<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Motivasi Islami &#187; Cerita Motivasi</title>
	<atom:link href="http://www.motivasi-islami.com/category/inspirasi/cerita-motivasi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.motivasi-islami.com</link>
	<description>Motivasi Islami: Artikel, Cerita, dan Inspirasi Yang Menggelorakan Semangat Anda.</description>
	<lastBuildDate>Tue, 16 Mar 2010 04:54:25 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Tidak Sempat</title>
		<link>http://www.motivasi-islami.com/tidak-sempat/</link>
		<comments>http://www.motivasi-islami.com/tidak-sempat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Jun 2009 05:53:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rahmat Mr. Power</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Inspiratif]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[tidak sempat]]></category>
		<category><![CDATA[waktu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.motivasi-islami.com/?p=944</guid>
		<description><![CDATA[Masih malam, jam 1:00, disaat orang masih terlelap tidur, pak Usman sudah bengun dan langsung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://motivasi-islami.com/wp-content/uploads/2009/06/1198056_bamboo.jpg" alt="1198056_bamboo" title="1198056_bamboo" width="300" height="255" class="alignleft size-full wp-image-945" />Masih malam, jam 1:00, disaat orang masih terlelap tidur, pak Usman sudah bengun dan langsung bersiap-siap untuk pergi. Segala perbekalan dibawa termasuk makanan, minuman, dan golok. Mau ke mana pak Usman? Pak Usman adalah seorang pedagang bambu yang rumahnya di sekitar hutan bambu yang terletak di atas sebuah gunung.</p>
<p>Setelah perbekalan siap, dia pun ke luar rumah sambil melirik anak dan istrinya yang sedang nyenyak tidur. Mungkin, dia ingin berpamitan tetapi kasihan melihat anak dan istrinya sedang tidur pulas. Dia pun berangkat dan mengunci pintu dari luar. Tentu, pak Usman punya kunci duplikat karena hampir setiap hari ke luar malam.</p>
<p>Dia pun menghampiri gerobak yang sudah terisi bambu. Ternyata temannya mang Dadan sudah menunggu disana.</p>
<p>&#8220;Yuk, kita berangkat.&#8221; kata pak Usman. Tanpa basa basi lagi mereka langsung mendorong gerobak menuruni jalan yang lumayan curam. Perjalanan pun ditempuh cukup lama. Mereka sesekali berhenti untuk beristirahat meminum kopi yang mereka bawa dengan botol bekas minuman air mineral.</p>
<p>Sampai di kota, mata hari pun sudah terbit. Sinar matahari yang sebenarnya belum terik, tetapi cukup untuk membuat tubuh Mang Dadan dan pak Usman basah kuyup karena keringat. Sesampainya di dekat pasar mereka pun berhenti dan berharap ada pembeli yang datang.</p>
<p>Sampai datang seorang pria setengah baya, dengan pakai ala haji (katanya) menghampiri mereka.</p>
<p>&#8220;Assalamu&#8217;alaikum&#8230;&#8221; kata bapak tersebut sambil tersenyum.</p>
<p>&#8220;Wa&#8217;alikum salam pak Haji.&#8221; Jawab pak Usman. Pak Usman manggil pak haji untuk tujuan menyenangkan calon pembelinya. Dia tidak tahu apakah orang ini sudah berhaji atau belum. Tapi dia tidak peduli, yang penting bapak ini senang dan membeli bambunya.</p>
<p>&#8220;Perlu bambu pak Haji?&#8221; tanya mang Dadan tidak kalah sopan.</p>
<p>&#8220;Betul, Mushola di tempat saya mau diperbaiki dan perlu bambu untuk stagger dan untuk reng.&#8221; kata orang yang yang dipanggil pak Haji. OK dech, kita sebut saja pak Haji.</p>
<p>&#8220;Kebetulan pak Haji, saya bawa bambu bagus. Baru datang, saya baru menebangnya kemarin. Silahkan dilihat.&#8221; kata pak Usman.</p>
<p>&#8220;Oh, baru datang yah? Memang bapak-bapak berangkat jam berapa dari rumah?&#8221; tanya pak Haji.</p>
<p>&#8220;Sekitar jam satu atau setengah dua, pak Haji.&#8221; jawab mang Dadan.</p>
