Kisah Dua Tukang Sol (bag 6): Arti Sebuah Harapan

Ini akan kisah kelanjutan dari serial Kisah Dua Tukang Sol. Dalam episode ini, mang Udin mengajarkan apa arti sebuah harapan kepada sahabat lamanya. Sahabat lamanya ini, tidak memiliki harapan yang tinggi, sehingga kehidupannya tidak pernah beranjak.

Bagi Anda yang belum membaca cerita sebelumnya, silahkan sempatkan dulu membaca.

Arti Sebuah Harapan

kisah dua tukang sol

“Mang Nanang?”, tanya mang Udin saat keluar rumah menuju masjid untuk shalat dzuhur.

“Eh, ternyata Udin.” jawab mang Nanang sambil tersenyum menghentikan langkahnya, sementara pikulan sol masih ada di pundaknya.

“Mau ke mana kang Udin teh?”, tanya meng Udin.

“Mau ke Masjid mang.” Jawab mang Udin.

“Oooh, ada acara apa di Masjid?” tanya mang Nanang.

“Biasa mang, shalat dzuhur berjamaah. Sekalian yuk. Pikulannya simpan di sini saja.”, ajak mang Udin.

“Eee, bo bo leh. Kebetulan sekalian istirahat.” jawab mang Nanang agak gugup.

Akhirnya mereka pergi ke masjid yang tidak jauh dari rumah mang Udin. Setelah shalat, mang Udin mempersilahkan mang Nanang masuk ke rumah.

Mang Nanang adalah teman mang Udin saat masih keliling menjajakan jasa sol sepatu. Mang Nanang juga kenal dengan bang Soleh. Tidak ada yang tidak kenal bang Soleh karena dikenal sering membanti sesama tukang sol. Sementara mang Udin sering dikaitkan dengan bang Soleh karena keduanya kini sudah maju.

Seperti pada cerita sebelumnya, bang Soleh sudah mengelola service sepatu profesional di sebuah mall ternama. Sementara bang Udin merintis usaha pembuatan sepatu custom kerja sama Yoga, salah seorang pelanggannya. Sementara mang Nanang, diusia menginjak kepala 6 masih keliling menjajakan jasa solnya.

“Mang Nanang, kita makan siang dulu yuk. Pasti belum kan?” ajak mang Udin.

“Ah tidak usah ngerepotin, sudah diijinkan duduk dan minum saja sudah alhamdulillah.” jawab mang Nanang malu-malu.

“Tidak merepotkan mang, kebetulan saya juga mau makan. Sudah disiapkan sama istri saya. Masih ingat Yanti kan?”

“Ah jadi nggak enak. Tentu saja ingat Yanti.” jawab mang Nanang sambil melangkah mengikuti mang Udin ke ruang makan.

“Perasaan rumah kang Udin bukan disini dulu.” kata mang Nanang.

“Betul mang, dulu sebelah sana. Ngontraknya nggak dilanjutin, jadi sekarang ngontrak disini.” jawab Yanti sambil menyiapkan makan untuk suaminya.

“Ooh, pantesan. Rumah ini lebih besar dan lebih nyaman. Bagus-bagus, mamang ikut senang dengan kemajuan kamu Din, juga bang Soleh.” kata mang Nanang sambil memasukan nasih ke piringnya.

“Gimana kabar bang Soleh?” tanya mang Nanang.

“Alhamdulillah, minggu kemarin saya main ke rumahnya mang. Bang Soleh sehat-sehat saja. Usahanya maju.” jelas mang Udin.

“Kalian beruntung, tidak seperti mamang. Sudah hampir 30 tahun masih saja mikul dan keliling. Mungkin sudah nasib mamang sampai mati seperti ini.” jawab mang Nanang.

“Ah kata siapa mang? Belum saja mungkin.” jawab mang Udin.

“Yah .. lihat saja kalian. Baru beberapa tahun keliling sudah pada sukses. Mamang sudah hampir 30 tahun masih gini. Kalau bukan takdir, apa coba?” jelas mang Nanang agak meratapi hidupnya.

