Ngomongnya bak seorang mubaligh sedang ceramah. Dia memiliki gaya bicara yang bagus, lancar tanpa tersendat. Tidak ada grogi. Dia juga membacakan berbagai hadist dan ayat Al Quran dengan lancar dan cukup fasih. Dia membahas tentang hari akhirat dan manfaat memberi agar selamat di akhirat.

Saya mengakui cukup mendapatkan ilmu saat mendengarkan “ceramahnya”. Dia juga menunjukkan “kekritisannya” terhadap orang-orang kaya dan para pejabat. Inti dari ceramahnya adalah orang-orang kaya dan pejabat harus mau memberi kepada sesama demi kebaikan mereka sendiri. Bukan hanya itu gaya bicara pun cukup menghibur dengan diselingi canda dan tawa.

Setelah selesai ceramah panjang lebar, dia mengambil sesuatu dari sakunya. Anda sudah menebaknya? Betul, dia mengeluarkan sebuah plastik untuk meminta uang dari penumpang. Dia menghampiri satu persatu penumpang sambil menyodorkan plastik dan tidak lepas diiringi dengan senyum. Sampai di hadapan saya, dan saya melambaikan tangan tanda meminta maaf. Sebenarnya saya hanya tidak mau memberi dia saja.

Saya hanya berpikir, bukankah dia memahami makna dan manfaat memberi? Tetapi yang dia lakukan justru ingin menerima. Seolah memberi untuk orang lain dan menerima untuk dirinya. Orang lain memang harus memberi, terutama memberi kepada dirinya.

Sebenarnya dia hanya salah satu wakil dari sekian banyak orang yang memiliki mentalitas sama, yaitu menerima, bukannya memberi. Saya sering menerima email atau komentar yang marah atau meminta ebook dengan gratis dengan alasan amal. Di forum-forum, banyak orang yang menyerang dan menyindir habis orang yang menjual ebook. Alasannya apa? Mereka ingin diberi secara gratis. Dalam masyarakat nyata pun sama. Kebanyakan orang menuntut di untuk menerima ketimbang memberi.

Disarankan Untuk Anda:   Tidak Ada Yang Salah dengan Anda

Alasannya klasik, karena mereka merasa berhak untuk diberi karena kemiskinan mereka. Tanpa disadari hal ini juga yang membuat orang tersebut tetap miskin. Anda adalah apa yang Anda pikirkan, jika Anda terus berpikir bahwa Anda miskin, maka Anda akan miskin terus. Kita perlu menghentikan mental meminta menjadi mental pemberi. Bahkan saat menjual pun, Anda tetap harus memiliki mental pemberi. Caranya menjual sesuatu yang nilainya jauh di atas uang yang kita terima.

Follow Me

Rahmat Mr. Power

Author at Zona Sukses
Penulis atau Author berbagai produk Pengembangan Diri: Berpikir Positif, Percaya Diri, Kreativitas, Produktivitas, Motivasi, dan Bisnis selengkapnya http://www.zonasukses.com/gold.php
Follow Me
Dapatkan Update Artikel dan Kata-kata Motivasi Via Telegram Klik Disini. Pastikan aplikasi telegram sudah terinstall di HP/Komputer Anda

Mungkin Anda Suka Artikel Lainnya:

Kerja di Rumah

↑ Grab this Headline Animator

12 Comments

  1. Assalamu’allaikum,
    Artikel menarik, menggelitik dan merangsang untuk di komentari.
    “Bahkan saat menjual pun, Anda tetap harus memiliki mental pemberi. Caranya menjual sesuatu yang nilainya jauh di atas uang yang kita terima.”
    Menurutku dari sedikit kutipan di atas hubungan antara pembeli dan penjual selayaknya simbiosis mutualisma, “Pembeli butuh produk dan penjual butuh uang”, jadi tidak ada yang merasa lebih diuntungkan dalam hal ini.
    jika pembeli tidak butuh maka dia tak akan membelinya dan demikian pula penjual, jika penjuat tak butuh uang maka ia pun tak akan menjualnya,
    Dari artikel diatas sebenarnya kita yang mendengarkan ustad penjual tausiyah mendapatkan keuntungan dari amalnya yang selalu mengingatkan kita akan kebaikan, tanpa kita sadari pada saat itu sebenarnya kita tak berfikir merasa butuh tausiyahnya, oleh sebab itu kita tak memberikan imbalan untuk nya (dengan alasan kita tak mengundangnya)
    Catatan
    ada dua amal yang dilakukan oleh ustad tersebut:
    1. Tausiyah.
    2. senyum.

    Terima kasih.
    Wasalam.

  2. Jika Anda mau menjual sesuai dengan harga yang Anda terima, silahkan saja. Tapi saya bisa memberi lebih tanpa harus rugi. Saya memang mau memberi. Sesungguhnya amal tergantung niat.

  3. Niatkan, maka anda akan mendapatkan! Sedang yang mengetahui itu hanya diri kita sendiri dan Allah SWT. Oleh karena itu pembahasan niat sudah jelas. Tinggal kita perlu meletakkan niat pada amal perbuatan yang tidak menyimpang dari syariat Allah SWT.

  4. asalamualaikum.

    artikel yang menarik..
    menurut hemat saya hikmah yang dapat di ambil dari cerita d atas yaitu bukan dari jual beli maupun menerima dan memberi tetapi akan lebih baik jika kita berfikir tentang kekuatan pemilik mental pemberi karena jelas lebih mulia di bandingkan dengan mental pengemis yang hanya bisa meminta, menunggu pertolongan orang lain dan tidak dapat memanfaatkan potensi dirinya pada hal yang lebih positif. wasalam

  5. Artiekl yang menarik.

    Pada saat kita sedekah kita orang lain sebenarnya kita itu sudah membebaskan diri dari belenggu-belenggu syetan.

    Semoga kita bisa menjadi orang yang selalu bisa memberi dibandingkan menerima

  6. Assalamualaikum …

    Cukup menarik artikelnya…??memberi, bukan menerima! Dari cerita diatas bahwa pada dasarnya memang orang tersebut intinya meminta sesuatu kepada orang lain dalam hal ini uang untuk hidupnya !Tetapi alangkah baiknya kita jg berfikir bijak, memberi itu bukan dilihat dari orang itu siapa atau kondisinya bagaimana tetapi tergantung ketulusan hati kita memberi. Allah SWT maha tahu mana hambanya yang memberi karena ikhlas dan mana yang memberi karena kasihan, untuk masalah amalan orang yang meminta tersebut biar yang maha kuasa yang membalasnya>>terima kasih Wassalam

  7. asalamualaikum.
    Ridho’ mungkin kunci dari salah satu memberi. Karena ketika sudah memberi pun tiba-tiba di hati ini di bisikan oleh syetan, hingga menjadi rasa bangga ataupun ingin dipuji dan dihormati. Siapa ingin dihargai, dipuji dan dihormati. Ujun-ujungnya sakit hati.
    Sukron artkelnya.

  8. Assalamualaikum.

    Ada penjual pasti karena ada pembeli,,,!
    senyumlah untuk semua orang jangan hanya tersenyum untuk sebuah imbalan….!
    alangkah baiknya dalam beramal tidak mengharapkan sedikitpun imbalan,,
    karena imbalan dunia kecil dibandingkan surga…!

    terus berkaya..
    Good Luck,

    Wasalam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WordPress Anti-Spam by WP-SpamShield