<p>&#8220;Mmm. Ngomong-ngomong, bapak-bapak shalat shubuh dimana?&#8221; tanya pak Haji. </p>
<p>Mereka terkejut dengan pertanyaan ini, sebab mereka tidak shalat shubuh. Mereka malu, tetapi mereka tidak berani bohong.</p>
<p>&#8220;He he, tidak sempat pak Haji. Saya takut terlambat dan didahului oleh orang lain.&#8221; jawab pak Usman malu-malu.</p>
<p>Pak Haji pun tersenyum. &#8220;Mulai besok, bagaimana jika berangkat lebih malam, jadi begitu waktu subuh, bapak-bapak bisa menyempatkan diri untuk shalat sambil beristirahat.&#8221;</p>
<p>&#8220;Baik pak Haji.&#8221; jawab mereka serempak sambil tersenyum malu-malu. &#8220;Oh ya, mau beli semua pak Haji?&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh iya, hampir lupa. Berapa semuanya?&#8221; tanya pak Haji. Setelah sepakat harga, mereka pun langsung mendorong gerobak menuju Mushala yang sedang direnovasi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.motivasi-islami.com/tidak-sempat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Durian Manis dan Durian Tanpa Rasa</title>
		<link>http://www.motivasi-islami.com/durian-manis-dan-durian-tanpa-rasa/</link>
		<comments>http://www.motivasi-islami.com/durian-manis-dan-durian-tanpa-rasa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 May 2008 01:24:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rahmat Mr. Power</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berpikir Positif]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Inspiratif]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Pikiran Sukses]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.motivasi-islami.com/?p=170</guid>
		<description><![CDATA[Dua orang anak remaja melewati sebuah rumah yang memiliki kebun besar di depannya. Salah satu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dua orang anak remaja melewati sebuah rumah yang memiliki kebun besar di depannya. Salah satu pohon di depan rumah tersebut adalah sebuah pohon durian. Saat itu sedang musim durian sehingga kebetulan pohon tersebut sedang berbuah. Mereka berdua melihat beberapa durian yang sudah terlihat matang di pohon. Rudi mengatakan bahwa durian tersebut pasti manis. Sementara temannya Anton mengatakan bahwa durian tersebut tidak ada rasanya. Mengapa bisa berbeda?<span id="more-170"></span></p>
<p>&#8220;Mengapa kamu mengatakan bahwa durian tersebut tanpa rasa?&#8221; tanya Rudi kepada Anton.</p>
<p>Sambil tersenyum Anton menjawab, &#8220;Mata tidak bisa merasakan manis atau pahit. Jadi durian tersebut tidak punya rasa karena hanya bisa dilihat.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kacian deh loe!&#8221;, ejek Rudi sambil tertawa.</p>
<p>&#8220;Memang kamu bisa memakan durian itu?&#8221; kata Anton balik menyerang.</p>
<p>&#8220;Kenapa tidak?&#8221; jawab Rudi sambil tersenyum yakin.</p>
<p>&#8220;Kamu mau mencurinya? Yang punya rumah ini galak. Kalau ketahuan bisa bahaya!&#8221; kata Anton.</p>
<p>&#8220;Siapa bilang mau mencuri? Saya akan mendapatkan durian itu tanpa mencuri.&#8221; bela Rudi dengan yakin.</p>
<p>&#8220;Bagaimana mungkin? Memang kamu punya uang untuk membelinya?&#8221; tanya Anton.</p>
<p>&#8220;Tidak juga, tetapi saya punya ini dan ini.&#8221; kata Rudi sambil menunjukan kepala dan otot bisepnya. Rudi melanjutkan, &#8220;Mari kita buktikan.&#8221;</p>
<p>Kemudian Rudi menuju pintu pagar kebun tersebut dan memijit bel. Pemilik rumah pun keluar dan bertanya kepada Rudi.</p>
<p>&#8220;Ada apa Rudi?&#8221;</p>
<p>&#8220;Apakah bapak perlu bantuan untuk membersihkan kebun Pak? Kami berdua siap membantu bapak.&#8221; kata Rudi sambil melirik temannya Anton. Anton seperti dihipnotis langsung mengangguk.</p>
<p>&#8220;Oh begitu!&#8221;, kata pemilik rumah, &#8220;kamu mau apa sebagai upahnya?&#8221; lanjutnya.</p>
