Mau Denger MP3 Kata-kata Mutiara? Klik disini!
Powered by MaxBlogPress  

Ahlan wa sahlan ya Ramadhan

Meraih Sukses dengan Cepat

Kemana pun kita pergi, sejauh apa pun kita, selalu diawali dengan satu langkah, kemudian dikuti oleh langkah-langkah berikutnya. Kita tidak bisa hanya dengan mengejapkan mata, langsung sampai kepada tujuan. Pepatah mengatakan, perjalanan 100 mil itu dimulai dengan satu langkah. Lalu mengapa kita harus tergesa-gesa? Bukankah sudah sunatullah segala sesuatu diraih dengan cara bertahap?

Sementara saat ini orang lebih suka kepada hal yang instan, serba cepat termasuk meraih sukses. Padahal justru dengan keinginan untuk mendapatkan sesuatu yang instan, malah akan memperpanjang angan-angan. Hidupnya bukan diisi dengan kerja keras untuk meraih sukses, tetapi diisi dengan mengkhayalkan suatu cara yang bisa dilakukan dengan cepat.

Sebenarnya ada cara yang bisa kita lakukan untuk mempercepat jalan menuju sukses dengan memanfaatkan akal dan hikmah yang kita miliki. Harus ada keseimbangan antara meraih sesuatu yang real sambil menggunakan akal untuk mencari cara yang lebih cepat. Jangan salah satu, tetapi keduanya harus kita jalani. Sambil mencari cara mempercepat sukses kita, kita tetap melakukan sesuatu yang nyata.

Cara yang kedua ialah dengan memanfaatkan hikmah yang kita miliki, baik hikmah dari pengalaman diri sendiri maupun hikmah dari pengalaman orang lain. Dari hikmah yang kita miliki kita bisa mendapatkan pelajaran, cara apa yang benar dan cara apa yang salah. Sehingga kita tidak akan membuang-buang waktu mencoba berbagai cara, sebab kita sudah mengetahui cara mana yang benar.

Apakah Anda akan pergi ke Mekah dengan menunggang unta? Cara ketiga ialah gunakanlah teknologi, teknologi bisa mempercepat perjalanan kita. Dulu, saat orang Indonesia akan menunaikan ibadah haji harus memakan waktu berbulan-bulan, tetapi dengan ada teknologi, kita bisa menunaikan ibadah haji dengan waktu yang sangat singkat. Jadi gunakan teknologi untuk mempercepat kita dalam meraih sukses.

Cara ke empat, berlarilah menuju Allah. Maksudnya kita harus mendekatkan diri segera kepada Allah, sebab jika kita mendekatkan diri kepada Allah, Allah akan menghampiri kita dengan cara yang lebih cepat. Seperti dalam suatu hadits qudsi,

Barangsiapa mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sedepa. Barangsiapa mendekat kepada-Ku sedepa, Aku mendekat kepadanya selengan. Barang siapa datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku datang kepadanya dengan berlari-lari kecil.” (HR Bukhari Muslim)

Share This Post

Jika Sudah Sukses, Lalu Apa?

Saat ini mungkin kita sedang mengejar sesuatu yang disebut dengan sukses. Kita mengeluarkan segala upaya, pikiran, tenaga, modal, penderitaan, dan sebagainya demi sebuah kata sukses. OK, silahkan lanjutkan! Tetapi pernahkan Anda bertanya, jika sudah sukses, lalu apa? Apakah kita tinggal menikmati sukses kita sambil berpangku tangan?

Jika kita sudah sukses, raihlah sukses yang lebih tinggi lagi atau raihlah keberhasilan yang lainnya. Jangan pernah merasa lebih puas, bisa saja kita sudah merasa sukses padahal kita belum ada apa-apanya dibanding orang lain. Bisa saja kita sudah merasa sukses padahal masih banyak umat yang masih perlu kita bantu dan ternyata keberhasilan kita masih belum cukup untuk membantu mereka. Jadi kejarlah sukses Anda berikutnya.

Sukses yang pernah kita raih, dapat menjadi landasan untuk sukses berikutnya. Anggaplah saat ini Anda sukses membangun bisnis yang selama ini Anda impi-impikan. Maka Anda sudah memiliki landasan untuk membangun bisnis yang lebih besar, Anda sudah punya aliran dana dan pengalaman membangun bisnis yang berhasil. Anda memiliki peluang lebih besar dibanding teman Anda yang belum memiliki keberhasilan.

