Jangan Lebay! Ini Alasan Allah Benci Sikap Berlebihan dalam Islam

Sering dengar istilah ‘lebay’ atau berlebihan? Ternyata, konsep ‘berlebihan’ sangat tidak dianjurkan, bahkan dibenci oleh Allah SWT dalam ajaran Islam. Artikel ini akan mengupas tuntas mengapa sikap melampaui batas ini dilarang, contoh-contohnya dalam kehidupan sehari-hari, hingga bagaimana moderasi Islam mengajarkan kita untuk mencapai keseimbangan yang diridhai-Nya.

Jangan Lebay! Ini Alasan Allah Benci Sikap Berlebihan dalam Islam

Jangan Lebay, Karena Allah Membencinya “Jangan lebay?” Mungkin sebagian dari kita masih bertanya, apa sebenarnya arti kata “lebay” itu? Secara sederhana, pengertian atau arti kata lebay adalah “berlebihan.” Istilah ini memang lebih dikenal dalam percakapan sehari-hari dan cenderung merupakan kesepakatan bersama di masyarakat. Hingga saat ini, jika kita cari di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata “lebay” dengan makna “berlebihan” mungkin belum kita temukan secara formal. Namun, bukan berarti konsep “berlebihan” itu tidak ada dalam ajaran agama kita. Justru sebaliknya, dalam Islam, sikap berlebihan atau sikap berlebihan sangat tidak dianjurkan dan bahkan dibenci oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Benarkah Allah membenci berlebihan? Banyak sekali ayat Alquran tentang berlebihan maupun hadits tentang berlebihan yang menjelaskan hal ini, salah satunya: “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raaf:31) Ayat ini secara gamblang menunjukkan bahwa Allah tidak menyukai hamba-Nya yang berlaku berlebihan. Sikap berlebihan ini dalam terminologi Islam sering disebut dengan israf atau ghuluw. Israf berarti melampaui batas dalam hal-hal duniawi seperti makan, minum, atau harta, sedangkan ghuluw berarti melampaui batas dalam hal agama atau keyakinan. Kedua-duanya adalah bentuk sikap berlebihan yang dilarang. Sudahkah kita percaya bahwa lebay atau berlebih-lebihan tidak disukai oleh Allah? Jika sudah, maka ini adalah sebuah kerugian besar jika kita tetap melakukannya. Mengapa? Karena sebagai seorang Muslim, kita hanya beribadah dan memohon pertolongan kepada Allah. Bagaimana mungkin ibadah kita akan diterima atau permintaan kita akan dikabulkan jika kita terus-menerus melakukan hal yang dibenci-Nya? Makanya, jangan lebay! Marilah kita tanamkan dalam diri konsep moderasi Islam dan keseimbangan dalam hidup di setiap aspek kehidupan kita.

Jangan Lebay Pada Bidang Apa Saja?

Jika kita mendalami ayat Alquran tentang berlebihan dan hadits tentang berlebihan, kita akan menemukan bahwa larangan berlebihan ini berlaku untuk semua bidang kehidupan. Contoh pada ayat QS. Al-A’raaf:31 di atas adalah pada pakaian, makanan, dan minuman. Namun, banyak lagi nash yang menjelaskan bahwa Allah tidak menyukai sikap berlebihan secara lebih umum dan menyeluruh. Allah menganjurkan keseimbangan dalam hidup sebagai prinsip utama.