“Memangnya apa yang diharapkan mang Nanang setiap pergi keliling?” tanya mang Udin sambil tersenyum.

“Yah, mamang mah tidak muluk-muluk. Yang penting istri dan anak-anak bisa makan dan punya bekal ke sekolah.” jawab mang Nanang dengan nada suara agar turun.

“Selama ini bagaimana mang? Apakah harapan mang Nanang terpenuhi?” tanya mang Udin.

“Alhamdulillah Din, untuk urusan itu sich. Meski pun kadang kurang, kadang lebih.” jelas mang Nanang.

“Artinya selama 30 tahun keluarga mamang bisa makan? Anak-anak bisa pergi ke sekolah?” tanya mang Udin.

“Alhamdulillah.” jawab mang Nanang sambil sambil melanjutkan makan dan diselingi pembicaraan ringan sambil sesekali bercanda dan gelak tawa pun terdengar.

Selesai makan mereka duduk di kursi ruang depan sambil ditemani teh.

“Nah, bukankah itu nikmat Allah mang. Selama hampir 30 tahun Allah memberikan apa yang mamang harapkan. Subhaanallah. Luar biasa mang.” jelas mang Udin, melanjutkan pembicaraan tadi.

Mang Nanang sontak menegakkan duduknya, kemudian menatap mang Udin. Dan, air mata pun mulai berlinang. Sejurus kemudian hanya terdiam. Dalam dadanya seperti ada gemuruh. Gemuruh penyesalan yang luar biasa.

“Mang, ada apa? Apa kata-kata saya ada yang salah? Saya mohon maaf.” kata mang Udin, kaget dengan respon mang Nanang.

“Tidak Din. Kata kata kamu tidak ada yang salah. Justru kata-kata kamu telah mengingatkan mamang akan nikmat Allah yang selalu memberi apa yang mamang harapkan. Tapi mamang tidak tahu berterima kasih. Shalat saja masih jarang-jarang.” jelas mang Nanang dan air matanya makin deras.

Mang Udin pun tidak bisa berkata-kata. Istrinya dari kejauhan memberi kode bertanya ‘ada apa’. Mang Udin hanya mengangkat bahu, belum ada jawaban pasti.

“Mamang, hanya bisa melihat kekurangan mamang saja. Padahal sudah begitu banyak nikmat yang Allah berikan ke mamang. Saya melihat kenapa orang lain hidup berkecukupan, juga kamu dan Soleh. Sementara mamang dari dulu gini-gini saja.” jelas mang Nanang sesegukan.

“Belum aja mang. Nanti saatnya tiba, mamang akan mendapatkan apa yang mamang harapkan. Bukankah kata mamang tadi, semua harapan mamang sudah terpenuhi?” jelas mang Udin menghibur.

“Sudah Din, Allah sudah memberikan harapan mamang. Mamang hanya berharap anak-anak tidak kelaparan dan bisa pergi sekolah. Dan Allah sudah memberikannya selama hampir 30 tahun.” jelas mang Nanang.

“Mamang tidak pernah berharap lebih dari itu?” tanya mang Udin.

Mang Nanang termenung… Dia pernah berharap hidup layak, punya peternakan lele. Tapi itu dulu, sekarang harapan itu sudah terkubur. Kalau pun lihat orang senang, yang ada hanya gerutu dan mempertanyakan. Kenapa saya tidak? Kenapa dia yang beruntung?

Itu saja yang ada dibenak mang Nanang selama ini. Harapan sudah dilupakan.

“Dulu pernah Din, tapi dulu sekali. Mamang menyerah bahkan hanya sekedar berharap. Memangnya kamu berharap punya bisnis buat sepatu?” tanya mang Nanang penasaran.

“Tidak juga mang Nanang. Tapi waktu itu saya berharap saya punya usaha yang lebih baik dan dengan penghasilan yang lebih besar agar bisa ngontrak di rumah yang lebih baik. Caranya saya serahkan kepada Allah. Dulu sich ingin punya service seperti bang Soleh, tapi takdir Allah saya punya bisnis buat sepatu custom.” jelas mang Udin.