Sukses yang sudah Anda raih saat ini, akan membuat Anda lebih percaya diri untuk meraih keberhasilan lainnya. Manfaatkanlah rasa percaya diri ini. Percaya diri adalah modal yang sangat berarti dalam meraih sukses-sukses lainnya. Sukses Anda saat ini seperti sebuah lantai, tetapi masih ada lantai-lantai lain di atas lantai dimana Anda berada. Jika Anda sudah ada dilantai 2, maka akan lebih mudah mencapai lantai 3 dibanding orang lain yang masih di lantai 1. Jadi manfaatkanlah sukses Anda saat ini untuk meraih sukses yang lebih tinggi lagi.

Mungkin sukses Anda saat ini baru milik Anda dengan keluarga. Mengapa tidak membagikan keberhasilan Anda dengan orang lain. Anda dapat memberikan ikan atau pancing kepada orang lain untuk mendapatkan ikan. Keduanya baik, tetapi jangan hanya salah satu. Memberikan ikan kepada orang lain dikhawatirkan membuat mereka akan terus tergantung kepada kita, buatlah orang yang ada beri menjadi ikut mandiri dan sukses seperti Anda dengan memberikan pancing, sehingga dia mampu memancing ikan sendiri. Memberikan pancing, dikhawatirkan, dia perlu makan saat ini juga. Jadi berikanlah keduanya, ikan untuk saat ini dan pancing agar dia bisa mendapatkan ikan sendiri.

Dan yang terpenting ialah kita harus mensyukuri keberhasilan kita. Syukur akan membuat rezeki kita berkah yaitu suci dan akan bertambah terus. Meski kita yang seolah-olah kerja keras, tetapi pada hakikatnya keberhasilan kita atas ijin dan kehendak Allah SWT. Jadi, jangan pernah, jangan pernah, jangan pernah, lupa untuk mensyukuri keberhasilan kita. walau sekecil apa pun.

Share This Post

Orang Biasa yang Luar Biasa

Biasa diartikan sebagai sediakala (yang sudah-sudah, tidak menyalahi adat, tidak aneh). Orang biasa berarti orang kebanyakan. Dialah manusia yang berperilaku ‘apa adanya’ sesuai dengan tuntutan-Nya dan Rasulnya.

Orang biasa merupakan orang yang tidak mempersulit dirinya sendiri. Yakni dengan tidak mempergunakan seribu (bahasa) topeng semata-mata dalam hidupnya. Dan percayalah, sesungguhnya orang yang memperbudak dirinya –dengan topeng kehidupan–, maka ia akan diselimuti ketidak puasan hati, ketidak tentraman, kebingungan, ketakutan, dan kesunyian.

Namun, keberadaan topeng dalam kehidupan ini tentu masih ‘diperlukan’ bagi orang kebanyakan (baca: orang biasa). Baginya, topeng adalah hanya sebagai sarana untuk menjalankan perintah-Nya dan selalu mendekatkan diri, lagi tidak mempersekutukan-Nya. Singkatnya, ia tidak terpedaya oleh topeng yang digunakannya. Apalagi sampai enggan untuk menanggalkannya. Yang akhirnya, dapat menjauhkan dari predikat jadi orang biasa, karena kepura-puraan (topeng) itu telah memperdayanya. Naudzubillah min dzalik.

Betapa enaknya, jadi orang biasa. Pribadinya akan terasa senang (pada perasaan lidah, badan dan atau hati); sedap; nyaman dalam setiap menjalankan misi kehidupan di dunia yang fana ini. Dalam hal ini, Allah SWT menjelaskan bahwa Nabi Muhammad saw sendiri adalah manusia biasa. Katakanlah: “Bahwasannya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasannya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-(Nya), ….” (QS. Fushshilat: 6-8).

Orang Berilmu
Orang berilmu berarti orang yang banyak ilmunya; berpengetahuan; pandai. Dengan ilmu, seseorang akan diberi cahaya dalam hidupnya. Ilmu laksana obor dalam kegelapan. Di sinilah, pentingnya ilmu dalam hidup manusia. Sehingga, pantas saja Rasulullah saw bersabda, “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim laki-laki dan perempuan.”