<p>&#8220;Cukup satu buah durian saja pak.&#8221; kata Rudi sambil melihat sebuah durian yang terlihat sudah matang.</p>
<p>&#8220;Kalian kan berdua, nanti saya kasih dua buah, masing-masing satu. Asal kalian bekerja dengan baik.&#8221;</p>
<p>&#8220;Siap pak!&#8221; kata Rudi sambil memberi hormat layaknya tentara disusul oleh Anton.</p>
<p>Singkat cerita pekerjaan pun beres. Mereka berdua menikmati durian masing-masing. Rudi bertanya kepada Anton.</p>
<p>&#8220;Bagaimana rasanya durian kamu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Manis, he he.&#8221; jawab Anton sambil tertawa.</p>
<p>***</p>
<p>Pesan moralnya? Silahkan simpulkan sendiri. Jika mau berbagi kesimpulan atas cerita ini silahkan tuliskan pada form komentar.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.motivasi-islami.com/durian-manis-dan-durian-tanpa-rasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nasi Sudah Menjadi Bubur</title>
		<link>http://www.motivasi-islami.com/nasi-sudah-menjadi-bubur/</link>
		<comments>http://www.motivasi-islami.com/nasi-sudah-menjadi-bubur/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Jul 2007 00:38:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rahmat Mr. Power</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berpikir Positif]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Membaca]]></category>
		<category><![CDATA[Nasib]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[Semangat]]></category>
		<category><![CDATA[Serius]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.motivasi-islami.com/nasi-sudah-menjadi-bubur/</guid>
		<description><![CDATA[Saat keterlanjuran sudah berlalu, kita sering mengatakan &#8220;Nasi sudah menjadi bubur&#8221;. Betulkah ungkapan ini? Atau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saat keterlanjuran sudah berlalu, kita sering mengatakan &#8220;Nasi sudah menjadi bubur&#8221;. Betulkah ungkapan ini? Atau sekedar mencari pembenaran untuk tidak memperbaiki yang sudah ada? Insya Allah setelah membaca cerita berikut, kita akan memiliki pandangan berbeda terhadap suatu keterlanjuran.<span id="more-101"></span></p>
<p>Seorang mahasiswa kuliahnya tidak serius. Kadang masuk kuliah kadang tidak, tugas terbengkalai, SKS yang harus dikejar masih banyak, dan jarang sekali belajar. Begitu ditanya ternyata dia merasa terjebak masuk ke jurusan yang dipilihnya karena dia hanya ikut-ikutan saja. Teman-temannya masuk jurusan tersebut, dia pun ikut.</p>
<p>&#8220;Mengapa kamu tidak pindah saja?&#8221; tanya temannya, Budi.</p>
<p>&#8220;Ah, biarlah, nasi sudah menjadi bubur&#8221; jawabnya, tidak peduli.</p>
<p>&#8220;Apakah kamu akan tetap seperti ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Mau gimana lagi, saya bilang nasi sudah jadi bubur, tidak bisa diperbaiki lagi.&#8221; jawabnya berargumen.</p>
<p>&#8220;Kalau kamu pindah kejurusan yang kamu sukai, kan kamu akan lebih enjoy.&#8221; kata temannya.</p>
<p>&#8220;Saya ini sudah tua, masa harus kuliah dari awal lagi. Saya terlambat menyadari kalau saya salah masuk jurusan.&#8221; jelasnya sambil merebahkan diri di kasur dan mengambil remote control TV-nya.</p>
<p>&#8220;Memang tidak ada yang bisa kamu lakukan lagi?&#8221; selidik temannya.</p>
<p>&#8220;Tidak, saya sudah katakan berulang-ulang nasi sudah jadi bubur.&#8221;</p>
<p>Temannya pun diam sejenak, dia bingung melihat temannya yang sudah tidak semangat lagi. Kemudian dia teringat pada temannya yang memiliki nasib yang sama, salah memilih jurusan. Dia pun pulang ke rumahnya kemudian menelpon temannya tersebut.</p>
<p>&#8220;Jaka, perasaan kamu pernah cerita sama saya, kalau kamu salah memilih jurusan?&#8221; tanya Budi kepada Jaka.</p>
<p>&#8220;Memang saya salah memilih jurusan, memangnya kenapa?&#8221; jawab Jaka.</p>