Jangan Lebay Dalam Cinta

Salah satu fenomena yang sering kita saksikan, terutama di kalangan remaja, adalah lebay dalam cinta. Semua tindakan, pikiran, dan bahkan perasaan mereka terfokus secara berlebihan pada cinta lawan jenis dalam Islam. Status di media sosial dipenuhi tentang cinta. Obrolan dengan teman-teman selalu berkisar tentang cinta. Seolah-olah tidak ada hal lain yang pantas mengisi pikiran mereka selain cinta lawan jenis. Padahal, masih banyak hal lain yang jauh lebih besar dan penting untuk dipikirkan dan dipersiapkan. Misalnya, tentang studi dan karir di masa depan, ini adalah hal fundamental yang perlu dipersiapkan dengan matang. Yang terpenting, bahkan sering kali dilupakan, ialah tentang mempersiapkan masa depan akhirat mereka. Mereka berlebihan dalam cinta terhadap lawan jenis, namun sering melupakan cintanya kepada Allah dan betapa besar cinta Allah kepada mereka. Banyak kasus memilukan terjadi demi cinta lawan jenis yang berlebihan. Seseorang bisa saja tidak memperdulikan masa depannya di akhirat dengan melakukan tindakan yang jelas-jelas dilarang dalam Islam, seperti berzina atau bahkan bunuh diri. Termasuk juga durhaka kepada orang tua, semua ini dilakukan demi cinta yang tidak pada semestinya, sebuah dampak sikap berlebihan yang sangat merugikan. Bukankah cinta itu fitrah? Bukankah manusia itu berjodoh? Ya, tentu saja. Allah menanamkan rasa cinta kepada manusia. Cinta itu fitrah, sebuah anugerah dari-Nya. Yang perlu diperhatikan di sini, bukan berarti kita tidak boleh mencintai, tetapi jangan lebay dalam cinta. Cintailah sewajarnya, dan bencilah sewajarnya pula. Sunnah Nabi tentang keseimbangan mengajarkan kita untuk tidak melampaui batas dalam perasaan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Cintailah kekasihmu sewajarnya saja karena bisa saja suatu saat nanti ia akan menjadi orang yang kamu benci. Bencilah sewajarnya karena bisa saja suatu saat nanti ia akan menjadi kekasihmu.” (HR. Al-Tirmidzi) Hadits ini adalah panduan emas untuk menjaga keseimbangan dalam hidup kita, bahkan dalam urusan hati. Mencintai dan membenci secara moderat adalah kunci agar kita tidak terjebak dalam dampak sikap berlebihan yang merusak. Untuk menghadapi masalah besar dalam hidup, termasuk masalah hati, penting untuk memiliki ketenangan dan fokus, seperti yang dibahas dalam artikel https://www.motivasi-islami.com/agar-cepat-menyelesaikan-masalah-besar/.

Persiapkanlah Masa Depanmu

Selain dalam cinta, kita pun jangan lebay untuk berbagai hal lainnya. Sikap berlebihan dapat muncul dalam banyak aspek kehidupan. Di bawah ini adalah beberapa fenomena yang sering terjadi dan termasuk berlebihan:

  1. Asik dengan Dunia Digital Berlebihan: Internet, media sosial seperti Facebook, Instagram, TikTok, Twitter, chatting, dan menonton video di YouTube atau platform lainnya adalah teknologi modern yang menawarkan banyak manfaat. Namun, jika kita berlebihan dalam menggunakannya, hal itu malah akan membawa dampak sikap berlebihan yang buruk bagi kita. Jangan israf dalam menghabiskan waktu yang berharga. Jangan sampai kita terjebak, menghabiskan waktu berjam-jam HANYA untuk berinternet ria. Ini merupakan bentuk perilaku boros dalam Islam terhadap waktu dan potensi diri. Konsep manajemen waktu Islami mengajarkan kita untuk memanfaatkan setiap detik untuk hal-hal yang bermanfaat, baik dunia maupun akhirat.
  2. Lebay dalam Berpakaian: Yang dimaksud lebay dalam berpakaian adalah mengenakan sesuatu yang tidak pada semestinya, baik itu terlalu mencolok, tidak sesuai syariat, atau bahkan membuka bagian tubuh secara berlebihan. Namun, perlu dicatat, seorang muslimah yang menutup semua auratnya dengan sempurna bukanlah lebay. Justru, yang lebay adalah mereka yang membuka aurat secara berlebihan, menampilkan apa yang seharusnya ditutupi. Allah memerintahkan menjaga aurat Islam sebagai bagian dari kemuliaan dan kehormatan. Anda hanya boleh membuka aurat di depan pasangan halal (suami atau istri), mahram, dan saat tidak ada orang lain yang melihat. Di luar itu, artinya lebay dan melanggar syariat. Hidup sederhana menurut Islam juga tercermin dalam cara kita berpakaian, yaitu sesuai kebutuhan, syariat, dan tidak berlebihan.
  3. Lebay dalam Perkataan: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata baik atau diam.” (HR. Muttafaqun ‘alaih). Perkataan yang baik adalah perkataan yang bernilai ibadah, dakwah, dan membawa kebaikan baik bagi yang bicara maupun yang mendengarkan. Jangan lebay dengan hanya membicarakan artis, lawan jenis, film, gosip, atau berbagai hal lain yang kurang bermanfaat, apalagi jika itu termasuk ghibah atau namimah. Ini adalah bentuk sikap berlebihan yang dapat merusak hubungan sosial dan nilai pahala kita. Berbicara baik atau diam adalah prinsip dasar dalam moderasi Islam yang mencerminkan kebijaksanaan.
  4. Jangan Lebay dalam Mencari dan Mengumpulkan Harta: Mencari rezeki adalah kewajiban dan bagian dari ibadah, namun jangan sampai terjebak sampai kita melupakan ibadah lainnya, mulai dari shalat, puasa, sampai kewajiban untuk dakwah dan jihad. Mencari rezeki berlebihan hingga mengabaikan hak Allah dan keluarga adalah bentuk israf yang sangat berbahaya. Jangan israf dalam ambisi dunia. Ada hal lain yang tidak kalah pentingnya, yaitu Allah, keluarga, dan mempersiapkan masa depan akhirat. Hidup sederhana menurut Islam bukan berarti tidak boleh kaya, tetapi tidak boleh menjadikan harta sebagai tujuan utama hingga melupakan tujuan hakiki penciptaan manusia.
  5. Dan Lain-lain: Sikap berlebihan juga bisa muncul dalam marah, sedih, senang, makan, minum, atau bahkan tidur. Semua perlu keseimbangan dalam hidup sesuai sunnah Nabi tentang keseimbangan.

