September 3, 2010
 

Kenapa Tidak Punya Mobil?

Tampang bingung. Itulah gambaran yang bisa dilukiskan di wajah seorang bocah 6 tahun, saat melihat lalu-lalangnya kendaraan di jalan. Bocah itu seakan tidak memperdulikan hilir mudik orang-orang yang melaluinya bahkan ada beberapa orang yang hampir menendangnya. Dia pun seakan tidak senang saat beberapa orang yang lewat memasukan uang receh ke dalam kaleng yang sengaja di simpan di depannya.

“Sudah dapat berapa Ujang?” sapa seorang wanita umur 40 tahunan yang mengagetkan si Ujang. Si Ujang menengok wanita yang nampak lebih tua dari umur sebenarnya. Wanita itu tiada lain adalah ibunya yang sama-sama membuka praktek mengemis sekitar 100-200 meter dari tempat si Ujang mengemis.

“Nggak tahu Mak, hitung aja sendiri,” jawab si Ujang sambil melihat kaleng yang ada di depannya. Tanpa menunggu wanita yang dipanggil Emak itu mengambil kaleng yang ada di depan si Ujang. Kemudian isi kaleng tersebut ditumpahkan ke atas kertas koran yang menjadi alas mereka duduk.

“Lumayan Ujang, bisa membeli nasi malam ini. Sisanya buat membeli kupat tahu besok pagi.” Kata si Emak sambil tersenyum lebar, karena rezeki malam itu lebih banyak dari hari-hari biasanya.

“Mak…” kata si Ujang tanpa menghiraukan ucapan ibunya, “koq orang lain punya mobil? Kenapa Emak nggak punya?” Tanya si Ujang sambil menatap wajah ibunya.

“Ah, si Ujang mah, aya-aya wae, boro-boro punya mobil, saung aja kita mah nggak punya.” kata si Emak sambil tersenyum. Si Emak kemudian membungkus uang yang telah dipisahkannya untuk besok dengan sapu tangan yang sudah lusuh dan dekil.

“Iya, tapi kenapa Mak?” Rupanya jawaban si Emak tidak memuaskan si Ujang.

“Ujang …. Ujang….” kata si Emak sambil tersenyum. “Kita tidak punya uang banyak untuk membeli mobil.” kata si Emak mencoba menjelaskan. Tetapi nampaknya si Ujang belum puas juga,

“Kenapa kita tidak punya uang banyak Mak?” tanyanya sambil melirik si Emak.

“Kitakan cuma pengemis, kalau orang lain mah kerja kantoran jadi uangnya banyak.” kata si Emak yang nampak akan beranjak. Seperti biasa sehabis matahari tenggelam si Emak membeli nasi dengan porsi agak banyak dengan 3 potong tempe atau tahu. Satu potong untuk si Emak sedangkan 2 potong untuk si Ujang anak semata wayangnya.

Sekembali membeli nasi, si Ujang masih menyimpan pertanyaan. Raut wajah si Ujang masih nampak bingung.

“Ada apa lagi Ujang?” kata si Emak sambil menyeka keringat di keningnya.

“Kenapa Emak nggak kerja kantoran saja?” tanya si Ujang dengan polosnya.

“Siapa yang mau ngasih kerjaan ke Emak, Emak mah orang bodoh, tidak sekolah.” Jawab si Emak sambil membuka bungkusan yang dibawanya.

“Udah …, sekarang makan dulu mumpung masih hangat!” Kata si Emak sambil mendekatkan nasi ke depan si Ujang. Si Ujang yang memang sudah lapar langsung menyantap makanan yang ada di depannya.

“Kenapa Emak nggak sekolah?” tanya si Ujang sambil mengunyah nasi plus tempe.

“Orang tua Emak nggak punya uang, jadi Emak nggak bisa sekolah.”

“Ujang bakal sekolah nggak?” kata si Ujang sambil menatap mata si Emak penuh harap.