<p>&#8220;Yang saya heran, kenapa kamu tetap semangat kuliah, sedangkan teman saya malah malas dan tidak serius kuliahnya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Yah nggak tahu yah, saya juga dulu sempat seperti itu. Tapi sekarang sudah tidak lagi.&#8221; jelas Jaka.</p>
<p>&#8220;Apa sich resepnya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Pertama saya merelakan diri masuk jurusan ini. Mungkin ini yang terbaik menurut Allah. Jadi saya terima saja.&#8221;</p>
<p>&#8220;Terus?&#8221; kata Budi bersemangat</p>
<p>&#8220;Yang kedua, saya mencari cara menggabungkan ilmu yang saya miliki dijurusan ini, dengan hobi saya. Ternyata saya menjadi enjoy saja. Memang, saya terlanjur memilih jurusan ini, kata orang, nasi sudah jadi bubur. Tetapi kalau saya, nasi sudah menjadi bubur ayam spesial yang enak dan lebih mahal harganya ketimbang nasi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh gitu&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Yah, kalau kita menyesali tidak ada manfaatnya. Kalau kita berusaha mengubah bubur jadi nasi, itu tidak mungkin. Satu-satunya cara ialah membuat bubur tersebut menjadi lebih nikmat, saya tambahkan ayam, ampela, telor, dan bumbu. Rasanya enak dan lebih mahal&#8221; jelas Jaka sambil tersenyum lebar.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.motivasi-islami.com/nasi-sudah-menjadi-bubur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Akal Manusia</title>
		<link>http://www.motivasi-islami.com/akal-manusia/</link>
		<comments>http://www.motivasi-islami.com/akal-manusia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Apr 2007 15:02:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rahmat Mr. Power</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Percaya Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Anda Bisa Sukses]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.motivasi-islami.com/2007/04/16/akal-manusia/</guid>
		<description><![CDATA[Ada seekor kerbau yang setiap pagi dibawa oleh seorang anak penggembala yang masih kecil menuju [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada seekor kerbau yang setiap pagi dibawa oleh seorang anak penggembala yang masih kecil menuju sawah untuk dibajak. Jika tidak ada pekerjaan, kerbau itu oleh penggembala dibawa ke daerah yang banyak rumputnya. Kemana pun kerbau itu dibawa selalu saja nurut kepada majikannya yang seorang anak kecil.</p>
<p>Suatu saat, saat si kerbau sedang sendirian, ada seekor harimau menghampiri kerbau itu. Si harimau berkata kepada kerbau,</p>
<p>&#8220;Hey kerbau, saya sudah beberapa hari mengamati kamu. Kamu selalu nurut saja dibawa-bawa atau disuruh-suruh oleh majikan kecilmu. Manusia majikanmu itu sangat kecil dibanding kamu, kenapa tidak kamu tubruk saja, pasti dia terpental jauh atau mati. Kamu jadi bebas seperti saya, bebas kemana pun saya mau.&#8221;</p>
<p>&#8220;Saya takut kepada anak kecil itu&#8221;, jawab si kerbau.</p>
<p>&#8220;Ha ha ha, dasar bodoh kamu. Masa badan kamu yang besar takut kepada anak kecil?&#8221; ejek si harimau sambil menertawakan.</p>
<p>&#8220;Kamu juga akan takut jika kamu mengetahui kelebihan manusia&#8221; kata si kerbau menjelaskan.</p>
<p>&#8220;Apa sih kelebihan manusia itu, koq bisa membuat kamu takut?&#8221; tanya si harimau penasaran.</p>
<p>Tidak lama kemudian, anak penggembala tersebut datang. Langsung saja si harimau menyapanya.</p>
<p>&#8220;Hey anak manusia!! Kata si kerbau kamu mempunyai kelebihan yang membuat dia takut. Apa itu?&#8221;</p>
<p>Anak pengembala itu menjawab, &#8220;Saya sebagai manusia diberikan kelebihan oleh Pencipta, yaitu berupa akal yang tidak dimiliki oleh makhluq lainnya&#8221;</p>
<p>&#8220;Akal itu apa, boleh saya melihat akal kamu? Jika kamu tidak menunjukkan, saya akan memakan kamu.&#8221; tanya harimau sambil mengancam.</p>