Perilaku biasa ala orang berilmu, tentu akan berbeda dengan orang yang tak berilmu. Allah berfirman, “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadillah: 11),

Imam Al Ghazali dalam Mukhtasar Ihya’ Ulumuddin, mengungkapkan bahwa derajat itu tergantung pada dekat dan jauhnya ilmu itu dari akherat (baca: ilmu agama Islam-Pen). Sebagaimana ilmu-ilmu syar’iyah mengungguli ilmu-ilmu lainnya, ilmu yang berkaitan dengan hakikat hukum-hukum syar’iyah mengungguli ilmu yang berkaitan dengan hukum-hukum dhahir. Orang yang faqih memutuskan berdasarkan dhahirnya, apakah hukumnya sah atau tidak, dan dibalik itu terdapat ilmu untuk mengetahui apakah ibadah diterima atau ditolak. Inilah perilaku biasa ala orang yang berilmu (ilmu-ilmu kesufian).

Adalah Ahmad bin Yahya berkata, “Pada suatu hari Asy Syafi’i keluar dari pasar yang menjual lampu-lampu. Kemudian kami mengikutinya. Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang mencela seorang laki-laki ahli ilmu.” Kemudian Asy-Syafi’i menoleh kepada kami seraya berkata, “Bersihkan pendengaran kalian dari mendengarkan omongan yang keji sebagaimana kalian membersihkan lidahmu dari mengucapkannya, karena pendengar itu bersekutu dengan orang yang mengucapkannya.”

Lebih jauh dari itu, biasa ala orang berilmu, maka ia akan memposisikan ilmunya semata-mata hanya dari Allah. Dan semakin banyak mereka menimba ilmu, hati kecilnya akan berkata, “Maha Besar ilmu Allah itu!” Hal ini seperti terungkap dalam QS. Al Israa’: 60, “…. Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia ….”

Jadi, biasa ala orang berilmu, ia tidak akan menjadi sombong, riya dan takabur dengan ilmu yang dimilikinya. Tapi, justru akan berusaha mengamalkan ilmunya dan sebagai sarana berbuat baik kepada sebanyak-banyaknya manusia.

Asy-Syafi’i berkata, “Seorang bijak menulis surat kepada seorang bijak.” Ia berkata, “Engkau telah diberi ilmu, maka jangan kotori ilmumu dengan kegelapan dosa-dosa sehingga engkau tetap dalam kegelapan disaat ahli ilmu diterangi oleh cahaya ilmu mereka.”

Secara demikian, biasa ala orang berilmu akan membatasi dirinya dalam memberikan informasi dengan cara tidak menyampaikan sesuatu di luar jangkauan akal lawan bicaranya. Hal ini seirama dengan sabda Rasulullah saw, “Kami –para Nabi—diperintahkan agar memperlakukan manusia sesuai dengan kedudukannya dan berbicara kepada mereka sesuai dengan kemampuan akalnya,” dan “Apabila seseorang itu berbicara dengan orang lain dengan bahan pembicaraan yang berada diluar kemampuan akalnya berarti ia telah menyebarkan fitnah kepada sesamanya.”

Dalam bahasa lain, Imam Malik bin Anas mengungkapkan, “Tidak pantas bagi seseorang alim berbicara tentang sesuatu ilmu di hadapan orang yang tidak mampu memikirkannya, sebab yang demikian itu sama artinya dengan merendahkan dan menghinakan derajat ilmu itu sendiri.”

Sesungguhnya orang-orang berilmu tidak akan memuji-muji dirinya sendiri, karena apabila seseorang telah memuji-muji dirinya, maka lenyaplah wibawanya. Ilmu itu bukanlah diukur dari banyaknya riwayat yang disampaikan seseorang, tetapi ia merupakan cahaya yang ditempatkan Allah dalam kalbunya. Betapa enaknya, bila kita mampu bersikap biasa ala orang berilmu seperti itu!

Akhirnya, kita berdoa kepada Allah SWT agar selalu dijauhkan dan dilindungi dari setiap tipu muslihat aksesoris dunia (seperti ilmu, harta, jabatan, gelar, dll) yang dapat menyesatkan hidup kita di dunia, lebih-lebih ia dapat menjadi bahan pemberat timbangan keterpurukan hidup kita di akherat kelak. Amin. Wallahu’alam.***

Arda Dinata, adalah praktisi kesehatan, pengusaha inspirasi, pembicara, trainer, dan motivator di Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.
E-mail: arda.dinata@gmail.com
Hp. 081.320.476048.
http://www.miqra.blogspot.com

Share This Post

Membina Diri

Hal yang paling pokok dalam pengembangan diri ialah adanya usaha dalam membina diri. Kita perlu membina diri sendiri ke arah yang lebih baik. Justu membina diri sendiri jauh lebih penting ketimbang kita menunggu dibina oleh orang lain. Kehadiran diri orang lain hanya sebagai pelangkap agar kita bisa mengambil hikmah dari orang lain.