Intinya adalah, kita jangan lebay dengan apa yang kita rasakan, pikirkan, dan lakukan saat ini karena kita harus memikirkan masa depan kita, yang jauh lebih penting. Baik itu masa depan di dunia maupun mempersiapkan masa depan akhirat. Ketika kita merasa tidak ada yang mendukung, ingatlah bahwa Allah selalu bersama kita, seperti pesan dalam https://www.motivasi-islami.com/ketika-tidak-ada-yang-mendukungmu/. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al Hasyr:18) Ayat ini secara jelas menekankan pentingnya mempersiapkan masa depan akhirat dan menjauhi sikap berlebihan yang melalaikan kita dari tujuan utama hidup.

Adakah Berlebihan dalam Ibadah?

Pertanyaan ini sering muncul. Tentu saja ada berlebihan dalam ibadah, meskipun terdengar paradoks. Berlebihan dalam ibadah dapat dimaknai dalam dua bentuk utama:

Pertama: Menambah-nambah ibadah tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini yang kita sebut dengan bid’ah dalam ibadah. Bid’ah adalah melakukan sesuatu dalam agama yang tidak ada contohnya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat. Misalnya, mengkhususkan ibadah tertentu pada waktu tertentu tanpa dalil, atau menambahkan tata cara dalam shalat yang tidak pernah diajarkan. Meskipun niatnya baik, namun jika tidak sesuai dengan sunnah Nabi tentang keseimbangan dan tuntunan syariat, hal itu bisa tertolak dan termasuk berlebihan dalam ibadah. Moderasi Islam menekankan pentingnya mengikuti contoh terbaik, yaitu Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kedua: Menjalankan ibadah tidak seimbang, mengabaikan hak-hak lain. Misalnya, terus-menerus berpuasa tanpa henti, tidak mau menikah sama sekali demi ibadah, atau terus-menerus shalat sepanjang malam sehingga mengabaikan hak tubuh untuk istirahat, hak keluarga, atau hak sosial lainnya. Padahal, masih ada ibadah-ibadah lain yang juga penting dan hak-hak yang harus ditunaikan. Keseimbangan dalam hidup adalah prinsip dasar Islam. Kita dianjurkan untuk memiliki gairah hidup yang seimbang, meliputi ibadah, bekerja, dan bersosialisasi.

Coba simak hadits tentang berlebihan yang diriwayatkan dari Anas radhiyallahu ‘anhu ini: “Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Ada tiga orang yang datang ke rumah istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka bertanya tentang ibadah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah mereka diberitahu, seakan-akan mereka menganggap ibadah Nabi hanya sedikit, dan mereka berkata, ‘Di manakah tempat kami dibandingkan dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal beliau telah diampuni semua dosanya baik yang telah lalu maupun yang akan datang’. Salah seorang di antara mereka berkata, ‘Saya selamanya shalat sepanjang malam’. Yang lain berkata, ‘Saya selamanya berpuasa sepanjang tahun dan tidak pernah berbuka’. Yang lain lagi berkata, ‘Saya menjauhkan diri dari perempuan dan tidak akan kawin selama-lamanya’. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dan berkata kepada mereka, ‘Kaliankah yang tadi berkata demikian dan demikian? Demi Allah, sesungguhnya saya adalah orang yang paling takut dan paling bertakwa kepada Allah di antara kalian, tetapi saya berpuasa dan berbuka, shalat dan tidur malam, dan saya juga menikah dengan perempuan. Barangsiapa yang benci terhadap sunnahku, maka ia tidak termasuk golonganku’.” (Muttafaq ‘alaih) Hadits ini adalah bukti nyata bagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan keseimbangan dalam hidup dan menolak berlebihan dalam ibadah yang tidak sesuai dengan sunnah Nabi tentang keseimbangan. Beliau adalah teladan terbaik dalam moderasi Islam. Namun, penting untuk digarisbawahi, tidak ada kata lebay dalam ibadah secara umum jika seseorang mengisi seluruh hidupnya dengan ibadah yang sesuai dengan tuntunan (Sunnah), seimbang antara hak Allah, hak diri, dan hak sesama, serta dilakukan secara konsisten. Itu bukanlah lebay, melainkan memang seperti itu seharusnya, karena manusia diciptakan memang untuk beribadah dan mengabdi kepada Allah. Mengisi hidup dengan ketaatan yang seimbang dan berlandaskan ilmu adalah puncak dari gairah hidup seorang Muslim. Jangan lebay, perhatikanlah hari esokmu, baik di dunia maupun di akhirat. Jadikan moderasi Islam dan keseimbangan dalam hidup sebagai prinsip panduanmu.