<p>&#8220;Wah saya tidak bisa memperlihatkannya, karena akal saya tertinggal di rumah&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau begitu kamu ambil dulu.&#8221; kata si harimau dengan nada mendesak.</p>
<p>&#8220;Saya bisa saja mengambilnya, tetapi percuma. Kamu akan lari.&#8221; Jawab pengembala tidak mau kalah.</p>
<p>&#8220;Saya janji, saya tidak akan lari&#8221; kata harimau dengan percaya diri.</p>
<p>&#8220;Sekarang kamu berkata demikian, setelah melihat saya membawa akal, kamu pasti lari. Bagaimana kalau kamu saya ikat? Supaya kamu tidak lari nanti.&#8221;</p>
<p>&#8220;Setuju&#8221; jawab harimau.</p>
<p>Kemudian si anak penggembala tersebut mengikat harimau tersebut di sebuah pohon. Bukan saja tidak bisa lari, tetapi sampai tidak bisa bergerak leluasa. Setelah mengikat si anak pun pergi.</p>
<p>Kerbau yang mengamati dari tadi tertawa, melihat nasib harimau.</p>
<p>&#8220;Sekarang kamu bisa apa?&#8221; tanya si kerbau. Harimau tidak bisa menjawab, dia panik dan ingin melepaskan diri tetapi tidak bisa.</p>
<p>&#8220;Itulah akal manusia, he he&#8221; kata si kerbau sambil pergi mengikuti majikannya.</p>
<h4>Kata kunci berdasarkan pencarian:</h4>[<a href="http://www.motivasi-islami.com/akal-manusia/" title="akal manusia">akal manusia</a>, <a href="http://www.motivasi-islami.com/akal-manusia/" title="www akal manusia">www akal manusia</a>] <br><br><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 0.66 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.motivasi-islami.com/akal-manusia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saya ingin anak saya sekolah tinggi.</title>
		<link>http://www.motivasi-islami.com/saya-ingin-anak-saya-sekolah-tinggi/</link>
		<comments>http://www.motivasi-islami.com/saya-ingin-anak-saya-sekolah-tinggi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Apr 2007 10:33:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rahmat Mr. Power</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[inspiratif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.motivasi-islami.com/2007/04/09/saya-ingin-anak-saya-sekolah-tinggi/</guid>
		<description><![CDATA[Tersebutlah seorang ayah yang memiliki 4 orang anak yang memiliki profesi sebagai kuli bangunan. Sehari-hari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tersebutlah seorang ayah yang memiliki 4 orang anak yang memiliki profesi sebagai kuli bangunan. Sehari-hari pekerjaan tidak jauh dari tembok basah yang kotor ditengah terik matahari. Namun itulah yang dijalani sebab belum ada cara lain untuk menafkahi istri dan keempat anaknya. Niatnya tentu ingin mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, tetapi bagaimana bisa dengan pendidikan yang hanya sekolah dasar hanya bisa untuk pekerjaan kasar.</p>
<p>Suatu waktu ada pekerjaan membangun sebuah rumah yang dekat dengan SMA. Tentu saja anak-anak sekolah sering kali terlihat saat masuk kelas, keluar kelas, atau kegiatan di luar kelas seperti bermain bola basket. Sang Ayah sering mengamati anak-anak sekolah tersebut sehingga munculah pertanyaan di dalam hatinya, &#8220;apakah anak-anaku bisa sekolah seperti mereka?&#8221;</p>
<p>Pertanyaan tersebut terus diingat. Setiap langkahnya selalu diiringi oleh pertanyaan tersebut, bisakah anak-anaku sekolah tinggi? Bisakah mereka sekolah lebih tinggi dariku? Bisakah mereka memiliki kehidupan yang lebih baik dariku? Saking mendalamnya, dalam setiap perbincangan pun sering kali cita-cita mulia ini tercetus ke dalam mulutnya.</p>
<p>Seperti biasa, komentar positif dan negatif muncul. Ada yang mendukung ada juga yang pesimis. Bukannya mendukung malah mematahkan <a href="http://www.motivasi-islami.com">motivasi</a> sang ayah.</p>