Emak agak bingung menjawab pertanyaan si Ujang. Lamunan Emak menerawang mengingat kembali mendiang suaminya, yang telah mendahuluinya. Mata si Emak mulai berkaca-kaca. Karena gelapnya malam, si Ujang tidak melihat butiran bening yang mulai menuruni pipi wanita yang dipanggil Emak tersebut. Karena tak kunjung dijawab, si Ujang bertanya lagi

“Kalau Ujang nggak sekolah, nanti kayak Emak lagi dong. Iya kan Mak?”

Pertanyaan Ujang makin menyesakan dada si Emak. Siapa yang ingin punya anak menjadi pengemis, tetapi si Emak bingung harus berbuat apa. Si Emak cuma melanjutkan menghabiskan nasi sambil menahan tangisnya. Akhirnya si Ujang pun diam sambil mengunyah nasi yang tinggal sedikit lagi. Deru mesin mobil menemani dua insan di pinggir jalan yang sedang menikmati rezeki Allah SWT yang mereka dapatkan. Diterangi lampu jalan mereka pun mulai berbenah untuk merebahkan diri. Di kepala si Ujang masih penuh tanda tanya, mau jadi apa dia kelak. Apakah akan sama seperti Emaknya saat ini?

Kata kunci berdasarkan pencarian:

[INGIN PUNYA MOBIL, topik memotivasi berubahlah, tidak punya mobil, site:motivasi-islami com CERITA MOTIVASI ISLAMI, punya mobil, perubahan berubahlah motivasi kata mutiara, motivasi islam untuk wanita, mobil motifasi, mobil islami com, kenapa kita tidak punya mobil tanya si ujang]

Kirim ke Twitter Kirim ke Facebook

Tentang Penulis

Rahmat Mr. Power
Author buku, ebook, audio, dan video, diantaranya: Meraih Berkah dan Pahala Melalui Internet (buku), Beautiful Mind: Berpikir Positif Islami (ebook), The Confidence Secret (video), dll. (Terlalu banyak disebutkan disini). Download hasil karya Rahmat di Zona Sukses juga Usaha Terbaik (Gratis dan Premium)
Facebook Rahmat dan MuslimFace Rahmat
Sebenernya: Anda bisa memanfaatkan apa yang sudah ada untuk meraih sukses besar atau mengatasi masalah yang menghimpit. Klik Disini Untuk Mengetahui Rahasianya

23 Responses to “Kenapa Tidak Punya Mobil?”

  1. thanks sob infonya menarik.dan salam kenal

  2. Jumpa UA says:

    gak enak hati sama ibu nya ujang
    karena kita belum mampu berbuat banyak
    agar mereka tidak perlu lagi bernasib demikian

    kemiskinan memang ujian
    tapi bagi yang mampu, perlu berbuat sesuatu

    sebaiknya secara bersama, sehingga daya perubahannya lebih besar
    tapi jika belum bisa, laksanakan walau sendirian

    (mimpi masa depan negeri ini…andaikan)

  3. mas darwan says:

    bagus sekali mas ceritanya lain kali beri endingnya atau arahan agar pembaca tahu harus berbuat apa.. . . . trim’s banget bang.

Leave a Reply

Baca juga:

  1. Nasi Sudah Menjadi Bubur
  2. Kisah Dua Tukang Sol
  3. Dongeng Motivasi: Melihat Yang Tidak Ada
  4. Durian Manis dan Durian Tanpa Rasa
  5. Tidak Sempat
Tags: Cerita Inspirasicerita orang suksesCerita Suksescerita sukses pengusaha

 
 

Visi

Menjadi sumber inspirasi, motivasi, dan inovasi bagi umat umat Muslim, khususnya di Indonesia, menuju Masyarakat Madani. Menjadi rujukan bagi umat Muslim dalam meraih sukses dan pengembangan diri.
 
SEO Powered by Platinum SEO from Techblissonline
SEO Powered By SEOPressor

Switch to our mobile site