“Dan Allah sudah mengambulkan harapan kamu. Kamu sering berdo’a?” tanya mang Nanang.

“Betul mang. Bang Soleh yang mengajari saya untuk mensyukuri apa yang saya dapatkan dan memohon kepada Allah.” jelas mang Udin mengenang pertemuannya dengan bang Soleh beberapa tahun yang lalu.

“Itu mungkin kesalahan mamang. Saya tidak menyukuri apa yang selama ini didapat, tidak punya harapan, dan tidak pernah meminta kepada Allah.” kata mang Nanang sambil menunduk.

“Betul mang. Sebenarnya harapan mang Nanang sudah terkabul. Hanya saja mang Nanang tidak memiliki harapan hidup lebih baik. Jika kita tidak mengharapkannya, bagaimana kita akan meminta kepada Allah, memikirkannya, dan mengusahakannya?” jelas mang Udin.

“Masih ada waktu mang.” kata mang Udin memberikan harapan.

“Mamang sudah tua, sudah terlambat.” kata mang Nanang.

“Tidak ada kata terlambat. Mamang pernah lihat KFC? Tuh, pendirinya dulu, umur 60an baru mulai bisnis ayam goreng itu. Dan sekarang sudah mendunia.” jelas mang Udin.

“Oh. Orang mana dia? Bisa nggak mamang ketemu dia?” tanya mang Nanang.

“Jangan mang, dia sudah meninggal. Lagi pula tinggalnya jauh, di Amerika sana.” jelas mang Udin sambil tersenyum.

“Ooh, ….. koq kamu tau Din?” tanya mang Nanang.

“Tau dari buku. Saya dipinjamin Yoga beberapa buku wirausaha. Di salah satu buku itu ada cerita tentang Kol Sander, pendidi KFC itu.” jelas mang Udin.

“Jadi mamang masih bisa ya kalau mau seperti kamu?” tanya mang Nanang.

“Bisa mang, In syaa Allah. Tapi tidak perlu seperti saya. Yang penting apa harapan dan keinginan mang Nanang.” jelas mang Udin.

“Mamang mau pikirkan dulu. Tapi hati kecil, masih ingin punya ternak lele. Apa masih mungkin?” tanya mang Nanang.

“Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah. Mintalah kepada Allah dan yakin Allah akan memberikannya seperti Allah memberikan harapan mamang selama ini.” jelas mang Udin.

Mang Nanang manggut-manggut, ada secercah cahaya keluar dari wajah.

“Tapi mohon maaf mang, kalau saya sok tau dan sok nasihat mamang. Mohon maaf kalau saya tidak sopan.” kata mang Udin.

“Tidak apa-apa. Ilmu mah tidak tidak mengenal usia. Justru mamang bersyukur bisa ketemu kamu. Sudah dapat makan, dapat tempat berteduh, dan yang jauh lebih penting, kamu sudah menyadarkan mamang dan memberi ilmu baru.” jelas mang Nanang, sekarang tampak cerita.

“Mamang pamit dulu. Bilang ke Yanti, terima kasih atas makan dan minumnya.” kata mang Nanang pamit. Sambil mengambil pikulan dan terus keluar menerjang panasnya terik mata hari. Terlihat dari langkahnya, sekarang penuh semangat.

“Mudah-mudahan, hidupnya akan lebih baik ya kang.” kata Yanti yang tiba-tiba ada di samping mang Udin.

“Mudah-mudahan, amin. Kita do’akan. Juga semoga kita pun akan lebih baik.” jawab mang Udin.

Follow Me

Rahmat Mr. Power

Author at Zona Sukses
Penulis atau Author berbagai produk Pengembangan Diri: Berpikir Positif, Percaya Diri, Kreativitas, Produktivitas, Motivasi, dan Bisnis selengkapnya http://www.zonasukses.com/gold.php
Follow Me
zona sukses

Mungkin Anda Suka Artikel Lainnya:

Kerja di Rumah

↑ Grab this Headline Animator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WordPress Anti-Spam by WP-SpamShield