<p>&#8220;Jangan memaksakan diri, terima aja apa adanya&#8221;.<br />
&#8220;Kenapa harus susah payah? Dengan pendidikan seperti ini pun kita masih bisa hidup?&#8221; kata salah seorang saudaranya yang sama-sama seorang kuli bangunan dan juga berpendidikan lebih rendah.</p>
<p>Namun sang Ayah memiliki tekad yang kuat. Biarlah banyak orang yang mengatakan sesuatu tidak mungkin, sebab yang menentukan ialah Allah. Jika Allah menghendaki, maka segala sesuatu akan terjadi, tidak ada yang tidak mungkin. &#8220;Laa haula wa la quwwata illa billah&#8221; inilah kalimat yang selalu menjadi pegangan dalam upayanya meraih cita-citanya.</p>
<p>Waktu pun dilalui dengan kerja keras, tidak pernah menyerah, dan berserah diri kepada Allah saat menemui kesulitan. Alhamdulillah karirnya di dunia bangunan ada peningkatan. Mungkin, naiknya karir ini akibat memiliki <a href="http://www.motivasi-islami.com">motivasi</a> yang sangat tinggi sehingga bekerja dengan penuh dedikasi. Dari mulai seorang helper, kemudian menjadi tukang (ahli), dan akhirnya menjadi seorang mandor dan pemborong. Saat itu anak terbesar sudah menginjak bangku SMA.</p>
<p>Namun Allah menghendaki hal yang lain, manajemen tempatnya bekerjanya mengalami rotasi kepemimpinan. Pemimpin yang baru mengeluarkan berbagai kebijakan yang sangat menekan bawahannya sehingga akhirnya sang Ayah mengundurkan diri. Beralih membangun sebuah bisnis yang tidak bertahan lama sebab ditipu oleh mitra kerjanya. Kehidupan pun kembali sulit, padahal saat itu anak-anaknya sudah menginjak bangku kuliah.</p>
<p>Namun sulitnya hidup tetap dijalani dengan tetap bekerja keras dan banyak berdoa. Tahajudnya rajin sekali. Waktu malam sering kali dihabiskan oleh berdzikir dan berdoa. Waktu siang, tetap bekerja keras ditengah tenaga yang mulai berkurang serta kesehatan yang mulai terganggu. Namun semuanya dijalani dengan teguh dan tetap memegang kalimat &#8220;Laa haula wa la quwwata illa billah&#8221;. Semuanya tidak sia-sia. Cita-citanya tercapai. Semua anaknya mencapai pendidikan yang lebih tinggi. Bahkan tiga dari empat anaknya mengenyam bangku kuliah.</p>
<p>Meski sang ayah saat kini sudah tiada, tetapi meninggalkan sebuah warisan yang tidak akan pernah habis bagi anak-anaknya. Bukan harta, sebab hartanya habis untuk menyekolahkan anak-anaknya tetapi sebuah pelajaran akan keteguhan dalam meraih cita-cita.</p>
<p>Jangan pernah menyerah!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.motivasi-islami.com/saya-ingin-anak-saya-sekolah-tinggi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berani Mimpi</title>
		<link>http://www.motivasi-islami.com/berani-mimpi/</link>
		<comments>http://www.motivasi-islami.com/berani-mimpi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Mar 2007 10:17:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rahmat Mr. Power</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berpikir Positif]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Inspiratif]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[kegagalan]]></category>
		<category><![CDATA[mimpi]]></category>
		<category><![CDATA[sudut pandang]]></category>
		<category><![CDATA[Visi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://motivasi-islami.com/2007/03/24/berani-mimpi/</guid>
		<description><![CDATA[Dulu waktu masih kecil saya suka sekali mendengarkan atau menonton wayang golek. Ada beberapa pelajaran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dulu waktu masih kecil saya suka sekali mendengarkan atau menonton wayang golek. Ada beberapa pelajaran yang ternyata bisa saya ambil dari berbagai cerita yang ditampilkan. Salah satunya ialah saat ada seorang ksatria sedang mencari sebuah jawaban dari pertanyaanya, yaitu apa yang paling banyak yang berada dunia? <span id="more-22"></span></p>
