Dengki: Merusak Peluang Sukses

1158741_gaia_shineRasulullah saw. bersabda, Hindarilah dengki karena dengki itu memakan (menghancurkan) kebaikan sebagaimana api memakan (menghancurkan) kayu bakar.  (Abu Daud). Dengki (hasad), kata Imam Al-Ghazali, adalah membenci kenikmatan yang diberikan Allah kepada orang lain dan ingin agar orang tersebut kehilangan kenikmatan itu. Lalu bagaimana dengki bisa merusak peluang sukses?

Banyak akibat buruk yang kita dapatkan dari dengki. Secara ruhiah, dengki akan memakan amal baik kita seperti dijelaskan hadits Rasulullah saw diatas. Jika kebaikan kita sudah terkikis habis, apakah kita masih berharap bahwa do’a kita akan terkabul? Percuma kita kerja keras dan kerja cerdas jika Allah tidak mengijinkan kita sukses. Ini yang pertama.

Dari Jabir dan Abu Ayyub Al-Anshari, mereka mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, ‘Tidak ada seorang pun yang menghinakan seorang muslim di satu tempat yang padanya ia dinodai harga dirinya dan dirusak kehormatannya melainkan Allah akan menghinakan orang (yang menghina) itu di tempat yang ia inginkan pertolongan-Nya. Dan tidak seorang pun yang membela seorang muslim di tempat yang padanya ia dinodai harga dirinya dan dirusak kehormatannya melainkan Allah akan membela orang (yang membela) itu di tempat yang ia menginginkan pembelaan-Nya.‘ (Ahmad, Abu Dawud, Ath-Thabrani)

Yang kedua, perasaan dengki mengeluarkan sinyal bahwa nikmat itu sedikit. Buktinya, seorang pedengki membenci kenikmatan yang didapatkan oleh orang lain. Dia ingin nikmat orang lain itu pindah kepada dia, jika tidak, setidaknya nikmat yang diberikan kepada orang yang didengkinya hilang agar sama dengan dia yang tidak mendapatkan nikmat.

Sungguh ini adalah sebuah pikiran yang mengingkari keberlimpahan rahmat Allah. Saat pikiran kita jauh dari keberlimpahan, artinya kita sudah tidak memiliki kesadaran orang kaya. Orang barat bilang, wealth consciousness. Kita tidak akan pernah kaya jika kita tidak memiliki wealth consciousness.

Yang ketiga, dengki mengudang energi negatif. Energi negatif sifatnya merusak. Merusak energi positif yang diperlukan untuk berpikir dan bertindak. Energi negatif juga merusak bekerja hukum daya tarik/ketertarikan (law of attraction). Dengki seringkali mengarahkan fokus kita kepada kejelekan orang lain.

Yang keempat, jika sudah keluar ucapan negatif, maka kita tidak akan pernah bisa mendapatkan manfaat dari orang yang kita dengki. Misalnya Anda sudah mengatakan hal negatif: “Cuma segitu aja bangga!” Jelas, setelah Anda mengatakan hal itu, Anda tidak akan bisa mendapatkan manfaat (kerja sama, nasihat, minjam modal, dsb) dari orang tersebut. Kecuali Anda tidak punya malu.

Yang kelima, dengki bisa meruntuhkan kredibilitas pelakunya. Terutama jika sudah diiringi kata-kata jelek seperti hinaan atau fitnahan yang biasa mengikuti dengki. Saat seseorang mengejek keberhasilan orang lain, memang ada orang yang senang (sama-sama pedengki), namun tidak sedikit yang mengatakan “sirik tanda tak mampu.” Artinya kredibilitas pedengki tersebut hancur.

Yang keenam, tidak ada perbaikan setelah dengki. Karena kita fokus pada nikmat orang lain, kemudian kita berusaha menghilangkan nikmat tersebut, sibuk menghina dan memfitnah, maka dia melupakan satu hal yang jauh lebih penting. Hal itu adalah memperbaiki diri sendiri. Jika kita mendapatkan keberhasilan lebih sedikit dibanding orang lain, artinya ada kekurangan pada diri kita.

Yang ketujuh ialah membebani diri sendiri. Bayangkan, setiap melihat orang lain yang didengkinya dengan segala kesuksesannya, mukanya akan menjadi tertekuk, lidahnya mengeluarkan sumpah serapah, bibirnya berat untuk tersenyum, dan yang lebih bahaya hatinya semakin penuh dengan dengki, marah, benci, curiga, kesal, kecewa, resah, dan perasaan-perasaan negatif lainnya. Beban yang sebenarnya tidak perlu kita pikul. Beban ini bisa memakan energi kita. Sehingga, energi yang kita perlukan untuk sukses terkikis habis.

Lalu bagaimana menghilangkan dengki? Para ulama sudah membahasnya. Saya hanya akan menyampaikan dua cara yang bisa kita aplikasikan sekarang juga.

  1. Saat kita berdo’a meraih sukses atau kenikmatan, berdo’alah bukan hanya untuk diri sendiri. Tetapi untuk orang lain juga.
  2. Saat ada orang lain, teman, bahkan saingan mendapatkan nikmat, maka bersyukurlah. Syukur jauh dari dengki, justru akan mendatangkan nikmat.

Dan yang terakhir, marilah kita berlindung kepada Allah dari sifat dengki ini. Mudah-mudahan, tidak ada sedikit pun rasa dengki dalam hati kita. Jika masih ada, mari kita hapus dengan istighfar dan syukur.