Berikut adalah sarana-sarana yang bisa kita gunakan dalam rangka membina diri atau dalam bahasa Arab disebut dengan Tarbiyah Dzatiyah.Sarana-sarana tarbiyah dzatiyah banyak sekali, diantaranya :

Muhasabah (Evaluasi)
Dalam mentarbiyah diri sendiri, seorang Muslim yang serius dikenal bersungguh-sungguh dalam melakukan muhasabah terhadap dirinya dari waktu ke waktu dan memeriksa isi kehidupannya, agar ia tahu pikiran-pikiran benar apa saja yang ia bawa, lalu ia kembangkan. Amal-amal baik apa saja yang ada padanya, lalu ia konsisten mengerjakannya. Dan apa saja titik-titik lemah dan kemaksiatan di aspek ilmiah dan amal, lalu ia menjauhinya.

Taubat Dari Segala Dosa
Dosa dan maksiat termasuk sebab terbesar terputusnya hati dari Allah Ta’ala, kelemahan, ketidakberdayaannya menginginkan kebaikan dan amal shalih, gagal mengerjakannya. Dan gagal mengerjakannya secara permanen. Bukti konkrit masalah ini ialah ketidakmampuan orang Muslim pelaku maksiat untuk mentarbiyah diri sendiri, dengan tarbiyah iman dan ilmiah secara sempurna. Anjuran bertaubat, Allah Ta’ala berfirman :

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. At-Tahrim: 8)

Mencari Ilmu Dan Memperluas Wawasan
Ilmu yang menunjang Tarbiyah Dzatiyah ialah ilmu syar’i yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW, dan pemahaman salafush shalih, yang menghasilkan ketakwaan kepada Allah Ta’ala, perasaan selalu diawasi-Nya, menunjukkan kepada ketaatan kepada-Nya, mengetahui batasan-batasan dan hukum-hukum-Nya, mengantarkan ke syurga, dan menjauhkan pelakunya dari neraka.

Mengerjakan Amalan-Amalan Iman
Cara ini merupakan:

  • Sarana yang paling bervariatif.
  • Realisasi konkrit perintah-perintah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.
  • Ujian dalam mencari petunjuk dan istiqamah.
  • Bukti kuat keinginan ikhlas orang dalam mentarbiyah dirinya dan memperbaikinya.

Sarana dalam mengerjakan amalan-amalan iman, diantaranya:

  1. Mengerjakan ibadah-ibadah wajib seoptimal mungkin.
  2. Meningkatkan porsi ibadah-ibadah sunnah.
  3. Peduli dengan ibadah dzikir

Memperhatikan Aspek Akhlak (Moral)
Seorang Muslim harus mentarbiyah dirinya di atas akhlak yang dianjurkan agama kita yang agung, misalnya tahan bantingan, sabar, cinta, tawadlu’, dermawan, jujur, amanah, adil, sabar atas gangguan, berbakti kepada orang tua, menyambung hubungan kekerabatan, hormat pada orang dewasa, menyayangi anak kecil, membantu orang yang membutuhkan, orang fakir dan orang yang terdzalimi, agar setiap orang di masyarakat Muslim dapat hidup dalam nuansa cinta, kasih sayang, hubungan yang diliputi kebahagiaan dan keserasian, saling mempercayai, hormat, saling menyayangi dan sepenanggungan.

Terlibat Dalam Aktivitas Dakwah
Dalam surat Al-Ashr menyebutkan bahwa orang-orang yang tidak merugi di akhirat ialah orang-orang yang mempunyai empat sifat, yaitu beriman kepada Allah Ta’ala, beramal shalih, saling berwasiat dalam kebenaran dan saling berwasiat untuk sabar. Hal ini dapat terealisir dengan menunaikan kewajiban berdakwah di jalan Allah Ta’ala, amar ma’ruf nahi munkar, dalam suasana cinta dan ukhuwah karena Allah Ta’ala.

Mujahadah (Jihad)

  • Sabar adalah bekal mujahadah.
  • Sumber keinginan.
  • Bertahap dalam melakukan mujahadah,
  • Jadilah orang yang tidak lalai (selalu dalam keadaan terjaga).
  • Dapat mengambil manfaat dari Mujahadah.
  • Berdo’a dengan jujur kepada Allah Ta’ala

Sumber:
Judul buku : Tarbiyah Dzatiyah
Pengarang : Abdullah bin Abdul Aziz Al-Aidan
Penerjemah : Fadhli Bahri, Lc
Penerbit : An Nadwah, 2002

Share This Post