<p>Dia berkeliling ke berbagai perguruan, bertemu dengan banyak guru yang tinggi ilmunya, namun begitu sulit menemukan guru yang bisa menjawab pertanyaan tersebut. Akhirnya sampailah dia ke seorang guru yang bisa menjawab pertanyaannya. Guru tersebut menjawab bahwa hal yang paling banyak di dunia ialah &#8220;keinginan&#8221;. Kenapa? Tidak ada orang yang tidak memiliki keinginan. Satu keinginan terpenuhi akan muncul keinginan yang lainnya.</p>
<p>Tidak sedikit orang yang memiliki banyak keinginan, tidak hanya satu. Keinginan hanya lenyap setelah kita meninggal. Keinginan akan muncul terus, akan selalu menyertai manusia. Keinginan adalah salah satu fitrah manusia. Allah memang menciptakan keinginan itu pada diri manusia.</p>
<p>Pernahkah Anda melihat ada orang yang tidak memiliki keinginan? Saya sendiri belum pernah, tetapi orang yang mengaku tidak memiliki keinginan atau sudah cukup puas dengan keadaan saat ini memang ada. Itulah orang-orang yang sering mengatakan bahwa kalau dia tidak muluk-muluk, sudah cukup dengan yang ada.</p>
<p>Entah benar atau tidak pengakuan mereka, namun sebagian dari mereka sebenarnya memiliki keinginan, mereka memiliki mimpi. Sayangnya mereka takut dengan mimpi. Pikir mereka bahwa mimpi bisa membawa kekecewaan saat mimpi itu tidak tercapai. Padahal bukan kegagalan yang membuat kecewa seseorang, tetapi sikap salah kita terhadap kegagalan yang membuat kita kecewa.</p>
<p>Ubahlah sudut pandang Anda terhadap kegagalan, maka Anda tidak akan kecewa terhadap kegagalan yang Anda alami, setidaknya kekecewaan Anda akan sedikit atau sementara saja. Kegagalan sendiri itu indah, silahkan baca artikel &#8220;Indahnya Kegagalan&#8221;. Anda akan lebih berani menghadapi kegagalan, dan Anda akan lebih berani untuk bermimpi. Dan hidup Anda akan lebih bergairah juga kontribusi Anda kepada sesama akan lebih besar. Bermimpilah.</p>
<h4>Kata kunci berdasarkan pencarian:</h4>[<a href="http://www.motivasi-islami.com/berani-mimpi/" title="artikel berani mimpi">artikel berani mimpi</a>] <br><br><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 0.261 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.motivasi-islami.com/berani-mimpi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kenapa Tidak Punya Mobil?</title>
		<link>http://www.motivasi-islami.com/kenapa-tidak-punya-mobil/</link>
		<comments>http://www.motivasi-islami.com/kenapa-tidak-punya-mobil/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Mar 2007 10:16:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rahmat Mr. Power</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Inspiratif]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Inspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://motivasi-islami.com/2007/03/08/kenapa-tidak-punya-mobil/</guid>
		<description><![CDATA[Tampang bingung. Itulah gambaran yang bisa dilukiskan di wajah seorang bocah 6 tahun, saat melihat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tampang bingung. Itulah gambaran yang bisa dilukiskan di wajah seorang bocah 6 tahun, saat melihat lalu-lalangnya kendaraan di jalan. Bocah itu seakan tidak memperdulikan hilir mudik orang-orang yang melaluinya bahkan ada beberapa orang yang hampir menendangnya. Dia pun seakan tidak senang saat beberapa orang yang lewat memasukan uang receh ke dalam kaleng yang sengaja di simpan di depannya. <span id="more-13"></span></p>
<p>&#8220;Sudah dapat berapa Ujang?&#8221; sapa seorang wanita umur 40 tahunan yang mengagetkan si Ujang. Si Ujang menengok wanita yang nampak lebih tua dari umur sebenarnya. Wanita itu tiada lain adalah ibunya yang sama-sama membuka praktek mengemis sekitar 100-200 meter dari tempat si Ujang mengemis.</p>
<p>&#8220;Nggak tahu Mak, hitung aja sendiri,&#8221; jawab si Ujang sambil melihat kaleng yang ada di depannya. Tanpa menunggu wanita yang dipanggil Emak itu mengambil kaleng yang ada di depan si Ujang. Kemudian isi kaleng tersebut ditumpahkan ke atas kertas koran yang menjadi alas mereka duduk.</p>
<p>&#8220;Lumayan Ujang, bisa membeli nasi malam ini. Sisanya buat membeli kupat tahu besok pagi.&#8221; Kata si Emak sambil tersenyum lebar, karena rezeki malam itu lebih banyak dari hari-hari biasanya.</p>
<p>&#8220;Mak&#8230;&#8221; kata si Ujang tanpa menghiraukan ucapan ibunya, &#8220;koq orang lain punya mobil? Kenapa Emak nggak punya?&#8221; Tanya si Ujang sambil menatap wajah ibunya.</p>
<p>&#8220;Ah, si Ujang mah, aya-aya wae, boro-boro punya mobil, saung aja kita mah nggak punya.&#8221; kata si Emak sambil tersenyum. Si Emak kemudian membungkus uang yang telah dipisahkannya untuk besok dengan sapu tangan yang sudah lusuh dan dekil.</p>
<p>&#8220;Iya, tapi kenapa Mak?&#8221; Rupanya jawaban si Emak tidak memuaskan si Ujang.</p>
<p>&#8220;Ujang &#8230;. Ujang&#8230;.&#8221; kata si Emak sambil tersenyum. &#8220;Kita tidak punya uang banyak untuk membeli mobil.&#8221; kata si Emak mencoba menjelaskan. Tetapi nampaknya si Ujang belum puas juga,</p>
<p>&#8220;Kenapa kita tidak punya uang banyak Mak?&#8221; tanyanya sambil melirik si Emak.</p>
<p>&#8220;Kitakan cuma pengemis, kalau orang lain mah kerja kantoran jadi uangnya banyak.&#8221; kata si Emak yang nampak akan beranjak. Seperti biasa sehabis matahari tenggelam si Emak membeli nasi dengan porsi agak banyak dengan 3 potong tempe atau tahu. Satu potong untuk si Emak sedangkan 2 potong untuk si Ujang anak semata wayangnya.</p>
<p>Sekembali membeli nasi, si Ujang masih menyimpan pertanyaan. Raut wajah si Ujang masih nampak bingung.</p>
<p>&#8220;Ada apa lagi Ujang?&#8221; kata si Emak sambil menyeka keringat di keningnya.</p>
<p>&#8220;Kenapa Emak nggak kerja kantoran saja?&#8221; tanya si Ujang dengan polosnya.</p>
<p>&#8220;Siapa yang mau ngasih kerjaan ke Emak, Emak mah orang bodoh, tidak sekolah.&#8221; Jawab si Emak sambil membuka bungkusan yang dibawanya.</p>
<p>&#8220;Udah &#8230;, sekarang makan dulu mumpung masih hangat!&#8221; Kata si Emak sambil mendekatkan nasi ke depan si Ujang. Si Ujang yang memang sudah lapar langsung menyantap makanan yang ada di depannya.</p>
<p>&#8220;Kenapa Emak nggak sekolah?&#8221; tanya si Ujang sambil mengunyah nasi plus tempe.</p>
<p>&#8220;Orang tua Emak nggak punya uang, jadi Emak nggak bisa sekolah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ujang bakal sekolah nggak?&#8221; kata si Ujang sambil menatap mata si Emak penuh harap.</p>
<p>Emak agak bingung menjawab pertanyaan si Ujang. Lamunan Emak menerawang mengingat kembali mendiang suaminya, yang telah mendahuluinya. Mata si Emak mulai berkaca-kaca. Karena gelapnya malam, si Ujang tidak melihat butiran bening yang mulai menuruni pipi wanita yang dipanggil Emak tersebut. Karena tak kunjung dijawab, si Ujang bertanya lagi</p>
<p>&#8220;Kalau Ujang nggak sekolah, nanti kayak Emak lagi dong. Iya kan Mak?&#8221;</p>
<p>Pertanyaan Ujang makin menyesakan dada si Emak. Siapa yang ingin punya anak menjadi pengemis, tetapi si Emak bingung harus berbuat apa. Si Emak cuma melanjutkan menghabiskan nasi sambil menahan tangisnya. Akhirnya si Ujang pun diam sambil mengunyah nasi yang tinggal sedikit lagi. Deru mesin mobil menemani dua insan di pinggir jalan yang sedang menikmati rezeki Allah SWT yang mereka dapatkan. Diterangi lampu jalan mereka pun mulai berbenah untuk merebahkan diri. Di kepala si Ujang masih penuh tanda tanya, mau jadi apa dia kelak. Apakah akan sama seperti Emaknya saat ini?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.motivasi-islami.com/kenapa-tidak-punya-mobil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