FAQ: Larangan Berlebihan dalam Islam

Apa arti berlebihan dalam Islam?

Dalam Islam, berlebihan berarti melampaui batas yang wajar atau yang telah ditetapkan oleh syariat. Ini dikenal dengan istilah israf (melampaui batas dalam hal-hal duniawi seperti makan, minum, harta, waktu) dan ghuluw (melampaui batas atau ekstrem dalam hal agama atau keyakinan). Sikap berlebihan ini dilarang karena dapat menimbulkan kerugian bagi diri sendiri dan orang lain, serta bertentangan dengan prinsip moderasi Islam dan keseimbangan dalam hidup yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Mengapa Allah tidak menyukai sikap berlebihan?

Allah tidak menyukai sikap berlebihan karena hal itu menunjukkan kurangnya rasa syukur, ketidakseimbangan dalam prioritas hidup, dan potensi untuk menjerumuskan hamba-Nya pada kemaksiatan atau pengabaian kewajiban. Dampak sikap berlebihan bisa sangat luas, mulai dari perilaku boros dalam Islam yang merugikan secara ekonomi, hingga keesktreman dalam keyakinan atau ibadah yang dapat mengarah pada bid’ah dalam ibadah. Allah mencintai keseimbangan dalam hidup dan kesederhanaan, serta menginginkan hamba-Nya hidup sesuai batasan yang telah ditetapkan-Nya demi kebaikan mereka sendiri di dunia dan akhirat.

Apa saja contoh sikap berlebihan yang dilarang dalam Islam?

Contoh sikap berlebihan yang dilarang dalam Islam meliputi banyak aspek kehidupan. Beberapa di antaranya adalah berlebihan dalam cinta lawan jenis hingga mengabaikan batasan syariat atau kewajiban lain; perilaku boros dalam Islam terhadap harta, makanan, minuman, dan pakaian (jangan israf); mencari rezeki berlebihan sampai melupakan ibadah dan hak keluarga; berlebihan dalam berbicara (berkata baik atau diam adalah prinsipnya); serta berlebihan dalam ibadah yang tidak sesuai sunnah (bid’ah dalam ibadah) atau tidak seimbang hingga mengabaikan hak-hak lainnya. Menjaga aurat Islam yang tidak berlebihan juga merupakan contoh penerapan moderasi.

Apakah berlebihan dalam ibadah termasuk bid’ah?

Berlebihan dalam ibadah bisa jadi termasuk bid’ah dalam ibadah, tetapi tidak semua bentuk berlebihan dalam ibadah adalah bid’ah. Bid’ah dalam ibadah secara khusus merujuk pada praktik ibadah yang ditambahkan atau diubah tata caranya tanpa adanya dasar dari syariat (Al-Quran dan Sunnah). Sedangkan berlebihan dalam ibadah juga bisa berarti melakukan ibadah yang sah secara syariat namun dengan intensitas yang tidak seimbang, sehingga mengabaikan hak-hak lain seperti hak tubuh untuk istirahat, hak keluarga, atau hak sosial. Contohnya adalah berpuasa terus-menerus tanpa berbuka, atau shalat sepanjang malam tanpa tidur, seperti yang ditegur oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits tentang berlebihan dari Anas radhiyallahu ‘anhu, yang mengajarkan sunnah Nabi tentang keseimbangan dalam beribadah.

Bagaimana pandangan Islam tentang moderasi dalam hidup?

Islam sangat menganjurkan moderasi Islam atau wasatiyyah dalam semua aspek kehidupan. Konsep keseimbangan dalam hidup ini adalah inti dari ajaran Islam, yang menolak sikap berlebihan (ghuluw atau israf) dan juga kelalaian atau kekurangan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam QS. Al-Baqarah:143 bahwa umat Islam adalah umat pertengahan (wasathan), yang berarti umat yang adil dan pilihan. Moderasi Islam mendorong kita untuk menunaikan hak Allah, hak diri, hak keluarga, dan hak sesama dengan seimbang, tidak condong ke salah satu sisi secara ekstrem. Ini adalah prinsip universal yang mencakup spiritualitas, etika, sosial, ekonomi, dan bahkan manajemen waktu Islami, semuanya bertujuan untuk mempersiapkan masa depan akhirat dengan baik di dunia.


3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *